Tuesday, August 30, 2011

Bener Gak Harga Emas pada Keseimbangan Baru?



APA BENAR HARGA EMAS SUDAH PADA KESEIMBANGAN BARU?

Itulah sebuah pertanyaan yang menjadi perhatian banyak investor. Grafik diatas, berasal dari sumber yang sama dengan sumber grafik di tulisan gaffar (dibawah). Pada dasarnya grafik itu membandingkan antara harga emas dan nasdaq financial. Kalo diperhatikan secara seksama, kedua kurva seperti saling bercermin satu sama lainnya semenjak Desember 2010. Apakah artinya?

Kemungkinan arti dari kondisi tersebut adalah "lari"nya modal dari pasar uang menuju ke emas. Yang kemungkinan besar diakibatkan oleh meningkatnya risiko menanam modal di pasar uang.

Apa hubungannya dengan keseimbangan harga emas?

Apabila risiko di pasar uang kembali menurun maka tidak tertutup kemungkinan harga emas akan kembali ke posisi semula. Yang artinya tidak ada keseimbangan baru untuk harga emas atau harga emas saat ini hanyalah bersifat sementara saja.

Apakah mungkin harga emas tetap meningkat tanpa dipengaruhi oleh membaiknya risiko di pasar uang? Iya bisa juga. Hal ini bisa terjadi apabila kredibilitas pemerintah dunia meningkat kembali... Apakah hal itu akan terjadi? Yes but don't know when..

Jadi, perlukah kita invest rame-rame di emas?

Jawabnya, just be yourself.. gak perlu terpengaruh oleh perilaku para pemilik modal yang lagi pada beli emas. Kalo memang lagi mau invest silakan aja... tapi gak perlu berpikir bahwa emas adalah pembuat kamu akan lebih kaya lagi... mungkin benar di jangka pendek tapi belum tentu di jangka panjang..


Akhir kata.. Selamat Idul Fitri bagi para pembaca semua. Mohon maaf lahir dan Bathin. Tingkatkan terus berpikir rasional dan pengetahuan ekonomi kita secara bersama-sama. Salam.

Monday, August 22, 2011

Gold for Glory, Really?


(Gold Price, check for the latest here)

Nowadays, I think we must keep our eyes on gold price since it has risen dramatically at the beginning of July 2011. It’s a good chance to invest our money in gold for the sake of don’t-put-your-eggs-in-one basket amid the uncertainty of global market. As you guys have already known, Standard & Poor’s downgraded the U.S.’s AAA credit rating for the first time (here), at the same time debt crisis still gives impact to the stock market in Europe (here). Moreover, CNBC said that Asia will end sharply lower on recession fears (here). Hmmm, due to gold price is too high now (but some people say it’s never too late to buy gold), maybe it’d be better if I decide to enter the stock market among others getting cut-loss. What about you guys?

Wednesday, July 20, 2011

econometrics of life

Making big decisions in life is sometimes require courage, particularly if it will affect our life in long term (e.g. Choosing education, career). It may be different than short term, daily decisions, which outcome will cointegrate in the long term. If errors exist, we can simply hope that it will back to normal tomorrow, and offset today's bad experience. If dynamic forecasting is too risky, we can simply use static projections, by updating the data and reestimate the model frequently.
In econometrics, short term forecasting is often fit well by simple autoregressive models, that only require historical data of variable projected. But for long term, advanced theory and more complex methods are often required. we also have to use many exogenous and instrumental variables, together with assumptions and scenarios. Therefore, it require much more information.
So what it has to be in the real life? To choose a career, we have to collect large scale of historical information about story of others, including exogenous variables such as particular individual characteristics, and control variables such as social acceptance and support. We have to make assumptions or scenarios to set values of exogenous shocks. Indeed, once assumptions are flawed or scenario we choose is misleading, we will face unexpected future. Nevertheless, information between sets of choices are often unbalanced.
Suppose there are two long term choices, let's consider them equivalent to long maturity assets that have very high transaction costs. One has sufficient number of observations and known exogenous data, while the other has not, but shows higher return in that small number of observations. Which asset should we choose?

Sunday, May 8, 2011

Hingar Bingar KTT

Saudara-saudara di pelosok Indonesia mungkin tidak se-aware saya dan orang-orang yang tinggal di Jakarta. Minggu ini adalah momen penting bagi ASEAN dan Indonesia, karena KKT ASEAN ke-18 diselenggarakan di Jakarta. Tampak fisik yang kita lihat dan rasakan mungkin secara sederhana adalah jalan sudirman-thamrin ditutup sesaat ketika para leaders ASEAN sedang lewat. Selain itu, komplek senayan yang tidak bebas keluar masuk krn penjagaannya yang super ketat, bahkan termasuk di hari minggu yang biasanya senayan rame oleh orang-orang yang mau olahraga, tetapi jadi tidak bisa demi penjagaan keamanan.

Tetapi pertanyaan selalu muncul tentang, APAKAH GUNANYA MEMBUAT SEBUAH KTT?

ada golongan yang optimis, ada pesimis dan ada yang netral..

Optimis bilang, ini adalah cara untuk bertemu berkomunikasi dan menyelesaikan masalah serta mengatur rencana kedepan. Pesimis bilang KTT cuma buang uang saja dan hanya memberi kemewahan untuk para peserta KTT. Netral berpikir untuk tidak ambil pikir mengenai KTT yang penting "life goes on" aja.

terserah Anda mau berpikir bagaimana tentang KTT, yang pasti semua yang terlibat di KTT bukan untuk senang-senang dan semoga hasilnya bisa dipakai untuk kemajuan kehidupan masyarakat.

Tuesday, December 21, 2010

Indonesia, 1 Jan 2011

Indonesia will start chairing the ASEAN countries from 1 Jan 2011 until a year ahead. Serving as the leader of south-east Asias certainly gives the country "power" to manage the vision and mission of economic, politics and cultural goals of the region. Moreover, under the current global condition, the chairmanship should able to coordinate member countries to put-aside, see opportunity and then take advantage.

Issues intra the region have actually already been endless matters among members. Myanmar political situation, border conflicts between Indonesia-Malaysia-Singapore, and poverty eradication in almost all the members are parts of them. So, if intra problems are a concentration absorber, how can this cooperation has time and mind to answer global challenges?

Strategically, If ASEAN want to take advantage over current global condition, it must start with economic self sustainability. ASEAN market is huge market, maybe one of the big five in the world. Sustainability would be formed if intra production and consumption in the region have reached more than 50%. Moreover, intra-industry trade relation must also reach over 80%. Most importantly, inter-regional investment must increase in steady growth toward a border-less investment activity among members.

I think, the practical measure for this is when ASEAN citizen proudly answer question about their nationality by saying "I am an ASEANese". So, conclusively speaking, Mr. Chairman has so much work to do, although so little time to spend. Congratulation for Indonesia, and hope best for the leadership next year.

Thursday, November 25, 2010

back from dormant conditon 2

The Dynamics and The Role of Government

Memang jalanan Jakarta sangat ramah dengan orang-orang yang gemar melamun seperti saya. Saya tidak diberi kesempatan untuk melepaskan diri dari hobby ini selama masih tinggal di Jakarta. Apalagi kalau hari sedang hujan, saya diberikan keleluasaan yang optimal untuk melamun.

Lamunan saya masih seputar tulisan sebelumnya mengenai vegetarianism. Bagi pembaca budiman yang bosan, saya ijinkan untuk membaca postingan lain di Blog ini yang tentunya lebih berkualitas dan berbobot. Sebelumnya sekali lagi saya utarakan disini, bahwa posisi saya dalam hal vegetarianism adalah netral. Kebetulan saja lamunan saya entah mengapa selalu mengarah ke topik ini.

Recall dari tulisan terdahulu (bisa dilihat dibawah), fungsi konsumsi Mankind dalam kondisi normal adalah: XM = XPM + XHM + XIKM+ XIBM. Dengan tingkat pertumbuhan populasi M = ICM + GMN - XMN.

Mother Earth atau Planet Bumi memiliki kapasitas maksimum dalam menampung jumlah seluruh organisme hidup. Dalam set model tulisan ini, kapasitas maksimum dari Mother Earth (ME) adalah ME = P + H + C + IK + IB +M. Cukup logis apabila diasumsikan Mankind mendapatkan tampat khusus di hati ME karena kemampuan dan tingkah lakunya. Sehingga dalam memaksimumkan kapasitasnya, ME mengikuti fungsi:

max : ME Capacity

s.t : M dan XM

dimana M adalah fungsi pertumbuhan populasi Mankind dan XM adalah fungsi konsumsi Mankind.

Melalui derivasi dan penyelesaian menggunakan Lagrange, dapat diketahui jumlah Mankind Optimum serta jumlah Konsumsi optimumnya yang sesuai dengan ME capacity. Dalam hal ini mohon untuk tidak memaksa saya mengeluarkan hitung-hitungannya. Terus terang saya sendiri belum membuatnya. Saya hanya dapat membayangkan hasil akhirnya.

Analisa sebelumnya merupakan analisa statis. Sehingga terkesan dangkal dan kurang kontroversial. Dalam hal ini saya akan memaksa dimensi waktu untuk masuk kedalam model ‘kurang kerjaan’ ini.

Dengan memasukkan analisa waktu, modelnya menjadi sedikit rumit. Konsumsi mankind menjadi XM(t) = XPM(t) + XHM(t) + XIKM(t)+ XIBM(t). Sedangkan tingkat pertumbuhan populasi mankind menjadi M(t) = ICM(t) + GMN(t) - XMN(t). Salah satu logika yang mendasari dimasukkannya variabel waktu ini adalah adanya faktor musim. Dalam suatu rentang waktu tertentu Mankind akan mengkonsumsi katakanlah herbivore lebih banyak karena sedang turun salju. Namun bisa jadi ketika sedang musim panas, Mankind akan lebih banyak mengkonsumsi Ikan. Dengan set model demikian, fungsi optimalimasi ME menjadi

max : ME Capacity (t)

s.t : M(t) dan XM(t)

Hasilnya adalah jumlah Mankind Optimum pada time (t) dan konsumsi Mankind optimum pada time (t) yang dapat diterima oleh ME. Kemudian apa dampaknya apabila suddenly Mankind menjadi vegetarian? Fungsi optimalisasinya akan berubah menjadi

max : ME Capacity (t)

s.t : M(t) dan X’M(t)

dimana X’M(t) adalah Konsumsi Mankind dalam kondisi vegetarian.

Hasil dari derivasi dan penyelesaian fungsi lagrange-nya menjadi aneh dan tidak logis. Dalam hal ini saya menyimpulkan akan terjadi natural imbalance.

Analisa diatas bisa saja dikembangkan lagi kedalam dimensi ruang dan waktu, sehingga salah satu fungsi-nya menjadi M(it) dan XM(it). Namun penyelesaian masalah ini dengan ikhlas saya serahkan bagi siapapun yang punya waktu melamun lebih banyak dari saya.

The Role of Government

Sekarang bayangkan apabila secara serta merta hadir sebuah sindikat Mankind yang menamakan dirinya government. Sindikat Mankind ini memiliki tugas yang mulia, oleh karenanya berhak mengambil pajak dari Mankind lainnya. Government dalam hal ini mempunyai dua pilihan haluan kebijakan. Pertama adalah promote vegetarianism, kedua adalah ban vegetarianism. Government dapat menggunakan kebijakan moneter atau kebijakan fiskal untuk melakukan dua pilihan haluan kebijakan tersebut.

Apabila haluan kebijakan yang dipilih adalah promote, government dapat melakukan proyek penanaman Plant (P) secara besar-besaran atau memberikan subsidi pada P. Sedangkan untuk haluan kebijakan ban, government dapat menerapkan pajak bagi P atau subsidi bagi herbivore (H).

Karena tulisan ini sudah demikian panjang, saya akan persingkat analisanya langsung pada kesimpulan. Pada haluan kebijakan promote, hasil dari kebijakan government akan mempercepat proses “vegetarianisasi”. Dengan kata lain, government akan speed up pencapaian natural imbalance. Sedangkan untuk haluan kebijakan ban, kebijakan pajak bagi P dan subsidi bagi H akan menimbulkan lonjakan populasi pada H. Which in return akan menimbulkan natural imbalance. Either way, kebijakan government akan berujung pada natural imbalance.

Sebagai penutup dari tulisan ini, poin penting yang dapat dijadikan diskusi adalah kemunculan government yang in the end selalu menimbulkan natural imbalance. Apabila Mankind dibiarkan left alone, turn around ke fungsi konsumsi semula dapat langsung dilakukan apabila benar menjadi vegetarian akan menimbulkan natural imbalance. Sedangkan dengan adanya government, turn around tersebut bisa jadi lebih lama atau kearah lain yang juga imbalance.

Wednesday, November 24, 2010

Andai Bisa Memilih Kapan Dilahirkan

Saya cukup merasa bosan membaca buku kisah sukses seseorang, yang menurut saya "itu-itu" saja. Intinya sukses bisa diraih dengan kerja keras, dan jangan lupa diiringi dengan doa. Tidak beda dengan nasihat klasik yang sering kita dengar waktu kecil hingga remaja.


Buku kisah sukses alih-alih membangun optimisme, belum saja buku rampung dibaca kita terkadang memutuskan berhenti karena tak mampu lagi menampung alkisah Si Sukses yang terjebak narsisme. Namun dalam buku Outliers kisah sukses dibungkus secara lain oleh seorang Malcolm Gladwell. Ia mampu mengambil angle lain dalam bertutur mengenai bagaimana sebuah kesuksesan diraih.



Gladwell mampu mempertautkan bagaimana seseorang dilahirkan pada suatu generasi, latar belakang keluarga, budaya hingga kelas sosial. Belum lagi faktor coincidence yang tidak dapat dilepaskan pada perjalanan hidup seseorang dalam meniti jejak menunju kesuksesan.



Siapa mengira daftar pemain hoki liga junior di Kanada beserta posisi pemain di lapangan dan tanggal kelahiran mampu bercerita lain. Orang awam mungkin melihat daftar tersebut tak jauh beda dengan sebuah daftar biodata singkat biasa. Namun Gladwell mampu menangkap hal berbeda. 40% pemain hoki yang mumpuni lahir sekitar Januari-Maret, 30% antara April-Juni, dan sisanya antara Juli-September.



Ternyata sistem rekrutmen pemain hoki yang membatasi usia minimum 9 tahun di bulan Maret memberikan kesempatan lebih bagi mereka yang lahir antara Januari-Maret. Mereka yang lahir bulan April terpaksa harus gigit jari karena selisih satu bulan umur mereka untuk mencapai batas minimal 9 tahun. Dan terpaksa harus menunggu tahun berikutnya untuk mengikuti rekrutmen yang sama. Proses menunggu selama setahun inilah yang membuat gap kemampuan dengan rekan-rekan mereka yang berhasil masuk liga menjadi semakin besar. Bagi mereka yang masuk liga, tentu membuat mereka memiliki pengalaman lebih dengan latihan rutin, jam tanding lebih banyak, dan mental lebih matang. Tak ayal jika daftar pemain hoki dominan diwarnai oleh mereka yang lahir sepanjang Januari hingga Maret.



Tak cukup sampai di situ, Gladwell kembali mengungkapkan list orang-orang terkaya selama sejarah umat manusia. Pada tahun 1880an tertulis John Rockefeller, Andrew Carnegie, F. Weyerhaeuser, Marshald Field, Henry Rogers dan JP Morgan. Mereka lahir di 1830an. Pada saat usia mereka cukup matang, mereka memasuki sebuah dunia yang sudah berbeda. Pada 1860an rel kereta api pertama dibangun di Amerika, dan 1870an Wall Street didirikan. Zaman ini mobilisasi menjadi lebih mudah, dan pasar modal belum cukup banyak orang yang berkecimpung di dalamnya. Mereka mampu meraih sukses sekali lagi keberuntungan dilahirkan pada tahun yang tepat, di saat usia dewasa dihadapkan pada sebuah kesempatan yang mampu membawa mereka mencapai kesuksesan.



Jika saja mereka lahir di akhir tahun 1840an, mungkin ketika mereka dewasa kesempatan-kesempatan yang ada sudah ditapaki oleh generasi sebelumnya. Lalu bagaimana bagi mereka yang lebih tua? Jika lahir di awal 1880an, mereka terlalu tua untuk berkecimpung di pasar modal, cara pandang mereka sudah terlampau terkontaminasi akibat dampak Perang Saudara yang berkepanjangan.



Selanjutnya, tentu kita mengenal Bill Gates, Paul Allen dan Steve Ballmer yang sukses dengan Microsoft-nya, atau Steve Jobs bersama Apple Computer, Eric Scmidt dengn Google-nya, hingga Bill Joy bersama Sun Microsystems. Mereka adalah nama-nama yang sukses mengembangan teknologi komputer dan informasi. Anda tahun kapan mereka dilahirkan? Mereka dilahirkan antara 1953-1956. Tahun yang tepat untuk dilahirkan sehingga ketika mereka dewasa, pada 1975 adalah era awal kebangkitan personal computer.



Lalu kapan kita dilahirkan? Apakah kita dilahirkan pada zaman yang tepat?

Okey, kalau Anda merasa kurang beruntung dilahirkan pada tahun dimana Anda pertama kali melihat dunia, mungkin Anda perlu membaca lebih lanjut buku Outliers ini. Masih banyak faktor-faktor lain yang diungkapkan dalam upaya meraih sukses. Jadi, benar seperti sebuah peribahasa, "Jangan salahkan ibu mengandung".

Tuesday, November 23, 2010

Eco-friendly plastic bags

Postingan Bung Luthfi sebelumnya yang sangat terkait dengan semangat greenomics, menjadi vegetarian ataupun tidak apakah memiliki imbas signifikan dalam kelestarian lingkungan memang masih menyimpan perdebatan.

Tapi bagi saya, sebuah upaya yang sangat disambut baik adalah mulai maraknya penggunaan kantung plastik yang mudah terdegradasi dalam waktu singkat. Penemuan ini tidak mudah, butuh riset cukup lama untuk menemukan "ramuan" dalam penciptaan kantong plastik ramah lingkungan ini.

Oxium menjadi salah satu pelopor dalam memproduksi plastik jenis ini (lihat di sini). Tentunya hal ini menjawab dari keresahan masih sangat bergantungnya konsumen di Indonesia dalam menggunakan kantung plastik, terutama ketika berbelanja. Plastik menjadi salah satu kontributor terbesar dalam sampah rumah tangga. Tentu ini berimplikasi pada persoalan lain, mulai dari manajemen pengelolaan sampah, hingga pencemaran lingkungan yang tidak hanya berdampak sekarang, namun juga generasi selanjutnya.

Saya rasa, menjadi vegetarian atau tidak sebagai bentuk upaya "saving or planet" hanyalah persoalan "ibadah ritual" saja. Ujung-ujungnya balik pada kebaikan bagi diri pelakunya, dampak terhadap lingkungan "wallahu a'lam". Saya lebih menghargai orang yang berfikir ke depan, salah satunya ikhtiar berinovasi melalui penemuan kantung plastik ramah lingkungan. Ini merupakan bentuk "ibadah sosial", lebih memberi kemashlahatan bagi sesuatu yang lebih besar.

Monday, November 22, 2010

Back from Dormant Condition


Are We Actually Saving Our Planet by Turning Into a Vegetarian?

Dalam perjalanan panjang di belantara jalan raya Jakarta, sebuah spanduk yang sudah usang dimakan polusi menarik perhatian saya. Di spanduk tersebut terdapat tulisan “prevent global warming by becoming a vegetarian”.

Saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh kebanyakan pengemudi di Jalanan Jakarta ketika sedang macet, namun saya pribadi biasanya menghabiskan waktu dengan melamun. Tulisan di spanduk tadi membuat lamunan saya menjadi berkualitas.

Saya membayangkan apa yang akan terjadi apabila jumlah vegetarian mengalami peningkatan. Sebelumnya perlu digarisbawahi bahwa posisi saya dalam hal “vegetarianism” ini adalah netral. Saya tidak against, namun juga tidak agree dengan konsep vegetarianism. Saya hanya mencoba meng-konkrit-kan lamunan saya menjadi sebuah bahan diskusi.

Tulisan ini tidak dibuat berdasarkan pengetahuan ilmiah dalam hal Biologi atau bidang ilmu apapun yang terkait dengan Rantai Makanan. Angle yang diambil adalah perspektif orang awam yang memiliki sedikit pengetahuan dibidang hitung-menghitung. Sehingga apabila banyak penyederhanaan yang dilakukan, semoga tidak mengurangi sense dari analisa mengenai “apakah benar Bumi akan terselamatkan apabila manusia menjadi vegetarian”.

Analisa mengenai vegetarianism akan saya mulai dari gambar rantai makanan dibawah


Gambar di atas mencoba menggambarkan rantai makanan yang terjadi dalam kehidupan di Bumi. Secara sekilas dapat diihat bahwa gambar tersebut merupakan penyederhanaan dari kondisi actual yang terjadi. Namun demikian hal ini dimaksudkan agar fokus dari tulisan ini tidak keluar dari konteks. Saya membagi rantai makanan kedalam dua bagian, kehidupan darat dan kehidupan air. Rantai makanan tersebut akan berakhir di mankind, subject tulisan ini sekaligus berstatus sebagai omnivore.

Analisa Rantai Makanan dimulai dari natural resource tanaman dan biota laut (sungai) yang berkembang biak dengan mengambil energi dari matahari. Herbivore adalah pemakan tumbuhan pada kehidupan darat, sedangkan Ikan Kecil merupakan agregasi dari segala binatang air yang memakan natural resources yang ada di laut (sungai). Pada kehidupan darat, herbivoreakan dimakan oleh carnivore, sedangkan di kehidupan air, Ikan Kecil akan dimakan oleh Ikan Besar. Ikan Besar dalam hal ini merupakan agregasi dari segala binatang air yang tidak memakan natural resources.

Tingkat pertambahan jumlah (growth) masing-masing entitas dalam gambar dinotasikan dalam persamaan yang ada di-‘dalam kurung’. Pertumbuhan jumlah tanaman P adalah ICP + GPN + GPM. Dimana: IC adalah Initial Condition, GPN adalah pertumbuhan tanaman yang secara natural terjadi dan GPM adalah pertumbuhan tanaman yang dihasilkan oleh mankind.

Terdapat satu entitas yang pertumbuhannya tidak dipengaruhi oleh aktivitas dari mankind, yaitu Ikan Besar. Dalam hal ini saya mengsumsikan bahwa tidak logis bagi mankind untuk membuka sebuah peternakan Ikan Paus atau Ikan apapun yang berukuran jumbo. GCM atau pertumbuhan carnivore oleh mankind, merupakan notasi bagi hewan peliharaan mankind seperti Anjing atau Kucing.

Notasi ‘X’ yang terdapat disetiap garis panah merupakan tingkat konsumsi oleh masing-masing entitas. Sehingga dalam hal ini XPH adalah jumlah plant yang dikonsumsi oleh herbivore, XHMadalah jumlah herbivore yang dikonsumsi oleh mankind, dan seterusnya.

Terdapat Tiga asumsi yang dianggap ceteris paribus dalam analisa ini. Pertama adalah mankind diasumsikan tidak mengkonsumsi carnivore. Kedua adalah apabila terjadi ‘kecelakaan’ yang mengakibatkan carnivore memakan mankind. Misalkan dalam perjalanan di gunung terjadi musibah mankind dimakan oleh harimau atau dalam sebuah liburan di laut ada mankind yang dimakan oleh ikan hiu. Ketiga adalah apabila terjadi bencana alam seperti kebakaran hutan atau tsunami.

Secara umum persamaan pertumbuhan dari masing-masing entitas adalah tingkat pertumbuhannya dikurangi entitas lain yang mengkonsumsinya. Sehingga dalam hal ini pertumbuhan dari entitas Plant adalah ICP + GPN + GPM - XPH - XPM - XPN. Dimana XPN adalah jumlah plant yang mati secara alamiah (natural). à P = ICP + GPN + GPM - XPH - XPM - XPN

Khusus untuk mankind tidak terdapat entitas yang mengkonsumsinya sehingga persamaan pertumbuhannya adalah M = ICM + GMN - XMN. Dimana XMN adalah jumlah Mankind yang mati secara natural.

Pola konsumsi mankind dalam menjalani kehidupannya didasari pada tiga prinsip, yaitu:

  1. Untuk kebutuhan (subsisten)
  2. Untuk Stock
  3. Untuk pengolahan (industri)

Pada kondisi yang natural mankind mengkonsumsi Plant, Herbivore dan Ikan untuk bertahan hidup. Sehingga dalam kondisi equilibrium fungsi konsumsi Mankind adalah: XPM + XHM + XIKM+ XIBM.

Jumlah dari fungsi konsumsi mankind sama dengan kebutuhan berdasarkan tiga prinsip diatas. Sehingga dalam kondisi equilibrium setiap entitas masih dapat berkembang biak karena tidak habis seluruhnya dikonsumsi oleh mankind. Setiap entitas yang dikonsumsi oleh mankind merupakan proporsi dari kapasitas maksimum mankind. Sehingga apabila mankind tidak mengkonsumsi XHM, maka proporsi konsumsi XIKM misalnya, akan meningkat sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas maksimumnya.

Kemudian apa yang akan terjadi apabila mankind menjadi vegetarian atau dalam set bahasa diatas menjadi herbivore. Secara langsung jumlah populasi Herbivore, Ikan Kecil dan Ikan Besar akan mengalami peningkatan karena tidak lagi dikonsumsi oleh mankind (XHM, XIKM, XIBM hilang dari persamaan).

Mankind akan berkompetisi dengan herbivore dalam bertahan hidup. Dalam hal ini pemenangnya jelas mankind karena keunggulannya dalam kemampuan berfikir. Jumlah herbivore yang menurun akan mengakibatkan carnivore mencari sumber makanan lain, yaitu mankind.

Sedangkan untuk kehidupan di laut. Karena tidak lagi dikonsumsi oleh mankind, maka populasi Ikan Kecil dan Ikan Besar akan meningkat. Dalam kondisi yang ekstrem, mankind tidak lagi dapat berlibur ke pantai karena sudah penuh dengan Ikan Hiu atau lainnya. Atau dapat juga diprediksi bahwa jumlah plankton menjadi berkurang karena semakin banyak yang mengkonsumsi. Sehingga terjadi gangguan dalam ekosistem Air.

Apakah kondisi demikian merupakan solusi yang masuk dalam kategori menyelamatkan Bumi?



Friday, October 8, 2010

Masa Depan Cinta 212

Seringkali kita menerawang jauh ke depan, menerka-nerka apakah yang akan terjadi kemudian. Sekali lagi masalah cinta, yang perjalanannya kadang tak seindah puisi berbait kata-kata. Yah, lagi-lagi seseorang hadir lagi, berkonsultasi masalah asmara. Memang begitulah dunia, jika rajutan asmara ini mudah diterjemahkan, mungkin sudah selesailah kehidupan dunia.

"Bang, bagaimana nasibku dengan cewekku ini Bang?" Akhhh, kau lagi, sudah berapa kali kau menggerutu masalah dunia percintaanmu dengan Abangmu yang bujang lapuk ini. Seperti tak ada masalah substansial lagi apa? Kau pikir aku ini tukang ramal? Yang bermodal kartu tarot atau membaca guratan-guratan di telapak tanganmu, lalu aku bisa membaca nasibmu? Akh, kau ini, makin hari bukan bertambah dewasa saja.

"Lalu aku mesti bagaimana Bang? Akankah aku bisa menjadi lebih baik dengan cewekku Bang?" Hmm, meski sesungguhnya tak peduli dengan urusanmu itu, tetapi Abang bisa berusaha memprediksi dirimu, tapi sayangnya hanya dalam jangka pendek.
"Jangka pendek? Maksud Abang?" Iyah, Abang tak punya informasi lengkap tentang keadaan faktor-faktor di seputar dirimu. Abang tak tahu bagaimana keluargamu, pendidikanmu selama ini, pekerjaanmu, yang kutahu hanya rupa dan kelakuanmu selama Abang kenal dirimu.

"Dengan Abang hanya tahu tentang perilaku diriku memang Abang bisa meramal keadaanku?" Yah bisa saja, kamu ini bagaikan sebuah variabel, yang bisa bergerak bak sebuah persamaan autoregressive. Ya, AR, kau tahu kan, diri kau sekarang tak lepas dengan dirimu kemarin. Masa lalu membentuk perilakumu sekarang, dan juga saat ini. Hmmm, dan bisa juga dirimu seperti rata-rata bergerak, moving average, dirimu adalah hasil dari perilaku salahmu di masa lalu, dan juga sekarang.

Jadi begitulah kita manusia ini, berdiri saat ini, hasil dari perjalanan jejak-jejak hidup kita di masa lalu, dan ratapan kesalahan (error) kita di masa lalu.

Kau tahu ARMA? "Apa itu Bang?" Yah itu, apa yang aku omongkan barusan, bahasa bekennya, prediksi ARMA. Tunggu, tunggu, tunggu..pembicaraan yang lalu, kau masih punya persoalan kan dengan kejiwaanmu yang tidak stasioner? Kalau begitu, terpaksa aku akan meramal bukan dirimu, tapi perubahan dirimu sekarang dengan waktu sebelumnya. Jadilah kita punya model peramalan bernama ARIMA. Alamak, lebih cantik nama ARIMA dibandingkan nama cewekmu itu!

"Abang sedang apa, seperti asik mengutak-ngatik sesuatu?" Aha, benar-benar beruntung kau, modelmu bak macam kapak sakti Wiro Sableng saja, 212. Kini kita punya model peramalan dirimu ARIMA (212), itu sudah yang paling mantap, tak ada lagi model lain sebagus ini.

"Lalu Bang, bagaimana nasibku 5 tahun lagi?" Apa? Lima tahun lagi? Abang saja punya rekap kelakuanmu dari bulan-bulan selama kita bertemu, sekarang macam manapula kau minta aku ramal tentang nasib asmaramu 60 bulan ke depan. Abang bisa prediksi kau 1-2 bulan ke depan saja mestinya kau sudah bersyukur.

"Lho, kenapa Bang?"
Heh, begini yah anak muda, aku ini meramal kau secara dinamis, ketika kau minta aku mengira-ngira nasib dengan waktu nun jauh ke depan, aku terpaksa menggunakan peramalanku sebelumnya. Kau tahu, ramalanku saja bisa salah, dan alangkah kesalahan itu akan berakumulasi jika aku terpaksa menggunakan hasil ramalanku yang tak jelas benar salahnya untuk meramal kembali nasibmu itu.

"Ah payah Abang ini, meramal kehidupanku dengan cewekku itu kalau 1-2 bulan lagi sih tak ada guna Bang. Aku mau menikahinya 5 tahun lagi, sekarang tabunganku belum cukup, lagian untuk makan saja masih sering minta sama Emak."

Dasar kau ini, pergi sana! Kumpulkan dulu semua informasi tentang dirimu,biarku tak hanya bergantung dengan informasi dari kelakuan dirimu saja. Terpaksa kubuang saja ARIMA (2,1,2) ini, buang-buang waktuku saja....

Thursday, October 7, 2010

Stasioneritas Cinta

Seseorang datang berbicara soal cinta, masa depan asmara, pertalian dua insan manusia.

Hati dan jiwanya sungguh tidak stasioner, kadang pola kejiwaannya memiliki kecenderungan bergerak ke atas ataupun ke bawah. Ya, jiwanya memiliki trend tertentu, kadang dengan varians yang tidak konstan.

Diriku bertanya: "Mengapa kamu seperti itu?" Dia menjawab, "Sayapun tak tahu Bang, secara eksplisit grafis saja diriku kau bisa lihat dengan jelas seperti itu."

Diriku balik bertanya: "Sudahkah kau lihat correlogram jiwamu? Atau sudahkah kamu melakukan uji unit akar?"

Dia menjawab: "Jelas sudah jiwaku yang tidak stasioner itu tergambar dalam correlogram Bang! Si Augmented Dickey-Fuller pun mengatakan demikian,bahkan dia menerima hipotesis jiwaku yang tidak stasioner." "Aku sebal dengan ADF itu, macam manapula dia menyuruhku menjadi turunan pertama atau kedua, diriku ingin tetap yang asli, apa adanya."

Hmm, tak usahlah kau menggerutu seperti itu, masalahmu sebenarnya tidak sulit-sulit amat, kau hanya butuh seseorang yang memiliki jiwa stasioner ataupun tidak stasioner.

"Kok bisa begitu Bang?" Jelas bisa, mungkin saja cewekmu sekarang bisa menangani masalah kejiwaanmu itu. Konsultasilah kamu pada Engle dan Granger, kalau kau tak mau pusing mereka-reka bentuk model jiwamu, datang saja kepada si Johansen.

"Lalu apa yang mesti kutanyakan Bang?" Tanya kepada mereka, apakah kamu dengan cewekmu itu benar-benar jodohmu yang baik, jika kamu menikahinya,kamu bisa menghasilkan kombinasi dua pasang manusia yang stasioner.

"Kok bisa begitu Bang?" Jelas bisa, kita manusia sesungguhnya diciptakan berpasang-pasangan, stasioneritas jiwamu akan tertutupi oleh stasioneritas jiwa cewekmu itu. Atau, jika cewekmu juga tidak stasioner, kegilaan kalian berdua bisa menghasilkan pasangan stasioner.

Abang tak rela jika kamu nekat begitu saja menautkan hatimu dengan cewekmu itu, tanpa kau obati atau kau siasati dulu jiwamu yang tidak stasioner itu. Ingat ya, jika kau tidak dengar perkataan Abang, kalian berdua hanya akan menghasilkan hubungan yang spurious, alias hubungan yang palsu.

"Hoo, begitu ya, baik Bang, akan saya laksanakan perintah Abang!"

Monday, September 6, 2010

Mencari Rasionalitas “Ekonomi-Perang” : Belajar dari Pengalaman Pembangunan Indonesia

Kisruh hubungan Indonesia-Malaysia lagi-lagi memanas, sepertinya selalu saja ada perseteruan yang muncul dari dua negara sesama rumpun Melayu ini. Mulai dari permasalahan pengakuan budaya Indonesia oleh Malaysia, hingga perihal masalah perbatasan. Perselisihan ini selalu saja terdapat ruang pendapat dari sebagian ranah publik yang menjurus upaya menghadapi negeri tetangga itu melalui peperangan. Di sudut publik lain berusaha untuk tetap menunjunjung upaya diplomasi menyelesaikan perseteruan tersebut.

Saya mencoba untuk mencari rasionalitas ekonomi dari sebagian pihak yang menginginkan perang “Ganyang Malaysia” tersebut. Sesungguhnya problem ini adalah problem klasik. Emil Salim pada tulisan kata sambutannya dalam buku Pengalaman Pembangunan Indonesia: Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjojo Nitisastro, Penerbit Buku Kompas, 2010 sepertinya mampu menguraikan untung-rugi “ekonomi-perang” di masa periode 1960-an yang saya kira masih relevan untuk dijadikan pelajaran saat ini.

Berikut saya kutip dari buku tersebut (lebih tepatnya saya ketik ulang):

“...Ketika Indonesia memasuki tahun enampuluhan tampaklah ekonomi secara eksponensial menderita kemunduran yang sangat mencemaskan. Indeks biaya hidup di kota Jakarta naik mencapai 100 persen per tahun antara 1962-1964 untuk kemudian “terbang” mencapai 650 persen dari Desember 1964 ke Desember 1965. Harga barang kebutuhan hidup naik setiap hari dan Indonesia terperangkap dalam spiral hyper-inflasi.

Membangun Bangsa

Sebab utama merajalelanya hyper-inflasi ini adalah tak terkendali naiknya volume uang yang didorong oleh defisit dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Antara laju kenaikan defisit anggaran dengan melesatnya volume uang terdapat korelasi yang erat. Bila secara umum 45 persen dari seluruh APBN disalurkan untuk keperluan militer, maka dampaknya tidaklah besar pada pembangunan ekonomi menaikkan volume arus barang dan jasa bagi masyarakat. Pengaruhnya pada peningkatan penerimaan negara pun tidak berarti karena kebanyakan anggaran dipakai untuk pengeluaran persiapan berperang. Maka, gabungan membesarnya defisit anggaran, arah alokasi penggunaan anggaran kejurusan tidak produktif dan naiknya volume uang mendorong kenaikan laju hyper-inflasi.

Neraca perdagangan dan jasa dalam tahun 1960-an juga menunjukkan defisit yang semakin besar. Ekspor dan impor menurun, sedangkan utang luar negeri perlu dibayar. Semua ini menggerogoti cadangan devisa dari 326,4 juta dollar AS (1960) turun secara mencolok menjadi 8,6 juta dollar AS (1965).

Hampir separuh dari jumlah utang luar negeri sebanyak 2,4 miliar dollar AS digunakan untuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Sehingga alat perlengkapan dan persenjataan tentara, armada pesawat tempur, serta kapal perang ABRI kita maju sangat pesat untuk ukuran negara berkembang yang masih rendah pendapatannya seperti Indonesia ini. Namun, hal ini tidak bisa dihindari oleh karena pimpinan negara telah mengambil keputusan politik menyiapkan diri untuk perang merebut Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Indonesia. Kemudian diambil langkah “mengganyang” Malaysia. Sehingga genderang perang ditabuh melawan negara-negara “Blok Kapitalis dan Imperialis” dalam masa Perang Dingin ketika itu.

Dalam suasana “ekonomi-perang” seperti ini dibakar emosi dan membangkitkan semangat patriotisme kebangsaan yang tinggi. Dalam periode inilah Presiden Sukarno menempa proses nation dan character buliding sehingga di tahun enampuluhan ini berlangsunglah proses pematangan kesadaran berbangsa dan bertanah air. Kemampuan Presiden Sukarno membangkitkan semangat dan elan nasionalisme dengan gaya orator yang ulung, menjadikan peranan beliau sangat tepat untuk kurun masa pembinaan bangsa ini, namun dengan menggusurkan pembangunan ekonomi ke skala prioritas rendah.

Sementara proses pembinaan bangsa berlangsung ini, lahir dan tumbuh generasi baru yang mendambakan kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia. Revolusi Indonesia telah mendewasakan generasi baru yang semakin banyak berpendidikan universitas. Apabila kondisi “ekonomi-perang” ini berlanjut dan prospek kesempatan kerja tak kunjung cerah, tumbuh keresahan di lingkungan masyarakat universitas, tidak saja lapisan mahasiswa, tetapi juga para dosen semakin kritis menanggapi perkembangan kehidupan bangsa dan mengaspirasikan Indonesia yang maju.

Juga di pentas dunia, perang bersenjata yang semulanya dominan di Vietnam, RRC, dan Korea kini mulai reda dan beralih ke kegiatan pembangunan ekonomi. Indonesia tidak luput dari perubahan semangat zaman yang meniup di kawasan Asia di tahun 1970-an ini.
Sesudah perang dunia selesai, banyak negara baru lahir di Asia dan Afrika yang semuanya sebagai negara berkembang harus bergelut dengan keterbelakangan ekonominya. Apabila mahzab ekonomi mencurahkan semula lebih banyak perhatian pada masalah ekonomi mikro, maka semangat zaman di tahun 1950-an menuntut pergeseran fokus ilmu ekonomi untuk dipusatkan pada pemecahan masalah ekonomi pembangunan yang relevan dengan kebutuhan negara berkembang...”

“...Sementara pemimpin-pemimpin Indonesia hanyut dalam semangat perang dan jor-joran politik merebut kepercayaan Presiden Sukarno, perkembangan rasionalitas ekonomi terabaikan dalam masyarakat. Sedangkan di kalangan pemerintah tumbuh pendapat kuat bahwa ilmu ekonomi tidak penting. Bahkan buku-buku teori ekonomi Keynes harus dibakar...”

Pelajaran yang dapat diambil:
  1. Mungkin banyak sebagian dari kita merasa kecewa dengan Pidato Politik SBY di Mabes TNI beberapa waktu lalu. SBY memang bukan Sukarno, dan mungkin tidak ada ada presiden lain pasca Sukarno yang mampu membakar emosi dan semangat patriotisme dengan kemampuan orasi yang luar biasa. Namun zaman sudah berbeda, masing-masing kita sudah punya cara sendiri untuk menemukan dan menumbuhkan rasa nasionalisme-nya, tak perlu lagi dengan orasi-orasi ataupun retorika-retorika dari seorang pemimpin negara.
  2. Pilihan melakukan perang memang memiliki biaya tersendiri, khususnya pada pengalokasian APBN. Memang dengan perang, pengeluaran pemerintah dari sisi pengeluaran militer akan meningkat, dan tentu akan pula meningkatkan Produk Domestik Bruto kita. Namun, pilihan tersebut tidak lebih baik di tengah bangsa ini yang masih berkutat pada permasalahan pemerataan dan peningkatan fasilitas dan kualitas pendidikan, kesehatan serta berbagai infrastrukur dasar.
  3. Ada hal yang menarik bagi saya, perang mungkin bisa jadi salah satu solusi bagi masalah pengangguran. Perang selain melibatkan pasukan angkatan bersenjata, juga biasanya melibatkan masyarakat sipil yang oleh negara dapat diperintahkan untuk terlibat dalam perang. Para penganggur ini dapat direkrut menambah anggota pasukan, tentu dengan juga mendapatkan gaji seperti halnya pasukan angkatan bersenjata lainnya. Namun mungkin ini adalah solusi jalan pintas yang sempit, solusi utama mengatasi pengangguran tetaplah dengan menciptakan lapangan pekerjaan, tentunya terkait pula dengan penciptaan iklim investasi yang kondusif.
  4. Tapi hey ada yang ketinggalan, terserah ini penting atau ngga. Dari kutipan dalam kata sambutan Pak Emil Salim sepertinya ada bagian yang kontradiktif, terutama pada kutipan paling terakhir. “...Bahkan buku-buku teori ekonomi Keynes harus dibakar...” Bukankah dengan perang berarti juga meningkatkan pengeluaran pemerintah? Padahal Keynes sendiri memberikan ruang keterlibatan peran pemerintah dalam ekonomi melalui government spending. Apakah tidak salah orang-orang dulu yang membakar bukunya? Apa yang membakar sebenarnya juga belum baca bukunya? Atau, apa saya yang salah mengerti?

Saturday, June 12, 2010

Marriage Model

In this paper I estimate empirical marriage model simultaneously considering endogenous regression and model uncertainty. I apply Bayesian methods with love as the prior and marriage as the posterior. The likelihood function assumed to follow binomial distribution (1: married, 0: not-married). The resulting maximum likelihood estimator for the probability of a man getting married to someone that he loves is 73.49%. On the other hand, the probability of a woman getting married to someone that she loves is only 23.12%. (Forthcoming: Journal of Economics of Love, No. x, 201x)

Saturday, June 5, 2010

Apakah Sepakbola adalah Olahraga Laki-laki?

Demam dan gaung piala dunia 2010 sudah dimana-mana diseluruh negeri kita. Perhelatan akbar ini akan dimulai beberapa hari ini. Ada satu pertanyaan kecil sehubungan dengan ini yang mungkin iseng-iseng baik juga untuk dibuktikan secara statistik. Yaitu, Apakah di Indonesia sepakbola hanyalah sebuah olahraga hanya untuk laki-laki atau bukan? Secara umum kita mungkin sepakat berkata bahwa jawabannya adalah tidak, meski tentunya motif kegemaran akan sepakbola dari kamu laki-laki dan kaum perempuan tentu ada bedanya.

Berikut ini akan ditunjukkan sebuah pembuktian statistik untuk menjawab pertanyaan tersebut. Variabel yang digunakan hanya 2 yaitu persentase penduduk laki-laki di Indonesia per propinsi dan persentase keberadaan lapangan sepakbola di tiap propinsi. Dalam hal ini variabel kedua adalah sebuah proxy dari kadar kegemaran akan sepakbola. Semua data berasal dari podes 2008.

Uji yang dilakukan adalah uji matriks korelasi yang hasilnya sebagai berikut:


Dengan ini bisa kita simpulkan bahwa benar, di Indonesia bukanlah olahraga laki-laki saja. Namun memang dibutuhkan pembuktian lebih lanjut apakah benar motif kegemaran akan sepakbola dari laki-laki dan perempuan adalah berbeda. Silakan bagi yang berminat untuk melanjutkannya. Akhir kata, selamat bagi kita semua yang akan mulai menikmati menonton world cup 2010. Viva Soccer..

Tuesday, May 18, 2010

Kuesioner Tentang Starbucks

Hello guys....
Ada salah satu mahasiswi FEUI angkatan 2006 sedang menyelesaikan skripsinya.

Kebetulan topiknya mengenai Starbucks....
Berikut link untuk pengisian kuesionernya..klik di sini
Bagi yang masih suka nongkrong, jika ada waktu..silahkan diisi....

Kalau gue kebetulan udah lama gak nongkrong di situ..maklum deh jauh dari peradaban..hehehehe....