Monday, January 7, 2008

Studi Kasus Program Kemiskinan

Anda adalah ekonom yang disewa oleh sebuah pemerintah kabupaten yang cukup kaya di Provinsi Kalimantan Timur. Pemerintah daerah ingin membuat program peningkatan gizi anak-anak sekolah dasar (SD) melalui pemberian minuman bergizi. Asumsikan hanya ada tiga minuman yang bisa diberikan kepada anak-anak SD tersebut, yaitu kacang ijo, susu atau jus buah. Asumsi kedua, kandungan gizi dan harga masing-masing makanan tersebut sama per-gelasnya.

Pemerintah daerah pusing bagaimana menentukan satu dari tiga jenis minuman tersebut yang memaksimalkan welfare anak-anak SD. Data yang dimiliki oleh Dinas Pendidikan Kabupaten hanya tahu preferensi anak-anak SD didaerahnya adalah anak-anak SD lebih suka minum kacang ijo daripada susu dan anak-anak SD lebih suka susu daripada jus buah.

Anda diminta menentukan hanya satu jenis minuman yang memaksimisasi welfare. Rekomendasi minuman apa yang sebaiknya diberikan Pemerintah Daerah Kabupaten ke anak-anak SD?

Jika anda merasa perlu melakukan data tambahan, anda akan diberikan dana untuk melakukan riset lapangan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten.

Oleh: Dendi R.

20 comments:

Chaikal said...

Ini pasti ada jebakannya, pasti ada jebakannya.... tapi apa?

dendi said...

Trimakasih Chaikal sudah meng-upload tulisan ini.

Ha..ha...ha... Ini bukan masalah jebak-menjebak Kal, ini masalah metode berpikir. Tidak ada benar atau salah disini.

Chaikal said...

waaah, kalo jawab sudah pasti tidak benar juga tidak salah, lebih baik nanya deh:
1. apakah asumsi transitivity berlaku?
2. apakah hanya welfare anak-anak SD ini yang jadi perhatian?
3. apakah ada budget constraint dari Pemda kabupaten (tajir) untuk program ini?
4. apakah semua minuman memiliki ketahan-lamaan yang sama?
5. apakah semua minuman memiliki kandungan asli lokal yang sama?
6. bagaimana validitas data Dinas Pendidikan mengenai preferensi anak-anak SD?
7. terkait no.6, data-nya tahun berapa?
8. lebih lanjut, seberapa besar daya beli anak-anak SD ini?
9. apakah semua sekolah SD memiliki kantin?
10. apakah ketiga jenis minuman tersedia di kantin sekolah?
11. makanan/minuman apa saja yang tersedia di kantin sekolah?
12. what else, guys?


Maaf Pak Bupati, saya rasa saya butuh dana tambahan buat riset lapangan, sekaligus tambahan modal buat kawin (welfare saya kan juga penting), wehehe..

dendi said...

Chaikal,
pertanyaan #1, itu tugasnya ekonom yang disewa; #2, untuk kasus ini iya, hanya welfare anak2 yang jadi perhatian, bukan perekonomian secara keseluruhan; #3, budget constraintnya diminta menentukan satu jenis minuman aja; #4, bisa dibilang iya atau tidak, asumsikan sama; #5, asumsikan sama; #6, data sangat valid; #7, data terbaru; #8, asumsikan SD yang jadi target adalah SD yang muridnya anak KK miskin semua; 9#, bisa ya, bisa tidak. Ingat tujuan riset ini adalah menentukan jenis minuman yang memaksimisasi welfare anak-anak SD, bukan welfare perekonomian secara keseluruhan. 10#, mengacu ke jawaban nomor 9, informasi ini kurang penting; 10#, idem; 11# idem.

Letjes said...

mas dendi, maaf klo jawabannya agak bodoh.. tapi bukannya jelas kacang ijo ya mas?

Letjes said...

tapi gimana klo ternyata kacang ijo tidak lebih disukai ketimbang jus buah..???

ooo.. jadi itu ya inti pertanyaannya??

hohoho... baru nyadar...

dipikir lagi deh.. susah juga ya..

Chaikal said...

dengan informasi seperti itu, memastikan saya akan kebutuhan riset lapangan (i.e. dana tambahan), yang minimal tujuannya mencari informasi apakah kacang ijo lebih dipreferensi anak-anak SD daripada jus buah.

tujuan yang lebih komprehensif untuk riset lapangan ini menunggu comment berikutnya, he3..

dendi said...

Letjes,
Tidak ada jawaban bodoh disini. Ini adalah tentang metode berpikir, atau cara berpikir. Mungkin banyak ekonom yang menjawab kacang ijo, sebab jelas dengan asumsi transtivity kacang ijo lebih disukai daripada susu, dan daripada jus buah. Cara berpikir dengan logika matematika seperti ini(positivism) biasa dipakai ilmuwan eksaksa, fisikawan misalnya. Metode ini sangat bermanfaat untuk menyederhanakan masalah dan melakukan analisis.

Namun demikian, metode ini bukan tanpa kelemahan, seperti Letjes bilang, bagaimana kalau kacang ijo tidak lebih disukai dibanding jus buah. Ceritanya akan menjadi lain dan menjadi lebih kompleks. Kesimpulan straight-forward kacang ijo adalah pilihan terbaik berpotensi tidak memenuhi tujuan maksimisasi welfare anak-anak SD menjadi tidak tercapai.

Selanjutnya, kasus ini membawa kita pada argumentasi Chaikal. Kita memang perlu melakukan riset lapangan untuk minimal mencek hipotesa apakah kacang ijo lebih disukai daripada jus buah, seperti kata Chaikal.

Saya merasa, metode berpikir yang digunakan dalam ilmu ekonomi sangat penting membangun penalaran untuk menganalisis masalah. Tapi, berhenti sampai disini tidak cukup. Perlu diadu dengan pendekatan yang berdasarkan realitas di lapangan (realism).

Nah..., kalau dari riset lapangan kita menemukan juas buah lebih disukai daripada (atau disukai sama dengan) kacang ijo, menentukan jenis minuman apa yang memaksimisasi welfare menjadi rumit.

dendi said...

Btw, ini ada referensi penting yang relevan. Mudah2an bisa diakses dari e-journal FEUI. Kalau tidak, saya ada via japri.

McClosky, Donald N. (1983) The rhetoric of economics, Journal of Economic Literature, 21 (2), 481-517.

Mäki, Uskali (1995) Diagnosing McCloskey, Journal of Economic Literature, 33(3), 1300-1318.

McCloskey, Donald N. (1995) Modern epistemology against analytic epistemology, Journal of Economic Literature, 33(3), 1319-1323.

embun said...

Asumsi 1: hanya ada tiga minuman kacang ijo, susu atau jus buah. Asumsi 2: kandungan gizi dan harga masing-masing makanan tersebut sama per-gelasnya.

Fakta: preferensi anak-anak SD didaerahnya adalah anak-anak SD lebih suka minum kacang ijo daripada susu dan anak-anak SD lebih suka susu daripada jus buah.

Anda diminta menentukan hanya satu jenis minuman yang memaksimisasi welfare. Rekomendasi minuman apa yang sebaiknya diberikan Pemerintah Daerah Kabupaten ke anak-anak SD?

Jawab: Susu.
Berdasarkan informasi sementara yang tersedia, susu adalah the best choice dan second best choice. Informasi yang ada jelas menyebutkan jus buah adalah minuman yang tidak dipreferensikan oleh anak-anak SD. Jadi, pilihannya tinggal kacang ijo dan susu.

Jika ingin memastikan lebih lanjut, saya memerlukan studi lapangan untuk memastikan beberapa hal sebagai berikut:
1. berapa proporsi anak2 SD yang lebih menyukai susu dibanding kacang ijo (vice versa)? dan ada di daerah mana saja?
2. bagaimana ketersediaan (supply) susu dan kacang ijo di wilayah tersebut? Meskipun harga keduanya sama (asumsi ke-2), perlu dipastikan bagaimana keberlanjutan program dengan memastikan supply cukup memenuhi kebutuhan seluruh anak2 SD di kabupaten tersebut
3. bagaimana budaya konsumsi susu vis-a-vis konsumsi kacang ijo di kabupaten tersebut? Hal ini juga perlu diketahui untuk memastikan bahwa second best choice masih bisa diterima oleh anak2 SD. Ini juga berkaitan dengan bagaimana memperkenalkan minuman tersebut.

btw, memangnya berapa sih dana yang bisa disediakan?? (udah bisa mulai susun proposal nih?)

dewa

carlos said...

Mas Dendi, saya banyak gak ngerti soal mikroekonomi, jadi saya mo jawab menggunakan logika saya saja.

Menurut saya, dalam kasus ini pemerintah sebaiknya menyarankan anak-anak tersebut untuk meminum minuman yang paling tidak disukai. sebab dengan demikian anak-anak tersebut tidak banyak melepaskan kebahagiaan dia untuk meminum minuman yang dia sukai.

Ambil contoh begini; bila susu lebih disukai dari pada jus buah maka dia akan baru bersedia minum jus buah bila jumlahnya lebih banyak dari susu, dan seterusnya untuk kacang ijo.

Maka bila logika itu dibalik, maka akan si anak hanya mengorbankan sedikit peluang dia untuk minum susu ketika dia memilih minum jus buah.

Mohon maaf bila jawabannya salah. Saya berpikir begini dengan alasan karena asumsi yang telah diberi dalam kasus tersebut sudah sangat komplit, jadi yang terpikir oleh saya adalah bagaimana cara untuk mengkompensasi kesenangan si anak bila dia suatu saat nanti disuruh untuk minum sebuah minuman. hehehe...

Chaikal said...

ini sedikit diluar konteks, dalam arti permasalahannya bukan pada pemilihan minuman, tapi bagaimana peningkatan welfare anak2 SD dapat terjadi. (menyangkut juga pertanyaan2 saya sebelumnya)

setidaknya ada 3 prosedur yang bisa dilakukan:
1. tetap in-kind, namun dilakukan pencatatan oleh setiap sekolah minuman apa yang dipreferensi oleh setiap murid, seminggu atau sebulan ke depan. data inilah yang kemudian digunakan untuk menentukan seberapa besar alokasi setiap jenis minuman.

2. cash transfer ke anak2, dengan asumsi: ada kantin sekolah dan bisa menyediakan seluruh jenis minuman tanpa ada jenis makanan/minuman yang berbahaya bagi gizi anak.

3. dengan pencatatan pada nomor 1, dilakukan oleh kantin sekolah, dan kantin inilah yang dikasih cash untuk menyediakan (gratis) minuman2 bergizi tersebut.

Pilihan ketiga sepertinya lebih baik.

Letjes said...

klo emang pemda ingin meningkatkan gizi anak2 SD, sebenarnya antara ketiga tsb sama saja.

namun klo memperhatikan maksimasi welfare anak2 SD tsb, secara teori tentu pemberian cash paling oke..

tapi jadinya kan peningkatan gizi tidak optimal.. apalagi anak2 bisa saja mengalokasikan cashnya semua untuk beli mainan.. hehehe.. klo kasih ke orang tua, tentu lebih susah lagi..

oleh krn itu, solusi no 3 nya chaikal dg penyempurnaan lagi, yakni pake kupon.. supaya anak yg udah dapat gk bisa ngambil lagi..

gocleancorporate said...

Dewa,

Mengenai bagaimana preferensi anak-anak SD terhadap jus buah relatif terhadap kacang ijo tidak atau belum diketahui, bukan tidak dipreferensi.
Justru ini yang membuat kasus ini menarik.

Pertanyaan 2 dan 3 menunjukan betul kita perlu riset lapangan. Bakal ada proyek baru nih, ha..ha...

Carlos,
Anda kejam sekali sepertinya, dengan memberikan saran menyarankan anak-anak meminum yang paling tidak disukai.
Ekonom percaya bahwa welfare adalah agregasi suplus konsumen (Dan, juga surplus produsen, tapi kasus kita hanya membahas sisi konsumen). Sederhananya adalah penilaian seseorang terhadap barang yang dikonsumsi dikurangi harganya.
Contoh, kalau seorang anak mengapresiasi segelas susu (dalam satuan Rupiah) adalah 1000 per gelas sementara harga Rp 700 per gelas, maka consumer surplus dia adalah Rp 300.
Karena kasus kita membahas pemberian minuman bergizi secara gratis (harga sama dengan nol bagi anak-anak SD), maka yang jadi masalah adalah minuman mana yang memberikan kepuasan (utility) tertinggi.

Letjes benar bahwa kalau tujuan meningkatkan gizi anak-anak SD, ketiga minuman tersebut sama baik karena ketiganya memiliki kandungan yang sama ( by assumption).
Ini ada hal lain yg menarik, yaitu bagaimana kita mendefinisikan welfare. Konsep ekonomi mengatakan welfare adalah surplus konsumen (dan produsen). Apa yang dimaksud dengan welfare disini sangat abstrak, seperti kata Letjes, bukannya sama saja karena kandungan gizinya sama. Tapi, pemikian ini pun bukan tanpa kelemahan; bisa saja minumannya dibuang anak SD karena dia tidak suka.
Karena ekonom memiliki konsep welfare, ceritanya menjadi lain sebab perlu dipilih minuman yang paling disukai. Disini kita berbicara tentang utility/kepuasan, sesuatu konsep yang sangat abstrak. Ini adalah contoh metaphor (McCloskey, 1995).

Ide memberikan uang cash kepada anak-anak SD, secara teoritis (bisa dilihat di textbook buku mikro ekonomi) memang hal yang terbaik, yang bisa memaksimumkan utility anak-anak SD.
Tapi, masalahnya adalah kalau uangnya dipakai membeli "gambar tempel" atau "tembak-tembakan" tujuan meningkatkan gizi tidak tercapai.
Disini kita menemukan lagi hal menarik tentang bagaimana utility atau welfare didefisinikan. Welfare yang mengikuti utility function anak-anak SD sangat mungkin berbeda dengan tujuan "orang dewasa" yang ingin meningkatkan gizi anak-anak itu. Mungkin saja anak-anak SD lebih suka membeli mainan dari uang subsidi yang diterimanya.

Seberapa relevan konsep utility, surplus konsumen dan welfare dalam kasus ini? Ini pertanyaan yang sangat mendasar dan penting.

Ide-ide Chaikal kayaknya udah bisa jadi rekomendasi proyek riset nih... hi...hi.... Proposalnya dibuat Dewa, he..he...

Sonny said...

Dendi, nice game!

Saya juga jadi ikutan pusing, nyari jawabannya.

Kok kita mesti milih sih :-)

dendi said...

Sonny,
Ini masalah memang "diciptakan" oleh ekonom. Kalau tidak ada problem memilih, tidak ada kerjaan buat ekonom dan mungkin tidak ada profesi ekonom. Hi..hi...hi...

Sekolah Tinggi Managemen Informatika dan Komputer Jakarta said...

membingungkan nih, trus yg mana?

----
Jika Anda membutuhkan info tentang kampus STMIK Jakarta silahkan klik website kami di http://jak-stik.ac.id

Anonymous said...

apa yang saya cari, terima kasih

Anonymous said...

Il semble que vous soyez un expert dans ce domaine, vos remarques sont tres interessantes, merci.

- Daniel

Anonymous said...

Hey, I am checking this blog using the phone and this appears to be kind of odd. Thought you'd wish to know. This is a great write-up nevertheless, did not mess that up.

- David