Tuesday, June 30, 2009

Penumpang Kelas Ekonomi mensubsidi kelas-kelas diatasnya

Minggu lalu saya naik sebuah pesawat yang memiliki kelas satu (first class), kelas bisnis (business class) dan kelas ekonomi (economy class). Saya berada di kelas ekonomi. Jumlah penumpang ekonomi umumnya lebih banyak dari pada penumpang kelas diatasnya. Lalu hal ini membuat saya bertanya-tanya, siapakah yang diuntungkan dalam situasi ini?

Secara logika umum, penumpang kelas satu dan bisnis adalah yang mensubsidi kelas ekonomi karena mereka membayar lebih mahal. Namun secara akumulasi nilai uang, maka adalah kelas ekonomi yang membiayai kelas diatasnya. Berikut adalah logikanya:
Total pendapatan dari sebuah pesawat tentu adalah dari kelas ekonomi yang terbesar, oleh karena itu pembiayaan investasi pesawat tersebut utamanya adalah dari penumpang ekonomi. Jadi bila kita asumsikan bahwa pesawat tersebut dibeli dengan hutang bank, maka adalah penumpang ekonomi yang paling banyak membayar hutang tersebut. Oleh karena itu kita bisa simpulkan adalah bahwa penumpang ekonomi yang secara tidak langsung men"subsidi" penumpang kelas diatasnya. Atau dengan kata lain, orang lebih miskin mensubsidi orang lebih kaya. hehehe...

Setuju kah Anda?

9 comments:

Chaikal said...

Subsidi antar pembeli ada jika barang yang dibeli sama (ingat bukan kuantitasnya sama).

Jika ada pembeli membeli dengan harga diatas biaya produksi dan di saat bersamaan ada pembeli lain membeli dibawah biaya produksi berarti ada subsidi. Ingat biaya produksi disini adalah biaya per satuan produk bukan total biaya.

Jadi tidak masalah jika ternyata jumlah yang membeli dibawah biaya produksi lebih banyak dibandingkan pembeli yang membeli diatas.

Hal ini bukan berarti mereka mensubsidi yang diatas. Mereka secara KESELURUHAN hanya menjadi kontributor terbesar yang menutup 'TOTAL biaya' tetapi tidak mensubsidi apapun. Secara individual mereka justru tersubsidi dari yang bayar diatas biaya.

Untuk kasus ekonomi dan bisnis, pasti kualitasnya beda. Tapi gw pikit FC dibagi rata kesemua penumpang. Tetapi tiket disesuaikan dengan biaya marginal setiap penumpang.

Nah marginal inilah yang tersubsidi bagi kelas ekonomi oleh kelas bisnis.

Dah ah dah lama gak nulis jadi kepanjangan, ampe pusing..

Anonymous said...

lu benar kal, memang kata kuncinya disini adalah secara per satuan bukan secara akumulasi. tetapi gw kalo mengenai hal itu sih sudah tau, hehehe...

preposisi yang mo gw sampaikan disini adalah, mana yang mungkin terjadi;"pesawat tanpa kelas ekonomi" atau "pesawat tanpa kelas diatas ekonomi"?

bgaimana menurut lu? atau teman2 yang lain?

-rcm-

Chaikal said...

Lah kalo begitu judulnya perlu diperbaiki, hehehe..

Kalo pertanyaannya demikian, logikanya jadi memusingkan,, pesawat yang besar dengan kelas berbeda itukan menyesuaikan permintaan.

sekarang kalo kondisi pesawat dianggap eksogen (gak mungkin lah ini) tapi misal eksogen: jika tidak ada kelas ekonomi apakah ada penerbangan?

pastinya tetap akan ada penerbangan dengan keseimbangan baru yang akan menyesuaikan keadaan ini: mungkin kelas bisnis akan disediakan lebih banyak dengan harga yang lebih murah dengan layanan yang sedikit dikurangi, dll..

nah kalo gak ada kelas bisnis maka seluruh penumpang adalah kelas ekonomi dengan harga yang mungkin sedikit lebih mahal..

jadi apapun dua-duanya mungkin,, rcm.

atau mungkin pertanyaannya seperti ini: jika harga dan kuantitas kursi tidak 'boleh' berubah, mana yang mungkin: "pesawat tanpa kelas ekonomi" atau "pesawat tanpa kelas diatas ekonomi"?

sebenarnya pertanyaannya lebih baik begini (sampai rentang waktu tak hingga): mana yang lebih merugikan bagi maskapai penerbangan, pesawat tanpa penumpang kelas ekonomi atau pesawat tanpa penumpang kelas bisnis?

jawaban harus lihat dulu struktur biaya-nya, tapi memang kemungkinan akan lebih 'tidak' merugikan yang kedua.

tapi sekali lagi jika kondisi ini tidak bisa menutup TVC apalagi TFC tidak akan sustainable (sampai rentang waktu tak hingga takkan terjadi) dalam arti harga harus perubahan harga dan/atau kursi ekonomi ditambah..

kalo pertanyaannya dimodif lagi: "jika hanya sekali atau dua kali terjadi" dengan kondisi yang sama, mana yang lebih dipilih? kemungkinan jawabannya memang yang kedua bung rcm.

bung cn.

Anonymous said...

CERDAS!!!
Ok ok gw memang dah rada berlebihan dengan judulnya,.. next time gw ubah judulnya supaya gak terlalu kelewat jauh dari makna tulisan yang mo gw sampaikan. Thank you Kal...

rcm

Anonymous said...

Wah jadi pengen ikut nimbrung. Kebetulan gw lagi mendalami aviation industry jadi mungkin bisa bagi2 sedikit informasi. Klo untuk menganalisis profitabilitas perkelas bisa dilakukan dengan metode cost allocation. Prinsipnya, cost untuk masing2 kelas adalah direct cost yang langsung berkaitan dengan masing2 kelas dan overhead cost yang harus dialokasikan ke masing2 kelas. Overhead cost ini bisa terdiri dari fixed cost maupun variable cost. Saya yakin tiap2 airlines telah memperhitungkan profitabilitas masing2 kelas ini. Yang terbesar margin profitabilitasnya tentu saja kelas yang paling tinggi, dan kelas ekonomi adalah yang paling rendah. Untuk itulah volume kursi kelas ekonomi diperbesar.
Analisis profitabilitas per kelas saja tidak cukup, karena pada akhirnya yang akan dilihat adalah apakah pesawat tersebut terbang rugi..? Gw punya temen yang kerja jadi pramugari di cathay pasific, gw rasa airlines kedua terbesar setelah Singapore Airlines, ternyata jika kelas ekonomi penuh tapi kelas bisnisnya kosong, maka pesawat tersebut terbang rugi. Jadi secara keseluruhan, pendapatan yang diperoleh oleh kelas ekonomilah yang menutupi sebagian besar biaya terbang pesawat tersebut.
Dalam situasi krisis saat ini banyak perusahaan-perusahaan yang menurunkan kelas terbang para eksekutifnya dari kelas bisnis atau first class ke kelas ekonomi. Sehingga, fenomena yang ditemukan oleh carlos memang banyak terjadi. Hal inilah yang kemudian menjadi bumerang dimasa krisis, karena banyak airlines yang mengalokasikan terlalu banyak volume kursi untuk kelas bisnis dan first class.
Menjawab pertanyaan carlos, dua2nya pernah terjadi los. Ada airline di UK yang seluruh pesawatnya diperuntukkan untuk kelas bisnis dan first class, namun perusahaan tersebut bangkrut ketika terjadi krisis kemarin. Untuk pesawat dengan kelas ekonomi gw pikir kita bisa melihat fenomena LCC, seperti lion air dan air asia di Indonesia atau Ryan Air di Eropa.
Haduh udah nulis kepanjangan..stop dulu deh

Seto

mas kopdang said...

topik menarik.
1. bukankah antar eco saja sudah ada disparitas harga?
2. Mungkinkah eco dengan harga tertinggi hampir menyamai business dng harga terendah dala route dan no. penerbangan yg sama.

Carlos said...

@seto: Ehemm ehem... sapa tuh sang pramugari kenalan lu.. cie cie mainannya pramugari cuy sekarang. Mantap!

Well, anyway To. Gw setuju sama lu, mestinya analisis bisa dibuat lebih rinci, maklum gw gak punya data2 seperti itu. Btw, jujur aja awalnya kenapa gw nulis tulisan ini adalah karena gw melihat bahwa bandara menyiapkan jembatan khusus untuk kelas bisnis dan kelas utama untuk masuk ke pesawat, waktu itu gw bertanya-tanya, apakah penumpang kelas bisnis dan kelas utama membayar sendiri jembatan tersebut atau mereka malah disubsidi oleh penumpang kelas ekonomi? coba lu jawab kecurigaan gw ini?

@mas kopdang: Anda benar, bahkan untuk kelas ekonomi ada variasi harga, namun hal itu cuma bisa kita ketahui kalo kita beli tiket lewat biro travel. Sepertinya ada perjanjian khusus antara travel dan maskapai penerbangan. Yang pasti saya cuma mo menekankan bahwa penumpang yang bayar murah tidak harus selalu harus menjadi penumpang yang less respected. that's all

Chaikal said...

Dear Carlos, and others, please if you can answer this:

Why do airlines sell more tickets than there are seats on the plane?

Carlos said...

Kal, gw akan jawab sekaligus dalam bentuk tulisan gw yang baru di blog kita ini