Wednesday, September 2, 2009

Ketika Ilmu Ekonomi Kehilangan Sisi Sosialnya

Tak tahu kenapa akhir-akhir ini saya merasa ilmu ekonomi menjadi kurang menarik, seperti tercerabut dari hakikatnya sebagai ilmu sosial yang dinamis.

Subordinasi hirarki ini seperti menjadikan ilmu ekonomi melupakan ranahnya sebagai sebuah laboratorium sosial.Makin lama hanya semakin mengagung-agungkan teori layaknya ayat-ayat Tuhan.

Kita akan terlihat berdosa dan menggelikan ketika hasil estimasi yang kita dapatkan tidak sesuai teori yang sudah mapan. Secara tak sadar Mengapa ada saja upaya mengerdilkan upaya kita untuk menuntaskan pemikiran mengapa realitas yang ada menjadi tidak sejalan.

Ilmu ekonomi akhir-akhir ini menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika semuanya seperti mesin berjalan, cenderung kaku, tidak dinamis, dan stagnan.

Semuanya seperti menjadi saklak dan tak terbantahkan. Ketika sebuah persamaan ekonomi mengharuskan variabel-variabelnya berstatus signifikan. Tetapi ada saja upaya untuk menihilkan rasionalitas untuk menjelaskan mengapa variabel yang didapatkan menjadi tidak signifikan.

Akhir-akhir ini ilmu ekonomi menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika ekonometrik yang seharusnya berfungsi sebagai alat mencapai tujuan, malah menjadi sesuatu yang didewakan.

Akhir-akhir ini ilmu ekonomi menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika koefisien suatu variabel sejak awal dengan jumawa sudah ditentukan, tanpa membolehkan berfikir bagaimana mencari alasan agar kita bisa menerima koefisien yang sebenarnya dihasilkan.

Akhir-akhir ini ilmu ekonomi semakin tidak menarik bagi saya. Ketika hal-hal teknis menjadi sesuatu yang lebih diutamakan, namun hanya didukung oleh sebuah analisis yang dangkal dan hanya menangkap permukaan. Tetapi dengan lucunya bisa bertingkah pongah seolah-olah hasil tersebut adalah sebuah mahakarya yang patut dibanggakan.

Akhir-akhir ini ilmu ekonomi semakin tidak menarik bagi saya.Terutama ketika ruang diskusi dan rasa saling menghargai berbagai pemikiran dan pendapat telah dimatikan.

Apa dayalah untuk mengatakan ini itu berharap didengarkan, jika menyadari diri ini yang tidak cantik dan rupawan.

5 comments:

Luthfi said...

Alhamdulillah akhirnya saya berkesempatan membaca tulisan gaffar yang dulu saya kenal....

tenang far, semua itu udah terjadi dari jaman dahulu kala. (abis nonton a beautiful mind)

kalo loe bisa lepas dari kungkungan itu loe akan jadi seseorang yang luar biasa.

tapi kalo loe mengikuti "mainstream" itu loe menjadi orang biasa-biasa saja.

tidak menjadi masalah apakah loe rupawan atau tidak, normal atau gila, yang penting adalah pemikiran bung.

Anonymous said...

Ilmu ekonomi hanya sebuah pekerjaan. Itu saja bung... tak perlu kau capek berpikir ilmu nujum dari mana ilmu ekonomi :D

RCM

Chaikal said...

Duh , begini nih kalo salah gaul,, baliklah ke parit2 tempat kita bertemu, dimana alang2 masih basah diterpa hujan, bukan langit yang dia rindu, tapi tanah lebam yang coklat melekat di jemari kaki kita..

coba rasakan bung, rasakan kembali, suasana-nya yang sakral!

Bapaknya.DittoReno said...

Gaffari sudah berpolitik....nulis aja kayak Proklamator kita....diulang-ulang...diulang-ulang...diulang-ulang

Universitas Islam Indonesia said...

Terimakasih Infonya
sangat bermanfaat..
Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Ekonomi di UII Yogyakarta
:)
twitter : @profiluii

kunjungan balik ya :)