Friday, March 5, 2010

Pengangguran dan "Warteg"

Salah satu akibat dari krisis global belakangan ini adalah bertumbuhnya jumlah pengangguran di Indonesia. Lantas bagaimanakah hubungannya jumlah pengangguran dengan jumlah warung/kedai makanan yang suka disebut sebagai "warteg" oleh orang-orang jakarta?

Warteg memang merupakan bisnis relatif mudah untuk di"entry", dilain sisi, harga makanan di warteg sangat terjangkau, sehingga bila ada orang yang sedang mengalami masalah finansial, warteg bisa menjadi solusi untuk mengatasi rasa lapar di perut.

Berikut ini saya melakukan regresi cross-section jumlah pengangguran (dalam ribuan orang) ditiap propinsi terhadap jumlah warung/kedai makanan, dari data podes tahun 2008.



Dari hasil regresi ini maka bisa kita simpulkan bahwa untuk tiap penambahan seribu penganguran maka jumlah warteg yang bertambah adalah sekitar 69 atau 70 warung.

Akan tetapi memang perhitungan ini masih jauh dari kesempurnaan karena semestinya bisa lebih baik lagi kalau ada data time-seriesnya. silakan di komentari oleh kawan-kawan semua, terutama oleh teman-teman yang dulu pernah suka makan di warteg tapi kini gengsi kalo tidak makan di restoran, hehe..

5 comments:

Anonymous said...

Wah Bung Carlos kreatif.. tapi hati2 bung,, kayak gini harus kuat landasan teorinya,, kalo gak jatoh ke spurious..

Chaikal.

Anonymous said...

wah emang ada teori tentang warteg kal? gimana klo kita aja para starbuckers yang memulainya :D

carlos

Gaffari said...

Teori kan muncul dari sejumlah hipotesis yang kemudian dibuktikan oleh kejadian-kejadian empiris.

Mungkin ini salah satu upaya Carlos membuktikan bahwa ada hubungan antara warteg dengan pengangguran.

Dalam model diperlihatkan ketika ga ada pengangguran sama sekali (konstan), terdapat 2.158 ribu warteg (satuannya ribuankan ya?). Well, kalo bgini sih kyknya org kita memang doyan makan di warteg....

Fakhrul said...

@semua : kenapa kita tidak menganalisa warteg sebagai sebuah industri dg karakteristik tertentu... dan secara kebetulan dg beberapa sebab merupakan substitusi dari beberapa sektor ekonomi jika kondisi-kondisi khusus terjadi...

Kabarnya Multilevelmarketing juga naik lo pamornya ketika pengangguran tinggi...
hahahah

Anonymous said...

@gaff: untuk satuan dari warteg sudah dalam unit, regresinya cross-section maka klo gak ada pengangguran secara rata-rata tiap propinsi akan ada warteg 2158 unit. ini memang termasuk jumlah yang banyak. tar kalo ada waktu gw mo coba regresi restoran dan jumlah orang kaya. need time karena menggabungkan podes dan susenas.

@fakhrul: kalo saja ada data mlm pasti akan gw coba lakukan. gw akan coba cari2 dari data SUSI - BPS sapa tau ada.

rcm