Showing posts with label Lebaran. Show all posts
Showing posts with label Lebaran. Show all posts

Friday, September 18, 2009

Ekonomi Lebaran

Hari ini Kota Jakarta mulai sepi. Keramaian ibukota bukan lagi terlihat di jalan-jalan raya, tetapi di terminal bis, stasiun kereta, pelabuhan dan bandara, serta tidak terkecuali pasar-pasar dan supermarket.

Harga-harga mulai naik. Saya dengar harga cabe di pasar tradisional sudah ada yang mencapai Rp 50 rb per kilo. Luar biasa multiplier dan fenomena ekonomi yang tercipta dari perayaan lebaran tahun ini. Prof Bambang Setiaji (Univ. Muhammadiyah) pernah mengatakan dalam tulisannya bahwa pemerintah tidak memiliki strategi kebudayaan tertentu untuk mengubah budaya konsumtifisme pada masa lebaran.

Mestinya ada strategi khusus untuk ini karena tentunya kita semua ingin memiliki momen hari raya yang terjangkau oleh semua khalayak, dan tidak mencekik leher. Memang inflasi tidak bisa terhindarkan untuk momen-momen khusus seperti ini. Tetapi apakah perlu setinggi itu? Anda sendiri yang bisa menjawab ini.

Akhir kata saya ucapkan selamat Idul Fitri untuk semua penulis dan pembaca blog ini. Mohon maaf lahir bathin.

Monday, October 22, 2007

Paradox Lebaran

Kita sudah biasa mendengar berbagai paradox yang terjadi bulan Ramadhan. Salah satunya yang sering diangkat adalah tingkat inflasi yang meningkat akibat demand pull di bulan puasa, bulan dimana seharusnya masyarakat semakin mengurangi konsumsi.

Nah, sepanjang seminggu setelah bulan Ramadhan, kita disajikan paradox yang lain. Lebaran seharusnya identik dengan kebahagiaan dan keceriaan, tetapi di berbagai media kita disuguhi begitu banyak kasus kecelakaan yang menewaskan banyak orang.

Data pada tabel berikut menunjukkan begitu besarnya jumlah kecelakaan saat Lebaran:


Berdasarkan data di atas, kecelakaan pada 2007, meningkat pesat hingga 1063 kasus dari angka sebelumnya pada 2006 yang sudah sangat besar, yakni 168 kasus. Kabar yang agak “membahagiakan” adalah menurunnya jumlah korban tewas di tahun ini. Namun, tetap pertanyaannya adalah kenapa jumlah kecelakaan bisa terus meningkat seperti itu?

Tiap tahunnya pemerintah selalu berhadapan dengan masalah yang sama di saat Lebaran. Tiap tahun pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi. Dan tiap tahun itu pula mereka selalu gagal mengatasi masalah kecelakaan di saat Lebaran. Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mengurangi peningkatan kecelakaan ini?

Permasalahan peningkatan kecelakaan pada masa Lebaran menurutku hanyalah efek dari permasalahan fundamental-struktural dari sektor transportasi kita, yakni ketidak-seimbangan antara jumlah kendaraan dengan infrastruktur yang ada. Coba perhatikan data penjualan mobil berikut:


Sementara itu penjualan motor pun juga jauh lebih hebat. Berikut data penjualan hingga tahun 2006. (note: data penjualan hingga Mei 2007 telah mencapai 1.746.683 unit)

Dengan asumsi mobil terus digunakan hingga 5-10 tahun (di Indonesia mobil usia 20 tahun pun masih banyak dipakai), sementara motor hingga 5 tahun, maka tiap tahunnya penambahan jumlah mobil dan motor, masing-masing melebihi 100%. Secara nominal, penambahan jumlah mobil tiap tahunnya berada dalam angka ratusan ribu, sementara motor bisa mencapai jutaan.

Coba bandingkan dengan penambahan panjang jalan nasional. Berdasarkan data Departemen PU, dari tahun 2000 hingga tahun 2004, rata-rata penambahan panjang jalan nasional per tahunnya hanya sebesar 7,15%.

Logikanya, ketika jumlah mobil atau motor di jalan bertambah 1 unit, maka probabilita terjadi kecelakaan per indidividu akan meningkat. Apalagi ketika penambahan tersebut tidak didukung oleh perbaikan infrastruktur yang signifikan. Probabilita terjadi kecelakaan pun semakin meningkat.

Terkait dengan topik Lebaran, di masa Lebaran, arus lalu lintas jauh meningkat, terutama dalam jarak menengah dan jauh. Akibatnya probabilita terjadi kecelakaan juga akan semakin meningkat. (note: peningkatan penjualan mobil dan motor di tahun 2007 mungkin bisa dikaitkan dengan peningkatan jumlah kecelakaan Lebaran tahun ini)

Melihat permasalahan di atas, peningkatan kecelakaan di saat Lebaran hanya ujungnya saja dari permasalahan yang ada. Terlepas dari berbagai upaya pemerintah atau upaya pengemudi untuk berhati-hati saat berkendaraan, bayang-bayang akan kecelakaan yang mungkin menimpa akan terus ada. Yang harus dilakukan pemerintah bukan hanya melakukan pencegahan-pencegahan di saat Lebaran, tetapi mencari solusi dari permasalahan fundamental-struktural yang disebut di atas.

Untuk itu, pemerintah dihadapkan pada pilihan: 1. Menurunkan jumlah mobil dan kendaraan pribadi (peningkatan pajak sangat disarankan) dan atau 2. Perbaikan infrastruktur. Karena bila tidak, tangisan dan kesedihan saat Lebaran akan menjadi warna yang turut menemani masa Lebaran kita. Berdoa saja bukan kita yang bernasib sial.