Saturday, August 23, 2008

Iklan dan Politik

Sudah lama tidak blogwalking, iseng-iseng buka blog pribadi milik rekan kita bung gaff kemudian menemukan 1 posting yang menarik dan membuat saya tergelitik untuk berkomentar.

Posting yang saya maksud berjudul "Siapa Dia?". Dalam posting ini bung gaff mengemukakan kegusarannya melihat iklan-iklan politik yang gak jelas, yang mungkin bisa saya sebut antara lain iklan Soetrisno Bachir (SB) atau Rizal Mallarangeng (RM). Yang saya tangkap dari posting tersebut, bung gaff gusar karena dua alasan, yakni: (1) ragu akan efektivitasnya terhadap elektabilitas nanti di pemilu. (2) juga berdasarkan alasan pertama, akhirnya yang terjadi hanya buang-buang duit saja.

Menanggapi alasan pertama, perlu kita ketahui dalam tahapan pemasaran politik ada tahap-tahap yang harus dilalui, yakni awareness - pemahaman (convincing) - elektabilitas. Dari sini, jelas iklan-iklan milik SB atau RM masih merupakan tahapan pertama dari pemasaran politik, yakni untuk membangun awareness masyarakat terhadap sang tokoh. Mungkin bung gaff kenal baik SB atau RM, tapi saya yakin masyarakat kebanyakan, terutama yang diluar kota-kota besar tidak terlalu mengenal mereka berdua. Bahkan posisi SB sebagai ketua PAN saja, mungkin masih banyak yang lebih kenal Amien Rais. Apalagi RM yang kebanyakan orang hanya tahu dia adalah pembawa acara save our nation di Metro TV. Oleh karena itu, penting kiranya bagi mereka untuk mempopulerkan diri. Untuk masalah apakah akan yakin dan kemudian memilih, saya yakin akan ada langkah berikutnya dari tokoh-tokoh politik yang dimaksud.

Lalu alasan kedua, kenapa harus lewat iklan di TV? Buang duit aja! Saya kira tidak demikian. Demi membangun awareness masyarakat, beriklan di TV adalah sarana yang paling tepat dan mungkin paling mudah dan murah. Hitung-hitungannya seperti ini. Iklan di TV di waktu prime time per 10 detik menghabiskan 30 juta. Anggap saja iklannya 30 detik sehingga sekali iklan habis 90 juta. Lalu dalam sehari si tokoh beriklan 10 kali. Berarti dalam 1 hari biaya yang diperlukan adalah 900 juta. Dalam sebulan si tokoh membutuhkan dana sebesar 27 miliar. Sangat besar memang.

Tapi tunggu sebentar. Asumsi 80% dari pemilih yang berjumlah 120 juta memiliki TV di rumahnya. Artinya akan ada 96 juta orang yang melihat iklan tersebut dan mulai mengenal si tokoh. Cukup banyak bukan. Lalu yang terpenting, dengan biaya total sebesar 27 miliar, berarti biaya per kapita-nya hanya Rp 281,25. Coba bandingkan dengan harus datang ke daerah-daerah, dimana paling banter dalam satu lapangan ada 100 ribu orang yang bisa dikumpulkan. Lalu per orangnya minimal harus diberi Rp 10 ribu + makan siang. Sudah biaya per kapitanya jadi mahal, hanya 100 ribu orang yang jadi lebih mengenal si tokoh, capek dan habis waktu pula.

Dari ilustrasi di atas, saya rasa beriklan di TV tidaklah buang-buang duit dan sangat efektif. Dalam realitanya, siapa sih yang akhirnya tidak mengenal SB atau RM. Apalagi slogan "hidup adalah perbuatan" milik SB yang mulai melekat di pikiran masyarakat.

Akhir kata, beriklan di TV saya kira adalah tindakan yang tepat, meski masih banyak usaha yang harus dilakukan untuk menyaingi SBY atau Mega. Ada istilah ekonomi yang cukup pas untuk menggambarkan, yakni: beriklan di TV tuh "necessary but not sufficient", tapi dengan satu kondisi, yakni budget constraint yang besar.

4 comments:

Gaffari said...

Hal yang bisa dibedakan mungkin dengan Obama, awalnya mulai berjuang dari grassroot, sebagai anggota NGO yang bergerak di daerah2 miskin lalu naik ke panggung politik melalui marketing baik secara kapasitas verbal Obama yang mumpuni juga dengan fasilitas teknologi yang apik..Misal: dari website hingga sms.

Kalo di Indonesia justru yg terjadi sebaliknya, marketing politik di wahana media dan teknologi yang ada, kemudian diciptakan seolah2 tokoh tersebut berjuang di ranah grassroot. Syukur2 memang mengetahui kondisi grassroot sebenarnya....

Anonymous said...

fyi, biaya kampanye obama lewat media televisi juga sangat besar lho bung gaff..

klo masalah pengenalan konstituen (grassroot area) secara langsung memang sulit dilakukan..

dengan ribuan pulau dan beraneka ragam manusia juga kepentingan...hmmmm..pragmatis aja jadinya...

bikin iklan yang "seakan-akan" sang tokoh kenal banget ma rakyat kita..efisien dan efektif (kan tujuannya cm pengenalan diri..)

hehehe...dasar papa poli-tikus..

fp

Gaffari said...

Betul sekali, membangun "seakan-akan" atau "seolah-olah" itu lebih efektif membuai para calon pemilih dibandingkan membangun realitas kontribusi dan "nyata-nyatanya" memang dekat dengan rakyat.

Karena memang secara biaya dan tenaga bisa jadi lebih mudah membangun "seakan-akan" atau "seolah-olah" itu dalam waktu yang singkat.

a.p. said...

Iklan kampanye buang-buang duit? Secara economy-wide, duit yang dibuang oleh satu pihak adalah income bagi pihak lain. Jadi, ada redistribusi di sana. Ini hal yang positif.

Bagi yang beriklan, nggak 'buang-buang' juga, karena ini kan sama aja seperti logika promosi produk (atau investasi).