Friday, August 22, 2008

Israel

Saya tiba-tiba teringat ketika Gus dur masih menjadi Presiden, ketika itu beliau mempunyai ide untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Banyak pihak menentang keras ide itu termasuk saya pribadi. Karena sebagai negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar didunia, berhubungan dengan Negara zionis dianggap suatu dosa. Namun demikian seiring dengan berjalannya waktu saya rasa ide ini bermanfaat untuk Indonesia. Tidak seperti tulisan lain di blog ini yang berbobot dan langitan, tulisan ini bersifat opini tanpa ada embel-embel teoritis. Saya memohon maaf sebelumnya bagi para pemeluk agama yang “agama”-nya akan saya sebutkan disini dan minta ijin to speak freely.


Sebenarnya siapa yang bertanggung jawab dalam pembinaan akhlak dan moral umat? Saya sebagai seorang muslim tentunya akan mengatakan Ulama, Kyai atau Ustadz. Dalam hal ini akhlak dan moral umat perlu di-maintain dengan khotbah yang kontinu, menggugah dan memberikan pencerahan. Sehingga saya berpendapat posisi Khotbah Jumat itu luar biasa penting. Karena sebagian besar umat yang sedang dalam tahap pengembangan karier dan perjuangan kemapanan finansial, tidak memiliki waktu yang luang dan lapang untuk menghadiri dakwah atau acara pengajian khusus.


Kondisi tersebut sewajarnya menuntut Khotib Jumat untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam menjaga moral dan akhlak umat. Namun sampai sejauh ini, khotbah jumat yang menurut saya baik dan mampu memberikan pencerahan dapat dihitung dengan jari. Dari mesjid di kampung sampai mesjid modern di Cut Mutiah, seringkali Khotib Jumat memberikan khotbah yang kurang bermutu dan saya harus berjuang keras melawan godaan setan yang me-ninabobo-kan.


Saya seringkali bertanya dalam hati mengapa kondisi ini terjadi. Apakah income dari khotib tidak memadai? Apakah ini merupakan kegagalan institusi pesantren? Atau memang khotib-nya saja yang malas? Akhirnya sebagai seorang ekonom, saya mengambil kesimpulan bahwa kondisi ini terjadi karena kurangnya derajat kompetisi dalam industri per-dakwah-an.


Dengan asumsi bahwa para Ulama, Kyai dan Ustadz merasa bahwa aklak dan moral umat merupakan tanggung jawab mereka, maka kompetisi terkuat yang saat ini mereka hadapi hanya dari misionaris Nasrani. Walaupun masih ada misionaris Budha dan Hindu, pangsa pasar mereka terlalu kecil untuk dapat dikategorikan ber-“bahaya”. Dalam set industri yang demikian, maka saya asumsikan industri per-dakwah-an di Indonesia adalah duopoly, dengan Ulama, Kyai dan Ustadz sebagai market leader.


Bangsa Yahudi yang notabene gifted dengan kemampuan otak yang luar biasa (ada di Al-Quran), dapat saya prediksi akan menjadi kompetitor yang ber-“bahaya”. Apabila dapat terjadi suatu kondisi dimana mereka dapat masuk ke Indonesia, maka secara otomatis derajat kompetisi industri per-dakwah-an akan meningkat. Dilain pihak, Umat Yahudi akan membela kepentingan Indonesia habis-habisan. Karena sebagai thinking parasite, mereka tidak mau inang mereka rusak. Secara logis mereka akan menjaga kepentingan Indonesia agar mereka dapat tinggal dan hidup dengan tenang. Andaikan seperti ini kondisinya, akan ada Eksternalitas Positif yang dinikmati oleh umat lain dengan kehadiran mereka. Secara umum dapat saya simpulkan bahwa membuka hubungan diplomatik dengan Israel diprediksi akan membawa banyak manfaat bagi Indonesia, walaupun resikonya adalah akan ada orang Indonesia yang masuk menjadi Yahudi. Resiko yang amat mengerikan.

Wallahualam bis Sowwab.

12 comments:

Chaikal said...

Fi, mana ada sih orang yahudi mendakwahi non-yahudi untuk masuk yahudi (agama ini bahkan melarang penganutnya menyebut Tuhan, gimana mau dakwah).. persebaran agama ini hanya berdasarkan persebaran genetis.

jadi gak akan ada tuh kompetisi dakwah, apalagi ada orang indonesia masuk yahudi (kecuali turunan yahudi)..

hubungan diplomatik tentu punya pengaruh dakwah islam tetapi melalui mekanisme bahwa "ancaman" semakin dekat..

bahwa yahudi telah secara institutional ada di Indonesia, "ancaman=potensi" semakin riil..

Letjes said...

bung chaikal made a point fi. setahuku yahudi emang berdakwah. beda dg islam dan nasrani. sebatas pengetahuanku ya.

tapi kamu jg bikin poin menarik ttg kompetisi. dan aku setuju bgt. aku pernah menulis yg sama di posting dengan judul ayat2 cinta, fenomena religiusitas, dan pemilu 2009.

slh satu poin yg aku angkat dan km gk angkat, kompetisi bs inter-agama, tp bs jg intra-agama fi. misalkan di islam, ada islam pks, islam liberal, dan islam yg lain. dan itu bgs. krn akan meningkatkan fenomena religiusitas yg meningkat.

btw the economist pernah menulis hal yg mirip ttg religiusitas yg meningkat di AS. kesimpulannya sama. it's all about making a better competition.

well written bung..

Letjes said...

eh ada yg slh.seharusnya, klmt kedua: setahuku yahudi emang g berdakwah. kalimat terakhir paragraf ketiga: kebanyakan meningkat. hehehe...

kelamaan gk nulis nih, jd kacau mw komen.

Gaffari said...

Fi..agama mana pun akan bisa jadi berbahaya bagi siapa pun....
Selama agama itu dijalankan terlalu puritan tanpa mengedepankan toleransi dan kebebasan.

Doktrinasi agama seminggu sekali melalui khutbah jumat tidak efektif selama tidak pernah diubah cara penyampaiannya.i.e. penyampaian dengan menggunakan display, power point, presentasi yg atraktif atau dengan materi berbobot. Bukan asal cuap sana-sini....

Ingat juga, khutbah jumat itu doktrinasi satu arah, kalo ada kesalahan dalam materi yg disampaikan kita tak punya hak untuk meluruskannya, kalo salah yasudah, yang salah itulah yang disampaikan pada khalayak ramai.

Semua agama seharusnya pada intinya punya maksud baik Bung, untuk kebaikan dan kemashlahatan ummatnya....

Saya rasa, semua manusia punya keputusan untuk dirinya sendiri, memilih untuk beragama dan berkeyakinan yang mana, atau beragama sambil menjalankan ritual-ritualnya, atau tidak beragama sama sekali....

La kum diinukum wal yadiin....

Anonymous said...

Wah....kok terkesan memojokkan khotbah jum'at sih...
Terus terang, gw juga kadang2 berpikir, kok kenapa khotbah jum'at isinya kok gitu2 aja...surga-neraka, dosa-kebaikan, akhirat, rukun islam-iman..
Menanggapi comment bung Gaffar? cara penyampaian, oke gw setuju, tapi kalo materi berbobot, apa maksudnya?
Tolong jangan generalisasikan hamba Allah yang hadir dalam sidang Jum'at (yang berbahagia) memiliki kapasitas intelegensia sama seperti anda atau teman2 di starbuckers ini...
Ingat! pendengarnya sangat beragam, mulai dari tukang bakso sampai Profesor...
Silahkan kalo Professor mau tidur...tapi kalo tukang bakso merasakan hal yang berbeda, kan kasian si tukang bakso atau tukang gorengan...
Khotbah jum'at yang isinya "itu melulu" sangatlah wajar, memang tujuannya ke satu arah...
Selama kuliah, gw mendengar khotbah jum'at dalam bahasa arab dan itali di mesjid terbesar di eropa barat (Roma) dan dengan bahasa gujarat di mesjid Noor di kota kecil Preston (kaum Sunni), gw rasa mereka juga menyampaikan hal2 yang "itu melulu."
Dan gw setuju dgn paragraf terakhir loe bung gaf.
Masalah ancaman zionisme dan segala tetek bengek-nya, itu kan masalah cost and benefit aja (menurut pribadi gw).
Sorry kalo commentnya acak2an dan tidak sistematis, namanya juga blog...

Ciao miei amici..
Buona fine settimana!

FBH

Gaffari said...

Selama kuliah, gw mendengar khotbah jum'at dalam bahasa arab dan itali di mesjid terbesar di eropa barat (Roma) dan dengan bahasa gujarat di mesjid Noor di kota kecil Preston (kaum Sunni), gw rasa mereka juga menyampaikan hal2 yang "itu melulu."

Pertanyaannya:
Jar..kok lo bisa tau kalo isi khotbahnya itu2 melulu?
Mmg lo ngerti bahasa Arab and Gujarat?
He3....

Kalo gitu yah yang terjadi memang pd akhirnya khotbah jumat bisa jadi hanya sebagai ritual pengganti dua rakaat solat dzuhur yang hilang dengan solat jumat yang dua rakaat....

Akh..mulai ngawur deh gw comment-nya....

Salam khotib jumatan....

Fajar said...

Wah kalo gujarat gw kagak tau, mirip2 india deh...nehi nehi e....kaya nehi kan "jangan" paling ngomong jangan berbuat dosa...nanti masuk neraka...he3.. :p

kalo di itali, kan ada terjemahan khotbahnya....jadi bahasa arab dulu, abis itu ada yg bacain pake bahasa itali...ngertiah dikit2...

Tapi kalo akhirnya dibilang ritual substitusi, gw sih masih kurang setuju juga...

wah pada pake kalimat akhir araban semua nih.

Wallahualam bis Sowwab...

La kum diinukum wal yadiin....

Waladdoliiinnn Amien,,,,,

luthfi said...

Huahaha akhirnya blog ini kembali menjadi pasar dadakan. gak lagi kayak, meminjam istilahnya bung chaikal, "kuburan"...

saya mau mengembalikan khitah tulisan ini. yaitu membuka hubungan diplomatik dengan Israel. fenomena Khotbah Jumat itu cuman salah satu contoh aja. contoh yang kasat mata menurut saya.

Pada intinya tulisan saya sepakat dengan pendapat Gus Dur walaupun ada resikonya. terungkapnya fakta baru bahwa Yahudi tidak ber-dakwah, justru membuat pendapatnya Gus Dur makin mendekati "logis dan perlu dilakukan".

tambahan: Khotbah jumat yang saya maksud adalah yang baca buku atau dengan intonasi yang dapat membuat profesor sampai tukang bakso akan tertidur pulas.... kalo gak tahan godaan..


Salam

Carlos said...

setahu gw, ada kok agama yahudi yang berdakwah. Namun semacam bagian kecil dari agama yahudi saja. Contohnya agama advent.

Letjes said...

pengen nanggepin soal perlunya hubungan diplomatik dg israel/yahudi. aku kira keengganan kt menjalin hubungan dg mrk alasan terbesarnya bukan agama bung luthfi. tapi politis.

israel adalah negara penjajah. so, klo kt menjalin hubungan dg mrk, itu artinya kt mendukung usaha penjajahan israel tsb. yg aku kira tidak sesuai dengan pembukaan UUD'45 dan juga politik LN bebas aktif milik kita.

hehe.. tumben2 nih nyebut UUD'45 :)

soal khotbah jumat, waduh gk bisa komentar. habisnya tidur terus sih. entah khotibnya mw teriak2 ato apa. hehehe..

luthfi said...

wah parah anda bung....
darah loe udah halal bung kalo begini ceritanya....hehehehehe

kalo unsur politis mah tukang ojek juga udah paham bung. dijelaskan donk seperti apa itu unsur politis. ada masalah gak di deplu...
halah gwe ngemeng apa lagi ni

Wallahualam bis Sowwab

Lakum dinukum waliyadiin

Walladdooollliiin Amiiiin

Letjes said...

waduh kenapa kok darahku yg halal? aku kan menentang hubungan diplomatik dg yahudi.. soal tidur waktu sholat jumat, yah wajarlah bung.. hbs kerja keras di kantor.. hehehe

btw, okelah klo tukang ojek ngerti ini soal politis. tp apa alasannya, pasti mereka lebih cenderung masuk isu agama. padahal bukan itu permasalahannya, tp soal pilihan kebijakan politik LN yang diamanatkan konstitusi kt. tambahan lain, tentunya juga memperhatikan bagaimana tanggapan negara2 lain,trtm shbt2 tim-teng, yang notabene adalah musuh dari israel. plg yg akhirnya ckp positif mgkn cm AS. apakah itu ckp berharga, dg cost-cost yg ada? sy kira tidak. bahkan dari itung2an manfaat ekonominya pun aku kira akan negatif. volume perdagangan kt dengan negara-negara ttt akan merosot tajam, sementara penambahannya tidak terlalu signifikan. akhirnya, aku kira deplu tidak punya alternatif lain.

melihat pertimbangan ini, pendapat Gus Dur tidak logis dan tidak perlu dilakukan. tapi ini baru sekedar hipotesis kasar bung. kt bisa masih berdiskusi lebar ttg hal ini.

wass wr wb..
salam mujahid muda !!!