Wednesday, October 1, 2008

Demokrasi dan Ekonomi

Diskusi di Freedom Institute bertajuk “creative capitalism” pada hari kamis lalu cukup membekas di memori saya. Setelah cukup lama tidak menghadiri seminar di bidang ekonomi, saya cukup takjub mendengarkan “ceramah” dari M. Chatib Basri dan Rizal Malarangeng. Namun demikian ketika saya konfrontasikan dengan saudara M. Firman, apa yang saya rasakan berbeda dengan yang dialami olehnya. Menurut-nya diskusi ini mengecewakan karena tidak sesuai dengan topik creative capitalism. Apa yang diungkapkan lebih banyak keluar dari konteks creative capitalism dan apa yang dipaparkan menurut-nya biasa saja. (correct me if im wrong bung).

Pendapat Bung Firman membuat saya resah. Saya khawatir bidang pekerjaan yang sedang saya lakoni saat ini bukan meningkatkan malah menurunkan standar akademik dan intelektualitas yang saya miliki. Mungkin terdengar sombong dan angkuh, namun memang demikian adanya. Saya melihat secara langsung di beberapa Pilkada, pidato dari para calon Bupati atau Walikota yang kurang bermutu, hanya mengobral janji, mengangkat topik yang itu itu saja dan minim pejelasan mengenai teknis pelaksanaan program.

Ketika sedang membandingkan orasi para calon Bupati/Walikota dengan diskusi di Freedom Institute pikiran saya langsung melayang ke awal februari 2007. Saat itu saya sedang diwawancarai oleh Satish Mishra untuk lowongan di Strategic Asia. Terjadi sedikit perdebatan ketika saya mengungkapkan bahwa “pilkada langsung” sebagai implementasi perbaikan iklim demokrasi tidak baik untuk Indonesia. Selain biaya yang dikeluarkan amat besar (untuk Bupati bisa kurang lebih 4 M per satu putaran), hasil dari pilkada belum tentu menghasilkan pemimpin yang kredibel. Alhamdulillah sampai saat ini pendapat itu belum berubah.

Pendapat ini semakin mengkristal ketika membaca Gatra edisi terakhir yang memuat laporan Forbes tentang kekayaan Raja/Ratu di seluruh dunia. Raja Thailand dinobatkan sebagai raja terkaya didunia dan mengalahkan para Raja dari Arab yang bergelimang minyak. Ia begitu dicintai oleh rakyatnya sampai dijuluki “Rama”, saya sendiri terus terang tidak paham artinya. Ia mempelopori banyak program kesejahteraan rakyat, sehingga secara umum rakyat yakin bahwa kudeta yang dilakukan tempo hari merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Menurut saya apa yang terjadi di Thailand ini merupakan contoh bagaimana demokrasi dan ekonomi tidak mempunyai korelasi yang positif.

Saya yakin pendapat ini bertolak belakang dengan banyak literatur dan logika berpikir akal sehat. Namun demikian apa yang saya lihat dilapangan demikian adanya. Bisa jadi sampel saya masih terlalu sedikit atau bisa juga saya lebih banyak menggunakan judgement pribadi yang bias. Mudah-mudahan saja pendapat ini tidak seperti khotbah Ied pagi ini yang mengatakan bahwa menaikkan harga BBM adalah suatu kemaksiatan. Atau seperti pendapat saudari Siti Musdah Mulia yang mengatakan bahwa Homoseksual diperbolehkan dalam Islam.



Starbuckerseconomists mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Taqabalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faidzin.



1 comment:

Gaffari said...

Bung..
Memang bener kalo dengerin pidato2 di pilkada..parah betul..begitu2 aja..

Lagian di Indonesia, pidato2an gak ngaruh2 amat buat mendulang suara. Banyak juga yang pengikut fanatik walopun jagoannya gak bisa ngomong,kalo pidato baca teks kyk guru ngediktein soal ulangan, atau ikutan talkshow kalo disanggah malah marah2. Kayak gitu aja masih aja ada yg mengidolakan sepenuh jiwa,sambil pake kaos gambar wajahnya dengan amat bahagia..Hi3....