Tuesday, September 16, 2008

Betapa Ironis Negeri Ini!

Betapa ironisnya wajah antara pejabat-pejabat negara dan masyarakat miskin negeri ini ditampilkan saat bulan suci Ramadhan ini. Di saat para pejabat baru-baru ini tertangkap basah (lagi) menerima suap di sebuah hotel berbintang (baca di sini), atau saling bantah dan mengelak menerima traveller check 400 lembar yang masing-masing bernilai Rp. 50 juta (baca di sini), masyarakat miskin di Pasuruan meregang nyawa hanya untuk antri menerima ”zakat” sebesar Rp. 30 ribu (baca di sini dan di sini).

Apa yang bisa dikomentari dari kejadian di Pasuruan ini?


Kita kadang terpukau dengan angka kemiskinan turun (baca di sini). Namun apalah jadinya ketika warga misikin, demi Rp 30.000, harus antri berdesak-desakan, mencoba sekuat tenaga untuk berdiri dan tetap bernafas, bahkan mempertaruhkan nyawa. Lalu apalah yang terjadi di luar sana. Pejabat negara yang menerima uang haram, menikmati kesejukan pendingin ruangan di hotel berbintang, segelas wine, sepotong keju Belanda, sejumput caviar, kepulan cerutu Kuba, dan ditemani gadis-gadis pemuas nafsu. Mereka masih saja bisa tertawa di atas penderitaan rakyat.


Cuma satu kata yang mau gue bilang: GILA!



(Sorry, cuma pendapat pribadi yang emosional dan pandangan subjektif semata....maaf mungkin seharusnya posting ini semestinya tidak masuk blog ini)



7 comments:

luthfi said...

ada satu fenomena lagi yang agak ngenes.yaitu profesi joki di daerah three in one.

Chaikal said...

Keep your anger alive and your idealism ignites, Bung Gaf!

Letjes said...

bung luthfi,emang knp dg profesi joki bung?? bgmn dg profesi pak ogah??

itukan mekanisme pasar aja. demand and suppluy. joki diuntungkan, pegawai kantor sudirman, dan sekitarnya diuntungkan.

:)

luthfi said...

hmmm...
jadi saya melihatnya dari sisi yang agak aneh bung.

pertama saya yakin sekali orang2 itu datang dari jauh hanya untuk menjadi joki.

kedua prakteknya sudah semakin profesional bung. (what i meant by pro is they carry infant, etc).
padahal untuk sekali trip, kalo gak salah cuman 10 ribu dapetnya. mungkin didalem mobil mereka sambil ngemis, jadi si pemilik mobil bisa ngasih lebih dari 10 ribu.

nah, aku ngeliatnya dari sisi easy money bung. hanya dengan berdiri di pinggiran jalan (beberapa sambil bawa infant) bisa di naek mobil plus dapet duit.

Intinya adalah tanpa repot2 dapet duit itu yang paling digemari oleh orang Indonesia. Termasuk saya mungkin dan orang2 yang mati konyol di pembagian zakat....

Letjes said...

soal easy money yg km maksud bung luthfi, malah kt harus bersykur bung.

maksudnya begini. dihadapkan dua pilihan: jadi joki vs jualan mslkan alat2, spt gunting kuku, dll di kereta. jadi joki cm modal berdiri 1-6 jam(+mgkn ongkos ke daerah sudirman) bs dapet bersih 20-30 rb. klo jualan, udah dari pagi sampe mlm dapetnya ya segitugitu jg. net benefit jadi joki lebih besar.

tentu org rasional akan pilih jadi joki. mirip kasus ini jg pengemis. cm modal duduk2 dan berdandan lusuh.

jadi,alhamdulillah masyarakat kt masih rasional.

tp apakah itu hal yg baik? ya, ekonomi kan ilmu yg positif bung. hehehe...

lgan, yg jg harus disalahkan adalah faktor demand. yg make si joki tsb. yah, klo ada demand, ya pasti ada supply bung.

Luthfi said...

itu dia bung. aku sih tidak dalam posisi men-judge mereka benar atau salah. cuman menurutku sih miris aja.
aku pribadi lebih respek sama yang jualan gunting kuku. walaupun itu gunting kuku made in china.

menurut ku sih fenomena joki ini bukan "ada demand, ada supply bung". tapi lebih ke supply creates its own demand kayaknya.

P.s. bukumu belum sempet ku baca

Luthfi said...

hehehehe