Saturday, August 22, 2009

Harga Tiket Pesawat Berbentuk Kurva U Terbalik

Saya diawal bulan kemarin baru melakukan sebuah perjalanan menggunakan pesawat, perjalanannya cukup jauh, melintasi lautan bahkan samudera.

Sebulan sebelum saya berangkat, saya diberitahu untuk booking tiket secepatnya agar dapat harga lebih murah. Ketika itu harga tiketnya sekitar $800an untuk sebuah perjalanan pulang-pergi (return).

Kira-kira seminggu setelah itu, saya pergi ke sebuah outlet maskapai penerbangan untuk membooking tiket untuk perjalanan saya tersebut karena seminggu sebelumnya saya tidak sempat untuk melakukan itu. Lalu teller disana mengatakan bahwa, harga tiket return ke tempat tujuan saya itu senilai $1106,4. (kalo tidak salah inget).

Jelas saya terperanjak mendengar harganya yang mahal banget, sebab saya tau kisaran harga normalnya dan harga itu sudah naik sekitar $ 200 dari harga seminggu sebelumnya. Teller itu bilang bahwa penerbangan menjadi penuh oleh karena kasus bom marriot-ritz carlton kemarin. Sehingga ada exodus wisman dari Indonesia. Jadi pesawat-pesawat almost fully booked.

Tetapi, sungguh aneh karena berita di televisi mengatakan bahwa turis-turis Bali tidak banyak terpengaruh oleh kasus tersebut, dan mereka juga tidak lantas pada pulang kembali ke negaranya. Kalo benar ada exodus, mestinya turis di Bali juga ikut exodus.

Tidak habis akal, demi mendapat harga tiket yang lebih normal, maka saya jambangi sebuah travel agent kenamaan di bilangan pasar festival, kira-kira 2 hari setelah kunjungan saya ke outlet maskapai tadi. Lalu travel agent itu bilang bahwa untuk penerbangan yang sama, harga tiket pesawat adalah $ 910. Dalam hati jadi merasa aneh, kok harganya turun lumayan besar?

Lalu, saya jadi berpikir apa mungkin harga tiket ini akan turun lagi? Sambil membayangkan sebuah pola harga tiket pesawat berbentuk kurva U terbalik (seperti kurva kuznet) dimana harga tiket pesawat pertama-tama akan naik dulu ketika mendekati hari H keberangkatan, lalu kemudian kembali menurun pada waktu sangat dekat dengan hari keberangkatan.

Meski merasa was-was takut gak kedapatan tiket, saya beranikan diri untuk mempercayai pola tersebut. Dan akhirnya benar sodara-sodara, pada waktu kira-kira 3 hari sebelum keberangkatan saja mendapatkan kembali tiket pesawat seharga kurang lebih sama dengan harga sebulan lalu, yaitu pada harga $840.

Saya bersintesa, bahwa pada awalnya, calon penumpang pesawat pada buru-buru booking tiket, meski bisa jadi mereka mem-booking tiket di lebih dari satu maskapai guna men-secure tiket yang terbaik dilihat dari kombinasi harga dan kualitas penerbangan. Lalu, mendekat hari keberangkatan tentu mereka hanya memilih salah satunya saja. Oleh karena itulah saya akhirnya dapat tiket yang saya inginkan dengan harga yang saya inginkan. Karena ada calon penumpang yang telah melepas booking tiketnya.

Jadi, secara umum saya berkesimpulan bahwa harga tiket pesawat berbentuk kurva U terbalik. Sepakat kah Anda? (semoga bisa sekaligus menjawab pertanyaan di comment Chaikal juga)

5 comments:

Chaikal said...

Sayangnya tidak menjawab,, tapi informasi ini sangat berguna, thanks Carlos.

Letjes said...

Klo merujuk ke buku super crunchers, ada banyak variabel yg mempengaruhi harga tiket pswt. di AS sana bahkan ada website yg khusus memberi perkiraan apakah bsk harga tiket akan turun atau naik memperhitungkan variabel2, spt: cuaca, dll.

namun scr umum sih aku sepakat. teknisnya, knp harga tiket bentuk kurva U, ada kaitannya sm dg kelas tiket tsb. kt kenal ada kelas London, yankee, dll yang semua tergantung dg keistimewaan tiket tsb, misal: refundable ato tidak? reendorse ato tidak? bs reschedule ato tidak?

ktk kita pesan agak lama sebelum hr h, biasanya tiket yang dijual masih tiket2 yg pny keistimewaan tsb. akhirnya harganya jadi cenderung lebih mahal. semakin dekat waktu, keistimewaan itu hilang, tiket kelas turun, dan harga pun turun.

namun satu hal, sbg pengamat tiket peswt domestik, kurva U tidak berlaku di setiap maskapai. airasia jelas tidak. semakin dekat waktu dia semakin mahal. sementara itu lion air, hingga sebulan sebelum hari H, harganya pasti masih mahal, baru setelah itu berfluktuasi.

wah udah kepanjangan.. hehe..

Carlos said...

@ chaikal: Sori kalo ga menjawab. Maksud gw jawabannya adalah karena orang boleh booking, padahal belum tentu menggunakan bookingnya. Jadi, maskapai menyediakan slot booking lebih banyak. Untuk menggapai pembeli potensial sebanyak mungkin. Apakah itu jawabannya?

@ letjes: iya, lu benar. Ada tiket maskapai-maskapai yang tidak bersifat u terbalik. Tapi itu mungkin karena harganya memang underprice banget sehingga maskapai itu hampir selalu menjadi first option bagi setiap orang.
tapi kalo kita pikir-pikir ya tjes. Kalo memang ada maskapai yang begitu underprice-nya, lalu bagaimana mereka membiayai cost rutin-nya ya? mungkin septian bisa membantu menjawab hal ini juga?

Bapaknya.DittoReno said...

jawabnya tergantung price policy masing2 maskapai. Setuju dengan Airasia yang murah di jauh hari mahal kala semakin mendekat. Sebaliknya kalo Lion atau Batavia atau Garuda...mahal di kala jauh...semakin murah di saat mendekat. Anyway...untuk peak season...tetap aja gak ada tiket murah......(kalo ini pengalaman pribadi lohhhhh...tidak merujuk ke buku manapun)

Carlos said...

@Bapaknya.DittoReno: Kalo harga tiket air asia yang kita ketahui itu adalah market value atau book value ya?

Terkadang market value dan book value tidak sejalan.