Friday, October 8, 2010

Masa Depan Cinta 212

Seringkali kita menerawang jauh ke depan, menerka-nerka apakah yang akan terjadi kemudian. Sekali lagi masalah cinta, yang perjalanannya kadang tak seindah puisi berbait kata-kata. Yah, lagi-lagi seseorang hadir lagi, berkonsultasi masalah asmara. Memang begitulah dunia, jika rajutan asmara ini mudah diterjemahkan, mungkin sudah selesailah kehidupan dunia.

"Bang, bagaimana nasibku dengan cewekku ini Bang?" Akhhh, kau lagi, sudah berapa kali kau menggerutu masalah dunia percintaanmu dengan Abangmu yang bujang lapuk ini. Seperti tak ada masalah substansial lagi apa? Kau pikir aku ini tukang ramal? Yang bermodal kartu tarot atau membaca guratan-guratan di telapak tanganmu, lalu aku bisa membaca nasibmu? Akh, kau ini, makin hari bukan bertambah dewasa saja.

"Lalu aku mesti bagaimana Bang? Akankah aku bisa menjadi lebih baik dengan cewekku Bang?" Hmm, meski sesungguhnya tak peduli dengan urusanmu itu, tetapi Abang bisa berusaha memprediksi dirimu, tapi sayangnya hanya dalam jangka pendek.
"Jangka pendek? Maksud Abang?" Iyah, Abang tak punya informasi lengkap tentang keadaan faktor-faktor di seputar dirimu. Abang tak tahu bagaimana keluargamu, pendidikanmu selama ini, pekerjaanmu, yang kutahu hanya rupa dan kelakuanmu selama Abang kenal dirimu.

"Dengan Abang hanya tahu tentang perilaku diriku memang Abang bisa meramal keadaanku?" Yah bisa saja, kamu ini bagaikan sebuah variabel, yang bisa bergerak bak sebuah persamaan autoregressive. Ya, AR, kau tahu kan, diri kau sekarang tak lepas dengan dirimu kemarin. Masa lalu membentuk perilakumu sekarang, dan juga saat ini. Hmmm, dan bisa juga dirimu seperti rata-rata bergerak, moving average, dirimu adalah hasil dari perilaku salahmu di masa lalu, dan juga sekarang.

Jadi begitulah kita manusia ini, berdiri saat ini, hasil dari perjalanan jejak-jejak hidup kita di masa lalu, dan ratapan kesalahan (error) kita di masa lalu.

Kau tahu ARMA? "Apa itu Bang?" Yah itu, apa yang aku omongkan barusan, bahasa bekennya, prediksi ARMA. Tunggu, tunggu, tunggu..pembicaraan yang lalu, kau masih punya persoalan kan dengan kejiwaanmu yang tidak stasioner? Kalau begitu, terpaksa aku akan meramal bukan dirimu, tapi perubahan dirimu sekarang dengan waktu sebelumnya. Jadilah kita punya model peramalan bernama ARIMA. Alamak, lebih cantik nama ARIMA dibandingkan nama cewekmu itu!

"Abang sedang apa, seperti asik mengutak-ngatik sesuatu?" Aha, benar-benar beruntung kau, modelmu bak macam kapak sakti Wiro Sableng saja, 212. Kini kita punya model peramalan dirimu ARIMA (212), itu sudah yang paling mantap, tak ada lagi model lain sebagus ini.

"Lalu Bang, bagaimana nasibku 5 tahun lagi?" Apa? Lima tahun lagi? Abang saja punya rekap kelakuanmu dari bulan-bulan selama kita bertemu, sekarang macam manapula kau minta aku ramal tentang nasib asmaramu 60 bulan ke depan. Abang bisa prediksi kau 1-2 bulan ke depan saja mestinya kau sudah bersyukur.

"Lho, kenapa Bang?"
Heh, begini yah anak muda, aku ini meramal kau secara dinamis, ketika kau minta aku mengira-ngira nasib dengan waktu nun jauh ke depan, aku terpaksa menggunakan peramalanku sebelumnya. Kau tahu, ramalanku saja bisa salah, dan alangkah kesalahan itu akan berakumulasi jika aku terpaksa menggunakan hasil ramalanku yang tak jelas benar salahnya untuk meramal kembali nasibmu itu.

"Ah payah Abang ini, meramal kehidupanku dengan cewekku itu kalau 1-2 bulan lagi sih tak ada guna Bang. Aku mau menikahinya 5 tahun lagi, sekarang tabunganku belum cukup, lagian untuk makan saja masih sering minta sama Emak."

Dasar kau ini, pergi sana! Kumpulkan dulu semua informasi tentang dirimu,biarku tak hanya bergantung dengan informasi dari kelakuan dirimu saja. Terpaksa kubuang saja ARIMA (2,1,2) ini, buang-buang waktuku saja....

4 comments:

Carlos said...

Misal data yang dipakai kuartalan, maka arima 2,1,2 artinya si orang ini punya pacar baru tiap 6 bulan sekali ya? Hehehee..

Chaikal said...

Gaff, sepertinya ente dah jadi konsultan cinta, profesi yang ingin segera gw tinggalkan, karena gw dah punya penggantinya sekarang :)

Anw, jika datanya kelakukan seharusnya untuk univariate yang bisa diramal ya kelakukan itu sendiri, jadi kelakukan orang ini kedepan, bukan nasib atau jodoh atau apapun.. (terlebih ada sangkut pautnya dengan orang lain__variable lain)

Jadi gak salah akhirnya jika carlos menginterpretasikan tulisanmu seperti itu..

Bapaknya.DittoReno said...

kagak di meja kerja, blog ini aktif lagi gaf?
sepertinya mesti tuker meja kerja ama meja hotel :)

Anonymous said...

kayanya sebelum memutuskan arima (2,1,2) adalah model cinta yang termakotob, kayanya abang yth perlu konsultasi ke mbah Adjusted R^2, mbah F-test, mbah AIC untuk goodness of fit...

tapi untuk kepentingan script cerita boleh lah kita terima hipotesis nullnya secara posterior...