Thursday, October 7, 2010

Stasioneritas Cinta

Seseorang datang berbicara soal cinta, masa depan asmara, pertalian dua insan manusia.

Hati dan jiwanya sungguh tidak stasioner, kadang pola kejiwaannya memiliki kecenderungan bergerak ke atas ataupun ke bawah. Ya, jiwanya memiliki trend tertentu, kadang dengan varians yang tidak konstan.

Diriku bertanya: "Mengapa kamu seperti itu?" Dia menjawab, "Sayapun tak tahu Bang, secara eksplisit grafis saja diriku kau bisa lihat dengan jelas seperti itu."

Diriku balik bertanya: "Sudahkah kau lihat correlogram jiwamu? Atau sudahkah kamu melakukan uji unit akar?"

Dia menjawab: "Jelas sudah jiwaku yang tidak stasioner itu tergambar dalam correlogram Bang! Si Augmented Dickey-Fuller pun mengatakan demikian,bahkan dia menerima hipotesis jiwaku yang tidak stasioner." "Aku sebal dengan ADF itu, macam manapula dia menyuruhku menjadi turunan pertama atau kedua, diriku ingin tetap yang asli, apa adanya."

Hmm, tak usahlah kau menggerutu seperti itu, masalahmu sebenarnya tidak sulit-sulit amat, kau hanya butuh seseorang yang memiliki jiwa stasioner ataupun tidak stasioner.

"Kok bisa begitu Bang?" Jelas bisa, mungkin saja cewekmu sekarang bisa menangani masalah kejiwaanmu itu. Konsultasilah kamu pada Engle dan Granger, kalau kau tak mau pusing mereka-reka bentuk model jiwamu, datang saja kepada si Johansen.

"Lalu apa yang mesti kutanyakan Bang?" Tanya kepada mereka, apakah kamu dengan cewekmu itu benar-benar jodohmu yang baik, jika kamu menikahinya,kamu bisa menghasilkan kombinasi dua pasang manusia yang stasioner.

"Kok bisa begitu Bang?" Jelas bisa, kita manusia sesungguhnya diciptakan berpasang-pasangan, stasioneritas jiwamu akan tertutupi oleh stasioneritas jiwa cewekmu itu. Atau, jika cewekmu juga tidak stasioner, kegilaan kalian berdua bisa menghasilkan pasangan stasioner.

Abang tak rela jika kamu nekat begitu saja menautkan hatimu dengan cewekmu itu, tanpa kau obati atau kau siasati dulu jiwamu yang tidak stasioner itu. Ingat ya, jika kau tidak dengar perkataan Abang, kalian berdua hanya akan menghasilkan hubungan yang spurious, alias hubungan yang palsu.

"Hoo, begitu ya, baik Bang, akan saya laksanakan perintah Abang!"

6 comments:

Chaikal said...

Mmmhh, nice post, Gaff.. it should be labeled as a new term: "econometrics of love" sounds very interesting.

Anyway, cointegration does not mean that the two are destined to be close, it can be destined to be far away.

So, if you are not destined to be close, only sabar, ikhtiar, and tawakal may change that destiny.

Anonymous said...

Nice Post bung.. sgt menarik..

yg aku bingung tuh sm komennya cekal.. kyknya di postingmu gk ada bilang soal mslh jarak di cointegration.. tp kok tiba2 dia mengangkat masalah jarak ya?

hemmm.. I smell something fishy here.. hayooo refer k siapa? diri sendiri yak? sm siapa? hehehe...

btw judulnya stasioneritas cinta, tapi di dalamnya kok bicara stasioneritas jiwa?

pertanyaan: klo diimplementasikan dalam dunia nyata bung, menstasionerkan jiwa itu gmn ya caranya? hehe

Letjes

Gaffari said...

@Letjes: Gue jg ga paham tuh bung chaikal mengait2kan masalah jarak..
Stasioneritas Cinta lebih menarik Bung dijadikan judul..lagian jiwa dan cinta sama2 merupakan variable abstrak..

Chaikal said...

Berharap dapat respon bagus langsung dari penulisnya, eh malah.. duh duh..

"... Atau, jika cewekmu juga tidak stasioner, kegilaan kalian berdua bisa menghasilkan pasangan stasioner."

Even if they are cointegrated, it does not mean that they are "jodoh", it also means that they are NOT "jodoh."

so, it should be: "...kegilaan kalian berdua bisa menghasilkan stasioneritas baik sebagai pasangan maupun bukan pasangan."

dah ah.

Carlos said...

Tepuk tangan yg mantap buat bung gaff. Tulisan ini ok banget. Bisa diperlebar ceritanya ke arch garch atau structural simultan. Gw rasa kalo pengajar2 ekonometri memakai pendekatan seperti ini akan lebih cepat ngerti para mahasiswa. Top abiss!

Anonymous said...

quote:

"...Atau, jika cewekmu juga tidak stasioner, kegilaan kalian berdua bisa menghasilkan pasangan stasioner..."

aneh ga sih ?

kalo dua-duanya gila (diluar lingkaran kestabilan) bagaimana 2-2nya bisa menjadi stabil ?

kalo ada satu yang diluar lingkaran >1 paling tidak ada faktor yang cukup kecil <1, sehingga bila dikalikan efek akhirnya akan konvergen kesuatu titik kestabilan...

bukan begitu ?