Monday, October 22, 2007

Paradox Lebaran

Kita sudah biasa mendengar berbagai paradox yang terjadi bulan Ramadhan. Salah satunya yang sering diangkat adalah tingkat inflasi yang meningkat akibat demand pull di bulan puasa, bulan dimana seharusnya masyarakat semakin mengurangi konsumsi.

Nah, sepanjang seminggu setelah bulan Ramadhan, kita disajikan paradox yang lain. Lebaran seharusnya identik dengan kebahagiaan dan keceriaan, tetapi di berbagai media kita disuguhi begitu banyak kasus kecelakaan yang menewaskan banyak orang.

Data pada tabel berikut menunjukkan begitu besarnya jumlah kecelakaan saat Lebaran:


Berdasarkan data di atas, kecelakaan pada 2007, meningkat pesat hingga 1063 kasus dari angka sebelumnya pada 2006 yang sudah sangat besar, yakni 168 kasus. Kabar yang agak “membahagiakan” adalah menurunnya jumlah korban tewas di tahun ini. Namun, tetap pertanyaannya adalah kenapa jumlah kecelakaan bisa terus meningkat seperti itu?

Tiap tahunnya pemerintah selalu berhadapan dengan masalah yang sama di saat Lebaran. Tiap tahun pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi. Dan tiap tahun itu pula mereka selalu gagal mengatasi masalah kecelakaan di saat Lebaran. Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mengurangi peningkatan kecelakaan ini?

Permasalahan peningkatan kecelakaan pada masa Lebaran menurutku hanyalah efek dari permasalahan fundamental-struktural dari sektor transportasi kita, yakni ketidak-seimbangan antara jumlah kendaraan dengan infrastruktur yang ada. Coba perhatikan data penjualan mobil berikut:


Sementara itu penjualan motor pun juga jauh lebih hebat. Berikut data penjualan hingga tahun 2006. (note: data penjualan hingga Mei 2007 telah mencapai 1.746.683 unit)

Dengan asumsi mobil terus digunakan hingga 5-10 tahun (di Indonesia mobil usia 20 tahun pun masih banyak dipakai), sementara motor hingga 5 tahun, maka tiap tahunnya penambahan jumlah mobil dan motor, masing-masing melebihi 100%. Secara nominal, penambahan jumlah mobil tiap tahunnya berada dalam angka ratusan ribu, sementara motor bisa mencapai jutaan.

Coba bandingkan dengan penambahan panjang jalan nasional. Berdasarkan data Departemen PU, dari tahun 2000 hingga tahun 2004, rata-rata penambahan panjang jalan nasional per tahunnya hanya sebesar 7,15%.

Logikanya, ketika jumlah mobil atau motor di jalan bertambah 1 unit, maka probabilita terjadi kecelakaan per indidividu akan meningkat. Apalagi ketika penambahan tersebut tidak didukung oleh perbaikan infrastruktur yang signifikan. Probabilita terjadi kecelakaan pun semakin meningkat.

Terkait dengan topik Lebaran, di masa Lebaran, arus lalu lintas jauh meningkat, terutama dalam jarak menengah dan jauh. Akibatnya probabilita terjadi kecelakaan juga akan semakin meningkat. (note: peningkatan penjualan mobil dan motor di tahun 2007 mungkin bisa dikaitkan dengan peningkatan jumlah kecelakaan Lebaran tahun ini)

Melihat permasalahan di atas, peningkatan kecelakaan di saat Lebaran hanya ujungnya saja dari permasalahan yang ada. Terlepas dari berbagai upaya pemerintah atau upaya pengemudi untuk berhati-hati saat berkendaraan, bayang-bayang akan kecelakaan yang mungkin menimpa akan terus ada. Yang harus dilakukan pemerintah bukan hanya melakukan pencegahan-pencegahan di saat Lebaran, tetapi mencari solusi dari permasalahan fundamental-struktural yang disebut di atas.

Untuk itu, pemerintah dihadapkan pada pilihan: 1. Menurunkan jumlah mobil dan kendaraan pribadi (peningkatan pajak sangat disarankan) dan atau 2. Perbaikan infrastruktur. Karena bila tidak, tangisan dan kesedihan saat Lebaran akan menjadi warna yang turut menemani masa Lebaran kita. Berdoa saja bukan kita yang bernasib sial.


6 comments:

Berly said...

Baru aja ketemu blog ini. Wah, makin rame aja nich dunia blog dengan hasil didikan IE –FEUI.

Sedikit ingin tahu, kok bisa tahun 2007 kecelakaan naik 6 kali lipat. Padahal jumlah mobil dan motor tidak meningkat sejauh itu. Apa kira2 faktor lain yg menyebabkannya? Padahal di lain sisi semakin banyak orang yg mudik dengan pesawat terbang


Salam dari KaFE Depok

Letjes said...

jujur aja pertanyaan itu masih belum aku bisa jawab dg pasti. tp dalam kasus lebaran, kendati banyak orang yang menggunakan pesawat, jumlah pemudik yg menggunakan sepeda motor terus meningkat (sayangnya saya tidak memiliki data yg menunjukkan ini, tp dari observasi tampaknya seperti itu). data polantas menunjukkan 60% kecelakaan dialami kendaraan beroda dua.

Gaffari said...

Bang Berly,
Mungkin kita jawab berdasarkan logika umum yang terjadi di Indonesia saja. Pertama, pembelian tiket pesawat mesti dilakukan jauh-jauh hari sebelum lebaran, hal ini tentu berdampak pada sebagian masyarakat yang tidak berani mengambil resiko mengenai kapan kepastian mereka mendapatkan atau dimulainya cuti bersama (begitu pula tanggal jatuhnya Hari Raya). Kedua, tiket pesawat yang dipesan/dibeli dekat menjelang lebaran berujung pada harga yang lebih tinggi, ini menjadi barrier untuk kelas masyarakat menengah ke bawah. Ketiga, jalur darat dianggap masih menjadi preferensi utama masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah. Keempat, melalui jalur darat, sebagian masyarakat memungkinkan dapat berangkat mudik kapan pun, karena beberapa kelas bis atau kereta tidak begitu terikat akan tiket dengan jadwal tertentu. Kelima, jalur darat menggunakan bis atau kereta masih memungkinkan mengangkut di luar kapasitas angkutnya, sehingga penumpang yang diangkut cenederung lebih besar dari hari-hari biasa. Keenam, peningkatan jumlah motor dan mobil jauh lebih besar dibandingkan peningkatan panjang jalan dan perbaikan infrastruktur jalan (note: kredit motor dan mobil yang semakin pesat).

Jadi, walaupun terjadi peningkatan penggunaan pesawat terbang sebagai sarana mudik, tetap saja peningkatannya terbatas dan tidak sebesar dengan menggunakan sarana angkutan lainnya khususnya melalui jalur darat.

Mungkin ke depannya, tanpa ada terobosan yang jelas mengenai percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia, hal-hal seputar kecelakaan yang mewarnai fenomena lebaran terlepas dari faktor human error sepertinya masih akan terus terjadi, atau bahkan menjadi lebih parah....

Rajawali Muda said...

hmm..menarik juga kalo bisa diliat efek dari maraknya internet murah di indonesia, tambahan lagi semakin maraknya pengguna kartu kredit.jadi efek lag yang dibicarakan bung gafar..dengan asumsi demand yang sangat besar pada pembelian online, motong habis marginal cost dari online service, sehingga smua maskapai bisa nawarin semurah air asia (sialnya belum bsa juga), akibatnya orang bisa merencanakan lebih baik pulang kampung, dan mengurangi jumlah pengguna jalur darat.

nice posts guys..

Berly said...

Aku sepakat bahwa swithing ke pesawat tidak terlalu signifikan. Tapi itu terjadi.dan kalau hanya itu faktornya maka data harusnya menceriminkan sedikit penurunan.

Tp malahan ada kenaikan kecelakaan 6 kali lipat tahun ini? Itu kenaikan yang luar biasa padahal walaupun penjualan mobil dan motor naik 2 kali lipat tapi jumlah mobil dan motor tidak naik 2 kali lipat. Bedakan konsep flow dan stock.

Sudah di cek validitas data-nya? Kalau valid dan tidak salah kutip, maka yg paling mungkin adalah reporting bias. Mungkin tahun ini lebih banyak kecelakaan yg dilaporkan atau sistem pencatatan polisi+rumah sakit semakin baik.

Chaikal said...

"kecelakaan naik 6 kali lipat tahun ini"

selain permasalahan kevalidan, menurut saya, karena hali ini menyangkut probabilitas maka sangat mungkin kita berhadapan pada kasus dimana, misal: pada tahun 2007 jumlah kendaraan telah melewati mencapai batas tertentu sehingga menyebabkan probabilitas kecelakaan menjadi sangat besar.

mungkin gak sih?