Saturday, July 26, 2008

Antara Doa, Spekulasi, dan Judi

Sempat lama terpendam di benak saya tentang ketiga kata di atas, doa, spekulasi, dan judi. Tadinya sangat sungkan sekali saya ingin menumpahkannya ke dalam blog ini, namun karena sudah lama absen di forum blog ini, saya beranikan diri untuk menuliskan secuil kata, kalimat, dan paragraf.

Sebagai umat beragama, sudah tidak asing lagi di telinga dan mulut kita tentang apa itu doa. Apabila kita mencari apa arti dari doa, ketika melakukan pencarian di google, banyak sekali saya mendapatkan arti kata doa, antara lain doa adalah senjata orang yang beragama, doa adalah intipati kepada segala ibadah, doa adalah tali penolong, doa adalah denyut jantung, doa adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya, dan lain sebagainya. Anehnya, tak ada satupun definisi doa yang sejalan dengan pikiran saya. Namun, berdasarkan definisi doa yang terakhir, secara implisit dapat dikatakan bahwa doa adalah suatu hal yang tidak dapat dilihat atau diperkirakan sebelumnya.

Sebelum beranjak lebih jauh, selanjutnya saya ingin mendefinisikan arti kata spekulasi. Berdasarkan wikipedia, spekulasi berasal dari bahasa latin, yaitu speculatus, yang merupakan bentuk lampau dari speculari yang memiliki arti "melihat ke depan." Suatu hal yang juga tidak bisa dilihat atau diperkirakan sebelumnya.

Kemudian, kita beralih kepada kata yang sering dianggap tabu di masyarakat, yaitu judi. Judi adalah pertaruhan. Judi seringkali dipakai untuk permainan yang mensyaratkan kepiawaian dan keberuntungan si pemainnya. Judi juga didefinisikan mencoba peruntungan atau mengadu nasib untuk mendapatkan sesuatu yang "lebih". Berdasarkan hal ini, kita juga bisa menganggap judi, lagi-lagi, sebagai suatu hal yang tidak bisa dilihat atau diperkirakan sebelumnya.

Sampailah kita pada bagian akhir dari tulisan ini. Jadi, menurut akal pikiran saya (yang mungkin tidak terlalu sehat kali ini), tidak ada perbedaan yang mendasar antara doa, spekulasi, dan judi. Ketiga kata tersebut sama-sama mengandung hal yang tidak pasti. Dalam hal ini saya membicarakan masalah output dari ketiga kata tersebut. Maka dari itu, dengan akal pikiran saya yang tidak terlalu sehat kali ini, bisa saya katakan bahwa doa sama halnya dengan spekulasi sama halnya dengan judi adalah riba dan hukumnya haram bagi beberapa umat beragama.

7 comments:

Carlos said...

pertama-tama, maaf ya teman-teman karena saya telah lama tidak berkontribusi.

Kedua, selamat bagi rekan Fajar yang sudah mulai merambah dunia filosofi dan mulai meng-explore alam pikirannya lebih dari pada mengkombinasikan pengetahuan yang ada.

Ketiga, tulisan mu ini bagus Jar, coba kalo pas ada waktu kau renungkan lebih dalam lagi mengenai hal ini. Entar pasti kamu akan berujung pada kesimpulan bahwa pikiran manusia adalah murni terbentuk dari teori probabilitas. Dimana teori probabilitas tersebut dipakai untuk mengambil keputusan yang paling optimal dalam hidupnya.

Keempat, jalan keluar dari keruwetan probabilitas dalam pikiran manusia adalah doa dan iman. Dimana probabilitas pikiran dibuat menjadi bernilai 100%.

(mari kita berdialektika mengenai topik ini, mungkin bung chaikal punya pendapat yang ingin disampaikan mengenai hal ini?)

Fajar said...

Apakah blog ini sudah resmi menjadi blog yang santun, formal dalam penyampaian kata2nya, dan menggunakan poin2 utk memberikan komentar? :p

Jadi agak segan nih. :)

Yup, saya sependapat dengan bung Carlos, teori probabilitas.

Jadi, apabila ingin mencapai sesuatu dalam hidup, cukup usaha dan keberuntungan layaknya spekulan dan penjudi.

Chaikal said...

Menyamakan ketiga itu dari sisi "output" merupakan kelemahan paling mendasar.. (intinya gak bisa banget-lah begitu)

Gimana Jar, jual beli dengan riba mungkin memiliki output sama yaitu memperoleh margin dan 'bersetubuh dalam pernikahan dan 'berzina' mungkin memilikin output yang sama, tetapi apakah mereka sama dalam norma agama..

Sebenarnya, kata yang lebih tepat mengikat ketiganya mungkin bukan "suatu hal yang tidak diperkirakan sebelumnya" tetapi "ekspektasi" (harapan).

Manifestasi dari berharap itu bisa dengan berdoa, berjudi atau berspekulasi..

Letjes said...

bagaimana klo aku spekulasi harga minyak bklan naek, trus taruhan ama temen klo harga minyak bklan naek, terus berdoa deh supaya dilapangkan rezeki alias spekulasi ama taruhannya bener..???

Chaikal said...

kayaknya tergantung temen taruhan lu ces, dia berdoa juga atau murni berspekulasi.. nah biasanya, yang murni berspekulasilah yang menang.. wehehe..

a.p. said...

Jar, ada bedanya sih (sementara ini gue nggak memasalahkan dulu soal definisi eksak; antara 'gamble' dan 'bet' itu punya konotasi beda, sedangkan 'spekulasi' itu bisa hanya sekedar prediksi, bisa juga diikuti oleh tindakan).
- Spekulasi dan judi = risk taking.
- Doa = risk sharing/risk mitigation, setidaknya secara psikologis.

Dengan doa, secara psikologis orang memindahkan sebagian risiko kepada pihak lain, dalam hal ini tuhan. Jadi, ketika hasilnya nggak sesuai harapan, sebagian bisa 'ditimpakan' pada tuhan. Meski kerugian riil sama, 'kerugian psikologis' bisa lebih kecil.

Kayaknya dalam agama, risk taking (spekulasi/taruhan) nggak haram per se. Yang diharamkan adalah kalo berlebihan. Nah di sini elu bisa bikin fatwa, "doa yang berlebihan sama seperti candu (kata Marx)..."

Aa' Ape

Andre said...

@a.p

>> bisa 'ditimpakan' pada tuhan ?

kayanya tetep "risk taking" itu..
dimana-mana efek berdoa ya manusianya juga yang nanggung..
Tuhan tidak "menanggung" koq terhadap segala sesuatu yang kita dapatkan.. lha wong Dia yang punya semuanya..


manusia dimana-mana tetap bersandar pada realitas, dan doa bisa membantu manusia "berdiri tegap" untuk jangka waktu terbatas,.. begitu realitas yang didoakan tidak tercapai atau "another reality kicking-in".. efek negative psikologis itu kembali mencengkram...


Satu lagi... doa tidak identik dng judi sebab isi doa khan tidak musti adalah meminta agar dikabulkan...