Friday, April 24, 2009

Bonus Bonus Bonus

Sebenarnya saya tidak terlalu mengerti moneter dan perbankan, tapi kali ini saya coba menulis tentang ini karena ada satu hal yang sangat mengganggu pikiran. Tolong kalo ada kesalahan, bankir atau ahli moneter di blog ini (chaikal, pakasa, dan gaffar) silahkan dikoreksi.

Sebagai awalan saya akan sedikit flashback dan menyeberang ke negeri Paman Sam sana. Masih ingat kasus AIG? ....

Bila tidak, saya coba sedikit refresh. AIG adalah salah satu lembaga keuangan yang terpaksa di-bail-out oleh pemerintah AS seiring dengan kerugian yang dideritanya akibat krisis finansial yang melanda. Meski ada perdebatan soal bail out ini, tapi akhirnya lolos juga. Masalah mulai muncul ketika setelah di-bail out, AIG berencana memberikan bonus kepada eksekutif dan karyawannya. Kebijakan yang kontan memicu reaksi besar dari masyarakat AS, termasuk Presiden Obama, yang menganggap kebijakan itu sangat tidak tepat dan tidak beralasan. Udah untung dibantuin, eh di saat rakyat sedang kesulitan karena krisis dan udah berkorban buat nutupin kerugian yang notabene salah eksekutif-eksekutif AIG dan bukan salah rakyat, bisa-bisanya si AIG memberikan bonus menggunakan duit itu. Muke gile kali ye.. ;)

Sekarang coba Anda bayangkan jika Anda menjadi rakyat AS........

Pertanyaannya adalah apakah Anda akan memberikan reaksi yang sama? Saya kira jawabannya pasti ya. Namun satu hal, ketika anda menjawab ya, jawaban itu sungguh lucu dan ironis. Tidakkah Anda sadar, bertahun-tahun lamanya, praktek yang mirip, terjadi di Indonesia, tanpa satupun yang bereaksi sebagaimana jika Anda membayangkan menjadi rakyat AS di kasus AIG tadi.

Untuk menjelaskan itu, sejenak kita harus flashback lebih jauh ke tahun 1998, dimana ketika terjadi krisis perbankan, pemerintah terpaksa mengeluarkan apa yang disebut dengan obligasi rekap untuk menyelamatkan bank-bank yang ada. Jumlahnya kurang lebih sekitar Rp 430 T. Hingga sekarang, pemerintah masih harus menanggung beban bunga obligasi rekap tersebut, dengan jumlah lebih dari Rp 60 T per tahunnya, yang dibayarkan kepada bank-bank tersebut.

Nah sekarang kita coba lihat laporan keuangan salah satu bank terbesar di Indonesia. Berdasarkan posisi per Januari 2009, tercatat di sisi aktiva obligasi pemerintah sebesar Rp 87 T. Angkanya tidak jauh berbeda dengan Januari 2008 yang sebesar Rp 88 T. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa sepanjang 2008 obligasi rekap di bank tersebut sekitar Rp 87 T.

Bunga obligasi rekap adalah bunga variabel mengikuti SBI 3 bulan. Sepanjang tahun 2008, bila kita mengacu data BI, dengan sedikit menyederhanakan dan sebenarnya underestimate, kita tetapkan rata-ratanya sebesar 8,5%. Dengan menggunakan tingkat bunga sebesar itu, didapatkan pendapatan bunga dari obligasi rekap saja sebesar Rp 7,4 T.

Nah disini mulai bagian yang sedikit ironis. Tahukah kalian berapa laba bersih bank tersebut di tahun 2008? jawabannya adalah sedikit lebih dari Rp 5 T. Sekarang saatnya matematika sederhana, Rp 7,4 T > Rp 5, sekian T. jika Rp 7,4 T itu dihilangkan, hemmm.....

Mulai kepikiran kasus AIG tadi tidak??? belum ya. klo belum kita lanjut lagi..

Yang lebih ironis, karena mendapatkan laba yg kebetulan meningkat dibanding tahun lalu, para eksekutif diguyur bonus yang sangat besar. Berdasarkan koran (sy lp koran apa) kemaren total-total remunerasi direksi dan komisaris bank ada yang mencapai 800 juta/bulan. Buset dah !!!!! 800 juta/bulan!!! hampir 800x gaji PNS golongan IIIA tuh... (kenapa dulu gk jadi bankir aja ya :( ... )

mulai terihat kesamaan dengan kasus AIG tadi kan ??? .....

Yups, > Rp 60 T duit pembayar pajak, alias rakyat yang masih banyak miskin tersebut, digunakan buat bonus para eksekutif bank-bank kita. Bahkan akibat akuisisi dari bank asing, obligasi rekap ada yang akhirnya dimiliki bank asing. Komplit sudah... duit rakyat digunakan untuk mensubsidi mereka yang berdasi dan bermobil mewah + ditransfer ke orang-orang asing di luar sana. Fiuuhh.... dahsyat nian negara ini. Harus diubah nih statusnya,, dari negara berkembang jadi negara maju... ;p

Tapi belom selesai sampai disitu saja, ada lagi yang lebih ironis. Subsidi > Rp 60 T ke orang kelas atas dibiarkan saja, ngasih Rp 100 rb per bulan ke orang miskin (total tidak sampai Rp 10 T per tahun) ditentang habis-habisan. Subsidi BBM, dinikmati ratusan ribu oleh pemilik mobil mewah juga dibiarkan saja.. ups ini topik yang laen lagi.. maaf maaf.. terbawa emosi..

Sungguh ironis. Mungkin saya salah. Tapi yang patut disyukuri dari sini adalah kita dapat simpulkan bahwa rakyat Indonesia adalah orang yang sabar dan sangat murah hati... :) ohiya, saya harus objektif juga, harus diakui bahwa obligasi rekap ini berhasil menyelamatkan kondisi perbankan kita di saat krisis.

NB: maaf nih, gaya nulisnya masih gaya sok asikk.. hehehe.. moodnya lagi gk mw bikin seriuss.. ;)

9 comments:

Anonymous said...

Saya akan coba menanggapi tulisan dari bung letjes, meskipun saya juga awam tentang moneter dan hanya tahu sedikit soal banking.

Untuk kasus AIG, sangat berbeda dengan kasus obligasi rekap 1998. Dimana perbedaannya?:
1. Obligasi rekap pada waktu krisis 1998, diterbitkan oleh pemerintah Indonesia yang kemudian dibeli oleh bank2 bermasalah dengan menyerahkan ekuitas mereka ke pemerintah beserta harta benda lain dari pemegang saham lama. Jadi dalam kasus ini Pemerintah adalah debitur, sementara bank2 bermasalah itu adalah kreditur. tapi klo dilihat lebih dalam, pemerintah adalah debitur dan kreditur pada saat yang bersamaan. Skema ini akan membuat Risk Weighted Asset dan ekuitas bank2 bermasalah tersebut membaik, sehingga CAR nya bisa melonjak drastis. Dalam skema ini, sebenernya uang dari obligasi rekap hanya berputar-putar ditangan pemerintah. Pemerintah bayar bunga obligasi rekap, bank dapat pendapatan, lalu laba bersih, dan laba bersih ini akan meningkatkan posisi ekuitas pemerintah di bank tersebut, atau dibagikan sebagai dividen. Dalam skema obligasi rekapitalisasi ini, pemerintah punya "exit strategy" melalui program divestasi. Disinilah sebenarnya menurut saya pangkal permasalahan terjadi. Pemerintah tampaknya hanya memiliki "exit strategy" untuk keluar dari ekuitas bank tersebut, yaitu dengan menjual porsi ekuitasnya kepada swasta. Sementara itu, tidak ada "exit strategy" untuk obligasi rekap yang tidak memberatkan pemerintah. Akhirnya, ketika kepemilikan sudah berpindah ke swasta, pemerintah tetap memiliki kewajiban untuk membayar bunga obligasi rekap tersebut, dan membayarnya ketika jatuh tempo ke pada pemilik baru bank2 tersebut. Menyedihkan..
2. Bagaimana skema AIG? Dalam skema penyelamatan AIG, pemerintah US bertidak sebagai KREDITUR (bukan debitur seperti pemerintah indonesia). Pada tahap awal, AIG mendapatkan mendapatkan US$ 85 Milyar dengan tenor selama dua tahun dan bunga 8.5% diatas 3M-Libor. Berdasarkan libor saat ini, tingkat bunga yang harus dibayar ke pemerintah US, sekitar 11.5%, saya rasa diatas yield dari sovereign bond indonesia. Jadi bunganya sangat mahal..!! Tidak cukup sampai disitu, pemegang saham AIG juga harus rela terdilusi, karena 79% saham AIG kini juga dimiliki oleh Pemerintah US, for free. Jadi pemegang saham AIG mendapatkan punishment yang sangat berat atas kesalahan mereka. Tingkat bunga yang tinggi yang harus ditanggung sama AIG akan memaksa mereka juga untuk segera mengembalikan pinjaman yang diberikan tersebut. So, jadi kelihatan kan bedanya obligasi rekap dan skema bail out di US?
Berdasarkan analisis gw, pemerintah US gak pernah rugi ketika mereka melakukan bail out. Dari Brady Bond, sampai bail out credit crunch ini. They are smart to do things like this...
3. Tentang bonus untuk para eksekutif AIG. Nilai bonusnya klo gak salah sekitar US$ 165 Juta. Saya akan menawarkan cara pandang lain tentang masalah ini. Let's put on this way. Elo bekerja keras sepanjang tahun, memberikan kontribusi profit kepada divisi elo, but...at the end of the year, perusahaan elo bilang bahwa elo gak akan dapet bonus atas profit yang udah elo buat,seperti yang dijanjikan ketika elo tanda tangan kontrak, hanya karena ada temen2 elo di divisi lain yang fuck-up sehingga bikin rugi perusahaan secara keseluruhan. Then what will you do? klo gw, gw akan tuntut perushaan itu.

Septian

Letjes said...

wah thx to atas masukannya. dapet byk hal dr komen-mu.

klo dipikir-pikir lagi, emang judulnya jadi gk pas nih. perlu diganti.

krn sbnrnya aku jg gk menyamakan mekanisme bail out kasus AIG dan obligasi rekap, tetapi bagaimana penggunaan duit taxpayer yg akhirnya utk pemberian bonus, dll.

utk kasus indonesia, duduk2 aja direktur bank bs dapat pendapatan 7 T setahun dr duit taxpayer, lah ini kok malah labanya cm 5 jt, eh diberi gaji 800 jt sebulan pula krnnya. (agak terlalu menyederhanakan sih, hehe)

terkait dg poin terakhir mu to, harus dipikirkan jg, para tax payer yang lebih gk tau apa2, sebenarnya duit mrk bisa dipake buat jalan, ngasih BLT, dll, eh malah dipake buat bonus karyawan2 yg udah bikin krisis. klo aku jadi mereka, aku bkl tuntut tuh perusahaan ;)

Letjes said...

judulnya aku ubah teman2.. jadi lebih gk jelas.. hahaha.. :) mlg buntu nih.. ;)

Anonymous said...

Letjes,
Gw kan tidak menyebabkan krisis, malah gw membuat divisi gw menjadi profit. Yang menyababkan krisis itu temen2 gw, So why i can't get my bonus..?

Septian

Letjes said...

tp to,

aku sbg rakyat awam taunya kan nih AIG yang bikin kacau dan bikin aku merana. which means semua karyawan AIG kena. dgr km dpt bonus dr duit yg bs dipake sm aku buat beli sembako, yah wajar kan klo tidak menyetujui rencana itu..

lgan klo km blg kan temen2mu yg bikin kacau. lah kenapa gk diingetin dr dulu2.tuhkan temenmu! bukan temenku. kaliankan sm2 karyawan AIG. cuma itu yg aku sbg orang awam perlu tahu.

agak gk adil. tp ya bgt kenyataannya

;)

Anonymous said...

"bekerja keras sepanjang tahun, but...at the end of the year,elo gak akan dapet bonus atas profit yang udah elo buat,hanya karena ada temen2 yang bikin rugi perusahaan. klo gw, gw akan tuntut perushaan itu."

maaf saudara septian, u should put this way, jika gov't USA nggak ngasih bail-out, tentu AIG keparat itu udah gulung tikar. dan semua karyawannya tentu di phk.
jadi pilih mana? gak dapet bonus tahunan ato di phk??
'udah untung' dikasih bail out, eeh malah ngelunjak... behaviournya masih sama kayak sebelom krisis. ibaratnya misalnya lo korban situ gintung yg rumah mewah lo tertimbun dan gabisa dipake lagi, dan lo terpaksa numpang di rumah kerabat lo. bayangin perasaa kerabat lo kalo dirumah dia lo masih berperilaku kayak di rumah sendiri. misalnya kayak setel musik keras2, berantakin ruangan, seenaknya bawa temen2 lo dateng kerumahnya trus pesta2 sampe pagi. dan lo gamau diprotes karena lo berpendapat lo gapunya salah apa2 terhadap bencana alam tsb,seenaknya bilang itu salah pemerintah karena gak ngerawat waduk tsb. dan lo ngerasa punya hak untuk tetap hidup normal seolah ga terjadi apa2?? walaupun faktanya lo sekarang hidup berkat 'belas kasihan' pihak lain....

Anonymous said...

Bung Anonymous,
Hehehe...tidak udah esmosi bung, coba kita lihat lebih detail sebenernya apa yang terjadi dengan AIG, yang sepengetahuan saya tidak bisa dianalogikan dengan musibah situ gintung seperti yang anda sebutkan. Tolong koreksi klo saya salah:
1. Klo misalnya googling, ada banyak yang menjelaskan kronologis kasus di AIG. Kita mulai dari struktur bisnis AIG. AIG merupakan perusahaan Asuransi terbesar di dunia, jadi bisnis utamanya adalah Asuransi. Kerugian yang dialami oleh AIG disebabkan oleh salah satu unit investment mereka yang menerbitkan Credit default Swap atas CDO yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga keuangan lain, salah satunya adalah Lehman Brothers. Atas penerbitan CDS ini, selama credit rating AIG masih superior, dia tidak diharuskan memberikan collateral, namun ketika AIG rating di downgrade maka mereka harus memberikan collateral. Credit crisis di AIG dimulai pada september 1998 ketika dia mengalami kesulitan likuiditas, kerugian di CDO trading yang menyebabkan AIG mengalama downgrade dan menyebabkan adanya collateral call dari prime brokerage nya. Celakanya AIG tidak bisa memenuhi jaminan tersebut yang akhirnya mengharuskan AIG di bantu oleh Federal Reserve. So it's all about liquidity at the first sight. CDS yang diterbitkan ini kemudian terus mengalami kerugian seiring dengan kondisi global yang semakin memburuk. (untuk cara kerja CDS anda bisa membaca lebih detail di wikipedia).
So bagaimana dengan perbonusan? Saya setuju seratus persen bahwa divisi investasi AIG yang menerbitkan CDS, para trader yang menyebabkan kerugian di CDO tidak layak sedikitpun mendapatkan bonus.
Tapi bagaimana dengan orang2 yang di divisi asuransi mereka..? para sales yang berhasil meraih target penjualan asuransi, sehingga menurut kontrak kerja yang dahulu mereka tanda tangani, mereka layak mendapatkan bonus..? Bagi saya mereka layak tetap mendapatkan bonus. Tapi untuk para trader itu dan orang2 di divisi investasinya, mereka tidak layak sama sekali.
Pemerintah US sebenernya juga mensiasati masalah bonus ini dengan baik, klo saya tidak salah mereka akan mengenakan pajak yang sangat tinggi untuk bonus yang diterima dari perusahaan2 yang menerima dana bail out.
So bagaimana bung anonymous..?
btw, boleh tau namanya gak? hehehe
Septian

Chaikal said...

kayaknya harus dibedain juga antara bank di indo yang memenag BHMN dan di Amrik,, jelas treatment-nya jadi beda.. terus di Amrik itu anti banget ma namanya nasionalisasi, jadi sekali lagi treatmentnya beda.. untuk lebih detail kasus indo ya bung firman bisa baca lagi lah, terus di buat presentasinya,, jumat ini kita diskusi.. ok guys?

anw, untuk masalah bonus,, yang saya bingung kok bisa ada bonus, bonusnya dari mana? he3, sorry..

Anonymous said...

waduh, kok saya dipanggil bung...
ternyata starbucker itu paternalistik jg yah... :)

saya melihatnya dr segi conduct prersonalnya. bagaimanapun jg, dana yg dipakai utk bonus tsb adalah dari para taxpayer di US...
its about corporate morality

kalau mas septian melihat dr sisi personal employee yg sudah bekerja keras dan tiba2 mereka harus menerima kenyataan tak ada bonus sesuai kontrak, well.. shit happens, right?