Thursday, April 2, 2009

Shalat Jamak dan Makna Efisiensi

Shalat, khususnya shalat lima waktu, merupakan kewajiban bagi setiap manusia yang berstatuskan Islam sebagai identitas kerohaniannya. Sebagai salah satu rukun Islam, "shalat" sangatlah dianjurkan demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan, konon katanya, shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Singkat saja, dalam tulisan ini saya hanya ingin menguak masalah efisiensi, sebagai konsekuensi dari sangat gencarnya gerakan atau kampanye untuk menyelamatkan bumi. Baru-baru ini ada gerakan "Earth Hour" yang disponsori oleh WWF dan beberapa institusi yang peduli akan keselamatan bumi dengan cara mematikan lampu hingga 1 jam lamanya. Dan saya yakin masih banyak lagi gerakan-gerakan atau tindakan-tindakan yang bertujuan untuk menyelamatkan bumi.

Untuk mencegah utopisme dalam pengaplikasiannya, maka dari itu, saya memiliki ide untuk menyelamatkan bumi, khususnya untuk melestarikan keberadaan air di bumi ini. Dan berdasarkan judul di atas, jelas saya akan mengikutsertakan umat Islam dalam proses aktualisasi penghematan air di dunia.

Sebagai penganut agama Islam, sudah tidak asing lagi kita mendengar kata "jamak." Jamak digunakan sebagai cara umat Islam untuk melakukan dua waktu shalat di dalam satu waktu. Dalam hal ini, menggabungkan shalat maghrib dengan isya dan shalat dzuhur dengan ashar, baik itu jamak takhir maupun jamak takdim.

Sekarang, kita masuk ke makna efisiensi. Secara kasar, melakukan shalat dengan cara dijamak, otomatis dapat menghemat waktu (dengan catatan bahwa si pelaku shalat memiliki halangan yang reasonable). Selain itu, sesuai dengan judul yang diangkat dalam tulisan ini, saya lebih memfokuskan diri pada penghematan guna menyelamatkan bumi.

Secara logika, apabila kita ingin melakukan shalat, jelas kita membutuhkan air (wudhu). Meskipun kita juga diberikan keleluasaan (dengan syarat dan ketentuan berlaku) untuk bertayamum (wudhu dengan debu). Namun dalam hal ini, kita asumsikan sumber air tersedia dimana-mana.

Jika kita shalat (wajib) lima kali dalam sehari, pastinya kita butuh lima kali pengambilan air wudhu. Untuk air wudhu, kira-kira air yang dibutuhkan sekitar 4-5 liter. Berarti 5 liter dikalikan dengan 5, berarti kira-kira untuk shalat wajib adalah 25 liter. Namun, jika kita melakukan shalat dengan di jamak, secara matematis kita hanya melakukan pengambilan wudhu sebanyak 3 kali. Jadi, 3 dikalikan 5 liter sama dengan 15 liter. Dalam sehari kita bisa menghemat 10 liter air.

Bayangkan jika, ada 200 juta manusia yang melakukan shalat lima waktu dan melakukan pengambilan wudhu sebanyak lima kali. Jadi 5 liter dikalikan dengan 5 dikalikan lagi dengan 200 juta sama dengan 5 miliar liter air akan dihabiskan. Kemudian jika shalatnya dijamak, 5 liter dikalikan dengan 3 dikalikan lagi dengan 200 juta sama dengan 3 miliar liter air akan dihabiskan. Jadi kalau shalatnya dijamak, otomatis akan menghemat sebanyak 2 miliar liter air per hari.

Jadi, kita dapat berkontribusi dalam gerakan penyelamatan bumi dengan cara menghemat air. Apabila ada pemeluk agama Islam yang menjamak shalat lima waktunya, maka secara langsung, dia telah membantu gerakan penyelamatan bumi.

Jadi, sekarang terserah anda, mau dijamak shalatnya atau tidak?




11 comments:

Letjes said...

hahaha... bung fajar dg aliran jamakiyahnya..

udah ada berapa jamaah bung di aliran anda??

Gaffari said...

setiap orang punya pembenarannya masing-masing.

memang beberapa studi pernah mengatakan bahwa konsumsi air di negara2 yg mayoritas muslim mmg lbh tinggi.

kapan2 studi ttg itu bs di-embed di blog ini. cuma gw lagi males search-nya..hehehehe....

Chaikal said...

Jar, hubungan wudlu ma sholat kagak linear,, dalam arti lu bisa wudlu satu kali aja untuk sholat selama2nya (jika mungkin)..

jadi kalo mo hemat bukan sholatnya dijamak, tapi wudlu-nya dipelihara: abis sholat, sholat sunah, ngaji, terus sholat lagi, belajar fiqih, sholat lagi, belajar mikroekonomi, sholat lagi, sholat sunah, sampe waktu sholat lagi, terus banyakin puasa, jadi jarang batal, ok?

nah kayaknya intinya di puasa deh, ini jalan paling efektif dan komprehensif untuk efisiensi!! (undoubtedly!) dan jelas2 ini lah yang dicontohkan oleh Nabi, sahabat, dan alim ulama'' (bukan sholat jamak)..

anw, di atas itu cuma saran, karena sayapun tidak begitu, maaf..

Gaffari said...

jadi niat solat or puasa karena lillahi ta'ala apa demi efisiensi????

Chaikal said...

Niat lillaahi ta'ala itu adalah niat yang paling efisien, Gaff''

Fajar said...

@ Bung Leces: kalo masalah pengikut aliran, gw gak ikut-ikut ces, nanti dianggap sesat lagi, macam ahmadiyah, lalu aliran yang menggunakan ritual senggama sebagai cara pendekatan diri pada Tuhan, kemudian ada si pedofil Syekh Puji. Jadi, aliran jamakiyah itu hanyalah sebatas wacana belaka.
@ Bung Gaf: Tuh kan bener, ternyata elo meng-iya-kan bahwa konsumsi air di negara-negara mayoritas muslim itu sangat tinggi. Niat utamanya memang harusnya lillahi ta'ala tapi niat turunannya bolehlah yang sifatnya duniawi.
@ Bung Chaikal: Memang kakak kita yang satu ini selalu menelurkan gagasan/ide yang sangat bermanfaat bagi saya pribadi, he3. Terima kasih ya mas, atas sarannya. Berarti selanjutnya kita galakkan gerakan puasa bersama demi menyelamatkan bumi ini.

Gaffari said...

Tapi jar, sepertinya terlalu terburu-buru juga berkesimpulan. Antara salat jamak dan makna efisiensi.Masalahnya lo sndiri blom jelas mendefinisikan efisiensi itu apa.

Kalo dlm konsep mikro, suatu perusahaan dianggap efisien ketika mampu mengolah biaya input minimal untuk menghasilkan output yg optimal. Dsini msk analisis isocost dan isoquant.

Apa dgn solat 5 wktu mnyebabkan penggunaan air tdk efisien? blm tentu. Kalo yg mendefinisiakn output-nya adalah kehidupan di akhirat, dmana utility-nya bs dianggap tnp batas, pengorbanan air wudu tak seberapa dbandingkan output yg mgkn didapat.

Dalam soal seberapa air yg pas utk berwudu, itu soal efisiensi teknis. Dan soal sbrp efisien manfaat air yg terbuang, itu soal efisiensi alokasi.

Itu sajalah, nanti komen-nya tkt kepanjangan....

Fajar said...

Wah kalo yang dimaksud Gaffar itu mungkin cenderung ke efektif kali ya? bukan efisien.
Dalam hal ini, gw cuma fokus dalam hal efisiensi teknis. Khususnya bagaimana kita menjaga ketersediaan air di muka bumi.
Kalo masalah hubungannya dengan yang Maha Kuasa, gw lebih cenderung melihatnya ke arah efektif bukan efisien.
Jadi inget pelajaran manajemen. Apa bedanya antara "Efektif" dan "Efisien"?
Efektif = Doing the right thing
Efisien = Doing the thing right

Luthfi said...

kalo gak salah emang konsumsi air di negara mayoritas muslim itu lebih tinggi. pernah ada emang jurnalnya.

tapi perlu juga dilihat konsumsi tissue di negara-negara yang tidak ber-istinja?

logisnya sih konsumsi tissue mereka lebih tinggi. Which is related with penebangan hutan.

kalo konsumsi air untuk wudhu sepertinya tidak dibuang deh. yang ada di alirkan kembali ke tanah. yang nantinya tanah akan menyaring untuk jadi air bersih lagi.

cuman kalo konsumsi tissue jelas dibuang. Karena tissue gak bisa diubah lagi menjadi pohon.

menurut saya aliran jamakkiyah sih oke-oke aja selama masih sholat dan mengikuti cara-nya Rasulullah. kalo sholatnya pake bahasa Indonesia atau imamnya Aminah Waddud itu baru agak nyeleneh.

Carlos said...

Efisiensi mestinya sih, biaya tetap output maksimal atau output tetap biaya minimal. Intinya harus ada satu komponen tetapnya. sulit kalo kita buat biaya minimal output maksimal, sebab tar program optimisasinya gak berjalan.

They also call me Moli said...

wah, sholat dijamak kan ada ketentuannya. kalau menginginkan hemat air, bukan solatnya yang dijamak, tapi wudhunya yang dipelihara. menjaga tetap suci supaya waktu solat berikutnya tidak perlu wudhu lagi!! hemat banyak manfaat, walaupun sulit. tidak perlu harus puasa, tapi menjaga makanan, hindari makan2an seperti daging merah dan yang berprotein tinggi biar ga buang gas!!