Wednesday, April 1, 2009

Menjelang Pemilu 2009

Bentar lagi Pemilihan Umum 2009 akan dimulai tanggal 9 April nanti. Pemilihan untuk anggota legislatif DPR, DPRD I, DPRD II, dan DPD. Jumlah partai yang sangat banyak, belom lagi caleg-calegnya, membuat kertas suara begitu besar. Tentunya, semakin sulit bagi masyarakat dihadapkan sejumlah pilihan. Secara teknis pun pelaksanaan Pemilu 2009 akan lebih ruwet, terutama yang tak pernah mengikuti atau bahkan mencoba memahami tata cara Pemilu yang baru secara benar.

Belum lagi potensi Golput yang cukup besar, bukan hanya soal teknis menjadi kendala para calon pemilih dengan menerima kenyataan namanya tidak terdaftar dalam daftar pemilih, namun juga banyak yang secara "sadar" memilih untuk Golput.

Pemilu setelah era reformasi memang mencoba meletakan pilihan masyarakat sebagai prioritas dalam menentukan wakil-wakilnya serta pemimpin negeri ini. Berbeda dengan era Orde Baru, di mana siapa dan apa yang akan memenangkan Pemilu sudah jelas, otoritarian di masa itu punya kekuatan besar menentukan pilihan dalam Pemilu. Namun apakah saat ini di masa rakyat memiliki kekuatan lebih dalam demokrasi akan membawa negeri ini ke arah lebih baik?

Saya sedikit ragu, atau apakah akhirnya seperti apa yang dikatakan George Bernard Shaw, dalam Man and Superman (1903) "Maxims for Revolutionists" menjadi terasa benar, yang saya kutip seperti berikut:

"Democracy substitutes election by the incompetent many for appointment by the corrupt few."

Artinya, demokrasi pada akhirnya hanya memindahkan penentuan kekuasaan dari sekelompok kecil yang korup kepada orang banyak yang tidak kompeten. Terutama di Indonesia, pemilih yang cerdas lebih sedikit dibandingkan pemilih yang gampang dimobilisasi oleh pihak-pihak tertentu, tentunya dengan imbalan secukupnya. Apalagi, banyak kaum intelektual memilih untuk Golput (mungkin termasuk Anda?).

Apakah itu akan terjadi? Kita lihat saja....

Selagi masih ada waktu untuk berfikir, apabila ada yang mau tahu lebih banyak tentang Pemilu di Indonesia, bisa lihat di sini.

4 comments:

Carlos said...

great bung..
dah lama ini blog kosong.
gw setuju ama tulisan lu...

Pemilu ini akan menghasilkan 2 hal: satu, anggota legislatif yang terbaik, dan dua, caleg gagal yang stess..

apa mungkin ketua umum partai gagal menjadi anggota DPR yah?

Gaffari said...

Iya los..dah lama kosong..pada sibuk apa ya orang2 skrg?

Los, kadang ada partai yg memaksakan tim sukses di suatu daerah untuk memenangkan calon A. Padahal daerah punya putra daerah unggulan di calon B. Kalo ketua partai mgkn bakal habis2an tim suksesnya untuk menggolkan dirinya. Meski di daerah pemilihan yg selama inipun dia gak pernah tinggal dsitu.Itulah realita.

Letjes said...

demokrasi pada akhirnya hanya memindahkan penentuan kekuasaan dari sekelompok kecil yang korup kepada orang banyak yang tidak kompeten."

sayangnya di negara kt yg terbentuk 2-2nya bung. korup dan inkompeten. hehehe

akhirnya blog ini mulai bergairah kembali. jd tergugah utk kembali mengambil laptop yang tlh lama tergeletak dan memaenkan jari tangan di keyboard yg telah berdebu.

bnr2 merindukan suasana diskusi ditemani frappucino caramel di tangan kanan dan selembar paper di tangan kiri.

Luthfi said...

saya sepakat bung..momen itu unforgetable

segelas caramel frappucino and the freedom to talk anything you want without being afraid to be blamed false or not comprehensive enough.