Monday, December 17, 2007

Asian Idol #1: Mekanisme Voting

Ketika pertama kali mendengar akan ada Asian Idol, pertanyaan dan keraguan muncul tentang hasil akhir yang akan dihasilkan. Mekanisme voting apa yang akan digunakan panitia? Karena bila mengacu pada mekanisme voting yang biasa, maka juara hampir pasti diraih oleh wakil India, kemudian diikuti wakil Indonesia sebagai runner up, dan wakil Singapura akan meraih urutan paling buncit.

Dengan mekanisme voting biasa, dimana pemirsa memilih satu dari ke-6 calon Asian Idol, maka pemirsa sudah dipastikan akan memilih wakil negaranya. Misalkan saya, sudah pasti akan memilih Mike ketimbang Hady Mirza, kendati misalkan kemampuan bernyanyi Hady Mirza jauh lebih baik. Asian Idol pun akhirnya tidak ditentukan dengan siapa yang memiliki kualitas olah vokal terbaik, tetapi negara mana yang punya populasi terbanyak.

Untungnya kekhawatiran itu akhirnya tidak terbukti. Panitia dengan cerdasnya menerapkan mekanisme voting yang bisa menghilangkan bias populasi tersebut. Dengan mewajibkan pemirsa untuk memilih dua negara, maka kondisi yang tercipta adalah seperti ini: pemirsa pasti akan memberikan satu slot untuk wakil negaranya, lalu memberikan slot yang lain (seharusnya) pada penyanyi dengan suara terbaik. Dengan mekanisme seperti ini, (seharusnya) penyanyi dengan suara terbaik yang akan menang.

Hasil dari Result Show Asian Idol tadi malam menunjukkan bahwa memang akhirnya bias populasi tidak terjadi. Namun sayangnya, mekanisme ini tidak mampu melawan bias ketampanan (hehe.. Kenapa Hady Mirza yang menang, bukan Mike atau Mau? Kita akan bahas ini lebih dalam pada posting berikutnya).

Walau begitu, melihat penerapannya di Asian Idol dan terlepas dari hasil akhir yang “agak mengejutkan”, penerapan mekanisme voting dengan mengharuskan pemilih untuk memberikan dua pilihan akan sangat baik digunakan pada kondisi-kondisi dengan kecenderungan bias golongan/identitas sangat besar. Dan saya rasa mekanisme ini akan sangat cocok diterapkan di Indonesia, dimana gumpalan-gumpalan golongan, gumpalan-gumpalan identitas lebih besar mewarnai dalam berbagai pemilihan.

Contohnya seperti ini: bayangkan di sebuah pilgub ada 4 calon (A, B, C, D) yang masing-masing berbeda suku. Si A adalah calon yang sukunya adalah mayoritas di daerah tersebut, sementara si D adalah calon dengan suku sangat minoritas. Kerap terjadi di Indonesia, kendati bila ternyata si D adalah calon paling bersih dan punya program yang terbaik, sentimen suku menyebabkan si A yang menjadi pemenang. Ketika mekanisme voting yang mengharuskan pemilih memilih dua calon, kita bisa berharap banyak si D yang akan menang, terlepas dia adalah minoritas di daerah tersebut.

Sayangnya mekanisme ini masih menyisakan PR, yakni yang terbaik belum tentu menang.

3 comments:

dendi said...

Ini ada referensi yang relevant ditulis supervisor dan teman saya
www.eco.rug.nl/~haanma/esc.pdf

ini orangnya:
www.rug.nl/staff/m.a.haan/research

mungkin bisa jadi bahan referensi,
dendi

Letjes said...

wah terimakasih buat respon cepatnya mas dendi. papernya sangat relevan banget. sy baca dl malam ini mas.

Gaffari said...

Bung leces, memang secara populasi Singapore penduduknya kecil. Kalah jauh dibandingkan India atau Indonesia. Namun, perlu dilihat juga dari pendapatan per kapita. Dalam hal ini akan terkait dengan penggunaan telfon selular, dan juga akses terhadap tontonan Asia Idol diantara penduduknya.

Dengan tarif sms yang cukup mahal utk mengikuti voting sms, di Indonesia Rp. 2000/sms tentu akan menjadi kendala tersendiri untuk negara dengan ekonomi penduduknya yang belum begitu mapan. Hal ini, di Indonesia tentu akan bias kota-kota besar. Penduduknya masih memiliki income lebih untuk mengikuti voting tersebut.

Jadi wajar jika walaupun Singapore penduduknya lebih sedikit namun dengan tingkat income penduduknya yang tinggi dan akses terhadap hiburan juga lebih bagus, maka wakil dari Singapore bisa unggul.

Sepakat dengan Bung Leces bahwa mekanisme Asian Idol pada akhirnya tidak menghasilkan pemenang yang secara kualitas lebih unggul.