Friday, December 28, 2007

Sandra Dewi

Pada suatu siang, di sebuah fakultas ekonomi dalam suatu ruang kelas mata kuliah mikroekonomi terjadi dialog antara mahasiswi—cantik lagi pintar—dengan seorang dosen wanita—muda lagi cantik—yang kebetulan belum menikah.

Dialog tersebut tentu saja, berkenaan tentang topik yang sedang dibahas yaitu pasar persaingan sempurna. Berikut adalah dialog diantara keduanya yang sempat terekam dengan sayup-sayup oleh seorang dosen muda yang kebetulan sedang melewati kelas tersebut, yang kebetulan pula masih jomblo, yang tentu saja tidak kebetulan untuk mengagumi kedua wanita cantik tersebut):

DMWLC: Jika perusahaan-perusahaan dalam pasar persaingan sempurna mengalami economic loss maka akan terdapat perusahaan yang exit dari pasar sehingga dalam jangka panjang, perusahaan dalam pasar persaingan sempurna akan memperoleh zero economic profit.

kelas hening sebentar, tapi tiba-tiba..

SD: Maaf Ibu, bolehkah saya bertanya?

DMWLC: oh ya, silahkan, sebelumnya sebutkan dulu nama kamu...

SD: Sandra Dewi, Bu... (yah bukan FEUI donk... sedih deh—red)

DMWLC: ok, kamu mau nanya apa?

SD: mmmh begini Bu, mengapa economic loss harus membuat perusahaan exit dari pasar, bukannya jika perusahaan ini exit tetapi harga masih diatas AVC maka justru perusahaan akan loss lebih banyak? Apakah yang exit itu maksudnya perusahaan yang harus shuts down?

DMWLC: Mmmhh, pertanyaan yang bagus Dewi Sandra... (berpikir sejenak, kemudian berbicara dalam hati) ”jika memang yang exit adalah yang shuts down maka seharusnya kondisi economic loss tidak menjadi alasan yang cukup untuk membuat perusahaan exit dari pasar, lalu bagaimana ini?”

hening cukup lama... tapi kemudian mahasiswa/wi mulai bisik-bisik, semakin keras dan kelas akhirnya bising bukan kepalang...

DMWLC: ”oh oiya itu dia” (sambil menggertak meja kemudian dengan suara lantang) Anak-anak, siapa yang mau mencoba menjawab pertanyaan Dewi Sandra? (metode efektif dosen untuk sejenak melarikan diri—red)

MJ: (protes secepat kilat dengan suara keras) namanya bukan Dewi Sandra, Bu.. tapi Sandra Dewi!!

DMWLC: Oh iya ya, maaf ibu lupa... Ibu ingatnya Dewi Sandra.. artis ibukota yang terkenal ituloh. Ok kalo begitu, (sambil menunjuk ke MJ) kamu saja yang jawab pertanyaan Sandra Dewi!

MJ: (sangat pelan) Ow ow, God…

kelas hening lagi, menunggu jawaban si MJ.. lama sebentar...cukup lama...masih hening...

DMWLC: ayo jawab, kenapa kamu diam saja.

MJ: (lidahnya semakin kelu, namun pikirannya justru melangkah cepat dan semakin jauh menuju ke sekitar bilangan, sebuah warung kopi, tempat biasa ekonom muda berkumpul. Sesampainya, masih dengan nafas yang tersenggal dia berkata) “Maaf, adakah disini yang bisa membantu saya? please....”

7 comments:

Anonymous said...

Kal, makanya loe kawin... tidak lama lagi loe masuk tahap "Krisis 30"... Jangan patah hati melulu, padahal tanpa pacaran... :-))

Anonymous said...

gampang Kal, bilang aja: "belum diajarin Bu Dosen", hehe.

Letjes said...

wahwahwah ini semacam ujian buat ekonom2 muda yg suka nongkrong di starbucks ya? hehehe...

Chaikal said...

Oi mas, for a man above 30's the market of love is more competitive. so just relax lah, he3..

barb michelen said...

Hello I just entered before I have to leave to the airport, it's been very nice to meet you, if you want here is the site I told you about where I type some stuff and make good money (I work from home): here it is

Anonymous said...

Menurut saya, anggap MJ adalah seorang adam dan SD adalah seorang hawa, Protes secepat kilat ttg nama SD menunjukkan sikap melindungi gadis impiannya yang bernama SD. Disinyalir MJ memang jatuh hati kepada SD. Untuk lebih menunjukkan kehebatan MJ di kelas, dengan segala keterbatasan pengetahuannya ttg ekonomi industri, yang bisa dilakukan MJ hanyalah menyeletuk dan memprotes hal2 yang minor dan gak penting, termasuk masalah nama.

Yang bisa dilakukan MJ adalah teruslah berkelit, teruslah menyeletuk, terus lindungi SD dengan segala keterbatasan, dan tersenyumlah kepada dosennya.


(Lagi banyak ingus di hidung dan menyebar ke otak sehingga tidak bisa berpikir dengan baik)

-Pojok 412-

Anonymous said...

Klo ini asumsinya satu pasar, tinggal pindah kepasar yang lain.

Tapi klo general equilibrium, dalam teori ekonomi memang perusahaan akan out bila harganya diatas harga pasar.

Tapi Sebagai perusahaan bukan tidak mungkin perusahaan akan berhenti operasi sementara (hibernate not shut downs)untuk mencari cara kembali survive dipasar....

C'04