Sunday, May 18, 2008

Efektifkah Inflation Targeting?

Ada sebuah tulisan sangat menarik oleh peraih Nobel Ekonomi 2001 Joseph E. Stiglitz dalam artikelnya The Failure of Inflation Targeting. Dalam artikel tersebut, Stiglitz seperti menggugat bagaimana kebijakan moneter yang dilakukan Bank Sentral dengan menggunakan inflation targeting tidak bekerja maksimal dengan menghadapi tingkat inflasi saat ini yang dihadapi ancaman peningkatan harga minyak internasional dan komoditi yang terus menanjak.

Tugas Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi, bukanlah inflasi secara keseluruhan. Namun, Bank Indonesia hanya bertugas mengendalikan inflasi inti (core inflation). Sedangkan bagian lain seperti volatile food dan administered price sebagai bagian tingkat inflasi secara keseluruhan yang berasal dari peningkatan harga makanan dan dampak kebijakan fiskal bukan bagian dari tanggung jawab Bank Indonesia.

Sayangnya, kedua bagian terakhir pembentuk inflasi tersebut justru yang sedang mengancam tingginya tingkat inflasi. Tingginya harga komoditas, peningkatan harga bahan pangan, serta rencana peningkatan harga BBM sebesar 30 persen tentu akan semakin mendorong tingginya tingkat inflasi di Indonesia. Secara teoritis, inflasi ini bisa dijelaskan melalui cost-push inflation, di mana aggregate supply tereduksi akibat production cost yang semakin meningkat, seperti apa yang ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Lalu, kebijakan moneter seperti yang diungkapkan Stiglitz dalam artikelnya pada negara-negara penganut Inflation Targeting (salah satunya Indonesia) akan bereaksi meningkatkan tingkat suku bunga dengan tujuan untuk mencegah semakin berkurangnya nilai riil mata uangnya akibat tingkat inflasi yang terus meningkat. Tetapi, di satu sisi ingin menyelamatkan nilai riil, namun peningkatan suku bunga tersebut akan menyebabkan disinsentif bagi investasi dalam peminjaman modal dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Hal ini mengakibatkan menurunnya permintaan agregat (aggregate demand).

Berdasarkan grafik di atas, apabila peningkatan suku bunga ditentukan secara tepat, akan mengembalikan tingkat inflasi seperti kondisi sebelumnya. Namun, di sisi lain hal ini akan berdampak pada menurunnnya tingkat pendapatan nasional (Y) yang semakin besar. Tapi sekali lagi ingat, tingkat inflasi saat ini banyak yang di luar kemampuan Bank Indonesia. Peningkatan harga minyak internasional, menyebakan imported inflation pun semakin besar. Selain itu, peningkatan pada harga kebutuhan pokok akan semakin mendorong tingkat inflasi karena merupakan faktor pembentuk harga dengan porsi yang cukup besar dalam perhitungan Indeks Harga Konsumen.

Mungkin, sangatlah kita berbeda dengan Amerika, penetapan tingkat suku bunga oleh Federal Reserve sangatlah memberi pengaruh besar pada perekonomian baik domestik maupun global. Sedangkan di Indonesia, saat ini pengendalian tingkat inflasi secara keseluruhan akan sangat sulit, dan kebijakan inflation targeting tidak akan terlalu efektif untuk menurunkan tingkat inflasi secara keseluruhan. Peningkatan suku bunga tentu akan menggerus permintaan aggregat, dan hal itu akan terus terancam apabila daya beli masyarakat terus tertekan dengan tingkat inflasi akibat volatile food dan administered prices yang juga terus membayangi.

8 comments:

Letjes said...

menurutku kenapa akhirnya kebijakan ini bisa berbeda antara indonesia dan beberapa negara lain, terutama terkait efeknya thdp core inflation, disebabkan proporsi komoditi yang dikategorikan ke dalam core inflation tsb.

di indonesia, lebih dari 90% komoditi dimasukkan ke dlm kategori core inflation, sementara di beberapa negara hanya kurang lebih 40%. Oleh karena itu wajar bila BI kesulitan mengendalikan core inflation.

Carlos said...

terlepas dari haluan stiglitz yang mulai kontra main-stream, gw cukup percaya dengan hipotesa dia ini.

klo gak salah dulu paul volcker dalam kondisi hampir mirip saat ini, emang malah tambahkan Ms dulu secara besar2an lalu dalam waktu seketika dia naikkan suku bunga dengan sangat tinggi sekali.

Gaffari said...

Lalu, apakah nanti bila terjadi peningkatan harga BBM sekitar 30 persen akan terjadi kembali polemik mengenai penetapan suku bunga.

Tahun 2005 lalu, akibat peningkatan harga BBM sebanayk 2 kali (rata-rata 30 persen dan 90 persen) inflasi mencapai 18 persen. Namun saat itu suku bunga ditetapkan 12 persen. Secara real, apabila memperhitungkan inflasi secara keseluruhan, nilai mata uang menjadi minus 6 persen.

Lalu, BI menyatakan bahwa saat itu, tanggung jawabnya hanya pada core inflation sebesar 10 persen.

Apakah saat ini perhitungan real nilai mata uang bener2 berpengaruh dengan keputusan masyarakat dalam menaruh kelebihan likuiditasnya?

Chaikal said...

waah, Bung Gaff akhirnya mengangkat sesuatu yang sudah cukup lama saya simpan untuk diperbincangkan..

Literatur teori maupun empiris menegaskan variabel riil-lah bukan nominal yang menentukan..

Banyak peneliti ketika membicarakan SBI naik atau turun mereka terjebak dalam kerangka nominal, misal jika kemaren SBI naik sebesar 25 basis poin, sebenarnya BI tidak sedang melakukan kebijakan kontraktif karena disaat yang sama inflasi naik lebih dari 25 basis poin..

Secara riil BI menurunkan tingkat suku bunga, i.e. kebijakan moneter ekspansif..

Nah, sehubungan dengan nilai riil ini peningkatan suku bunga dengan mendorong AD shift ke kekiri bukan kebijakan kontraproduktif tetapi lebih bersifat inefektif karena nilai Y secara riil masih sangat mungkin konstan..

Untuk menjadi kebijakan yang efektif, BI harus mampu menurunkan P lebih besar daripada penurunan Y. Bagaimana untuk mencapai kondisi tsb? Nah tugas ini lebih merupakan tanggung jawab anda sebagai calon central bankers untuk sedari sekarang mempelajarinya, he3..

Demikian Bung Gaff menurut saya, salam.

Gaffari said...

Untuk menjadi kebijakan yang efektif, BI harus mampu menurunkan P lebih besar daripada penurunan Y. Bagaimana untuk mencapai kondisi tsb?

Nah Bung Chaikal, sebagai orang yg terlahir duluan mendalami bidang moneter, menurut Anda apakah juga usaha tersebut terkait juga dengan mekanisme transmisi yang ditempuh? Saya kok jadi agak2 nge-blank..Maaf kalo ngaco....

Letjes said...

menurutku komennya si bung chaikal agk aneh nih. "penurunan P harus lebih besar ketimbang penurunan Y"

pertama, ketika BI memutuskan untuk kontraksi, dia targetnya adalah tingkat inflasi (P)-- tugas utamanya. jadi dia gk peduli kepada Y.

kedua. klo emang dia menggeser AD ke kiri, pastinya dia pengen untuk menurunkan Y. jadi menurutku kok gk mslh ya degree penurunan P atau Y.

thx

Chaikal said...

Bung Leces, silahkan tanya Bung Gaff kenapa bawa2 Y secara beliau dah jadi central bankers sekarang, ini juga pertanyaan saya waktu bahas paper-nya Bung Carlos..

Tapi apapun penjelasannya, disimpulkan saja: secara de jure BI target inflasi tetapi secara de facto BI taget inflasi dan juga Y... setuju?

Nah karena sudah bermain dalam tataran implementatif, bisa dilihat jadinya: kebijakan BI yang efektif secara de facto dalam tataran analisis Bung Gaff adalah yang sudah saya sebutkan itu, ok Bung Ces, tq anw salam.

Anonymous said...

Ada salah satu penelitian dari salah satu leading economist Indonesia, yang meskipun tidak meneliti secara khusus kebijakan IT ini, namun saya rasa cukup berkaitan.. Di penelitian tersebut (yg sebetulnya ingin mengaitkan kebijakan makro dengan kemiskinan),pada periode 1997 - 2007, beliau meregress slope dari AS dan AD, dan hasilnya menunjukkan bahwa kurva AS lebih landai dari kurva AD.. Ini berarti, untuk mengendalikan inflasi, maka kebijakan AS lebih efektif, dan kebijakan AD seharusnya digunakan untuk mendorong pertumbuhan.. Kembali, dalam penelitian tersebut, bila suku bunga dinaikkan, maka yg terkena dampak buruknya adalah golongan miskin, dan distribution income menjadi lebih timpang.. Kesimpulannya, saya setuju dengan pendapat Stiglitz...