Sunday, May 25, 2008

Untuk apa berpuisi?

Sudah mendengar puisi Bangkit-nya Deddy Mizwar, mmmmhh… pastinya lebih bisa dihayati dari pada iklan retorika seorang pemimpin partai dan seorang mantan jenderal (ngapain coba ngabisin duit bermilyar-milyar hampir setiap bulan hanya untuk.. hanya untuk… ah sudahlah, saya tidak bisa melengkapinya)

Anw, apa-sih arti puisi untuk kehidupan ini? Apakah puisi punya peran dalam pergerakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara? Atau apakah pada akhirnya, Deddy Mizwar hanya sibuk untuk bercuap-cuap?

Bagi saya, sebagai seorang pecinta puisi, jawabnya jelas puisi punya peran dan pastinya dengan magnitude yang cukup signifikan. Dan lebih khusus bagi ekonom, puisi ternyata memiliki peran yang cukup signifikan, setidaknya itu yang telah dibuktikan oleh artikel ini bahwa judul yang puitis untuk paper empiris memberikan margin empat kali lebih besar (positif) untuk di-sitasi dibanding yang tidak dan memiliki pengaruh yang negatif untuk artikel teoretis dengan margin dua kali lebih kecil.

Kesimpulan bagi ekonom, puisi punya peran signifikan tetapi dengan magnitude yang beragam. Pelajaran lainnya adalah jika ekonom menyampaikan teori gak usahlah beretorika terlalu banyak, demikian Bung2 Starbuckers...

Sebagai tambahan berikut beberapa judul artikel yang dianggap puitis dalam paper tersebut:

Metaphor: “Digging for Golden Carrots” (Taylor, 1995)
Personification: “Ant, Rationality, and Recruitment” (Kirman, 1993)
Oxymoron: “The Optimality of Myopic Behavior” (Leahy, 1993)
Synecdoche: “Competing Head-to-Head May be Less Competitive” (Klemperer, 1992)

5 comments:

Anonymous said...

jadi inget quotation yang gw suka mas..."Janganlah menjadi ekonom yang jago dalam retorika, akan tetapi lemah dalam implementasi." :D

FBH

Bapaknya.DittoReno said...

bukankah ekonom memang bertugas menyusun rasional kebijakan ( it means retorikanya policy), sementara yang ngejalanin ya....administrasi kebijakan?

Carlos said...

Ya setuju

Chaikal said...

Waduh kayaknya semua pertanyaannya ke fajar neh.. Jar jawab Jar apa maksud implementasi di quote itu?

Sekali lagi, artikel tsb hanya menyimpulkan kalo ekonom sebaiknya sedikit 'beretorika' ketika menyampaikan hal-hal empiris, tapi kalo teori ya straight forward aja..

Anonymous said...

Woy....sorry baru sempet nih....

Indonesia memang sepertinya perlu mengirimkan duta2 bangsanya utk belajar public policy atau major yg bersentuhan dgn sektor riil lainnya dibandingkan mengirimkan duta2 bangsanya utk belajar economics. :D

FBH