Tuesday, February 17, 2009

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah

Seiring dengan semakin parahnya krisis keuangan global, banyak ekonom yang cenderung pesimis dengan kondisi perekonomian dunia dalam 2 tahun kedepan. Menteri Keuangan di hampir seluruh negara sedang giat melakukan program stimulus guna menyelamatkan perekonomian domestik masing-masing negara. Dalam hal ini paket dan besaran stimulus berbeda di tiap negara tergantung dari tingkat keparahan krisis.

Membuka kembali sejarah krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998, salah satu penyebab utama krisis adalah nilai tukar Rupiah yang turun sangat dalam. Kondisi serupa sedang terjadi belakangan ini, walaupun dalam magnitude yang lebih kecil dibandingkan keadaan tahun 1998. Ekonom A. Tony Prasetiantono di Kompas (Senin 16-02-09) mengulas beberapa faktor-faktor penyebab tren melemahnya nilai tukar rupiah. Diantara lima faktor yang dibahas, terdapat tiga faktor yang dapat dikatakan penyebab utama tren melemahnya nilai tukar Rupiah. Faktor tersebut adalah:
1. Penurunan Surplus Perdagangan.
2. Penurunan Arus Modal Masuk.
3. Penurunan Suku Bunga BI.


Penurunan Surplus Perdagangan
Dengan melemahnya perekonomian dunia, permintaan barang dari Indonesia secara logika akan menurun. Menkeu Sri Mulyani dalam rapat dengan DPR mengatakan bahwa Ekspor Indonesia bulan Januari turun menjadi 5.5% dari sekitar 12% (YoY). Tren penurunan ini telah terjadi sejak Desember 2008 dan diprediksi akan terus mengalami penurunan selama kondisi perekonomian global belum membaik. Berikut data Ekspor-Impor dari BPS pada bulan Desember.


Walaupun secara keseluruhan kinerja ekspor dalam tahun 2008 mengalami peningkatan dari tahun 2007, namun pada akhir tahun 2008 tren penurunan kinerja ekspor mulai terlihat. Sebagaimana dapat dilihat pada tabel diatas, persentase perubahan ekspor dari November 2008 ke Desember 2008 mengalami penurunan di seluruh komoditi terutama pada Komoditi Hasil Minyak sebesar -58.19%. Sedangkan pada Komoditi Non Migas penurunan ekspor terjadi sebesar -8.84%. Penurunan kinerja ekspor tersebut berdampak pada menurunnya permintaan akan Rupiah. Sehingga apabila kinerja ekspor tidak membaik, maka nilai tukar Rupiah diprediksi akan terus mengalami pelemahan. Chain effect yang secara logis dapat terjadi selain melemahnya Rupiah adalah meningkatnya pengangguran. Hal ini dikarenakan banyak produsen atau pabrik yang mengalami over production sebagai akibat dari penurunan permintaan dari abroad.

Poin penting yang dapat didiskusikan adalah menurunnya kinerja ekspor juga mengakibatkan penurunan permintaan akan USD. Sehingga seharusnya penurunan kinerja ekspor tidak berdampak signifikan pada melemahnya Rupiah. Namun demikian hal ini baru dapat dikonfirmasi apabila ada hasil regresi pada data terkait.


Penurunan Arus Modal Masuk
Krisis perekonomian global mengakibatkan aliran dana pada emerging markets seperti Indonesia mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan investor mencari tempat yang aman untuk memarkir dana, sehingga negara dengan tingkat resiko tinggi seperti Indonesia mulai ditinggalkan. Fakta yang terjadi kemudian adalah investor tetap memarkir dananya di US treasury bonds walaupun yield-nya negatif. Fenomena ini disebut flight to quality. Berikut data balance of Payment Indonesia yang dirilis oleh BI.


BOP ( Juta USD)

Penurunan Suku Bunga BI
Faktor terakhir yang menyebabkan Rupiah tidak kunjung menguat adalah penurunan Suku Bunga BI menjadi 8.25 persen. Penurunan tersebut dapat dikatakan membuat arus modal asing semakin menjauh, sehingga tekanan pada permintaan akan Rupiah meningkat. Beberapa referensi mengatakan bahwa kondisi yang menyebabkan penurunan tersebut adalah deflasi yang terjadi akibat penurunan harga BBM. Dalam hal ini BI berani menurunkan suku bunga karena laju inflasi lebih rendah dari yang diperkirakan. Sehingga dapat dikatakan penurunan tersebut merupakan upaya BI untuk meningkatkan likuiditas di pasar, sehingga sektor riil masih dapat bergerak walaupun arus modal asing banyak yang keluar. Namun demikian apakah kekuatan modal domestik mampu menopang jalannya perekonomian? Implikasi kebijakan ini pada perekonomian baru dapat dilihat dalam beberapa bulan kedepan.

Prediksi Nilai Rupiah
Nilai tukar Rupiah dalam beberapa bulan kedepan diprediksi masih akan melemah. Faktor penting yang menurut saya dapat mempengaruhi kekuatan Rupiah adalah arus modal asing yang masuk ke Indonesia. Dalam hal ini program stimulus fiskal yang akan dilakukan oleh Barrack Obama merupakan momen krusial perekonomian AS. Apabila program tersebut berhasil membawa AS keluar dari krisis, maka kemungkinan meningkatnya arus modal asing ke Indonesia menjadi besar. Hal ini kemudian diharapkan dapat kembali meningkatkan nilai tukar Rupiah. Namun apakah meningkatnya nilai tukar Rupiah merupakan hal yang baik bagi perekonomian Indonesia? Wallahualam bis Sowwab

8 comments:

Letjes said...

bung,km nulis penurunan kinerja ekspor akan menurunkan permintaan Rupiah. tapi terus km blg jg penurunan ekspor akan menurunkan permintaan dolar (yang berarti permintaan Rupiah naik).

sbg orang awam aku akan bertanya, Jadi yg bener mn bung? make up ur mind bung! ;)

aku mgkn gk terlalu concern dengan AS bung. asumsinya, ya sudahlah dia resesi. yg lebih mengkhawatirkan adl china, yg tadinya diharapkan bs mendorong ekonomi dunia, lalu Rusia (dpt info dr seto). Rusia ancur2an.

ktk itu terjadi, pd akhirnya semua orang akan lebih memilih utk keep duitnya. gk akan ada aliran dana ke EM.

lalu di bagian kesimpulan. pertanyaanku adl melemah hingga berapa bung?

Luthfi said...

itu dia bung..saya sendiri juga bingung. dua-duanya kayaknya cukup masuk akal. tapi yang bener yang mana perlu ada hasil regresinya.

itu yang aku gak punya. males cari datanya. internet disini lemot banget.

btw tulisannya banyak yang udah aku edit lho bung. jadi yang kekirim di email beda ama tampilan di blog

Anonymous said...

Hmm...mungkin otak gw aja yah yang lagi error..Tapi kira2 begini:
Penurunan kinerja ekspor jelas akan menurunkan supplai dollar di dalam negeri, dan bukan menurunkan permintaan USD. Nah klo kita bicara konteks indonesia saja, saya kurang mengerti bagaimana penurunan kinerja ekspor bisa menurunkan permintaan rupiah. Jadi mohon penjelasannyaa.
Menurut pendapat saya, penurunan kinerja ekspor akan mendepresiasi rupiah jika permintaan dollar di dalam negeri inelastis, yang dihadapkan kepada ekspor kita yang menurut saya cenderung elastis terhadap perkembangan ekonomi global (meskipun hal ini harus diuji secara empiris). Beberapa penelitian yang pernah saya baca, menunjukkan secara general dibutuhkan waktu 18 bulan bagi impor untuk turun ketika ada depresiasi mata uang sebuah negara.
Mengapa saya menduga ekspor kita elastis? Klo kita lihat struktur ekspor kita, ambil contohnya ekspor migas, perkebunan dan pertambangan, ketiga jenis ekspor tersebut kan sangat sensitif terhadap kondisi perekonomian dunia. Jika banyak orang berprediksi bahwa ekonomi global akan membaik, biasanya akan diikuti kenaikan harga minyak,gas, CPO, Karet, dan bahan2 tambang yang melimpah di Indonesia, seperti Batubara dan Nickel. So menurut saya dalam hal ini ekspor kita sangat sensitif terhadap ekspektasi pertumbuhan ekonomi dunia.

Untuk bung letjes
saya pikir kita tetap tidak bisa mengabaikan AS. Titik berat global imbalance ada pada Wilayah asia timur, khususnya China sebagai pengumpul surplus terbesar, dikontraskan dengan AS yang memiliki defisit mahadasyat. Jadi dalam konteks ini pemulihan ekonomi di AS serta bagaimana proses stimulus disana bekerja sangat mempengaruhi sekali bagaimana perekonomian dunia, tidak terkecuali dengan China. Data terakhir yang saya miliki, 30% ekspor China itu adalah ke US, dan porsi yang cukup besar pula ke Uni Eropa. Perlu disadari pula bahwa pertumbuhan ekonomi China yang begitu cepat, terutama konsumsi di sektor domestik, itu dipengaruhi oleh diadakannya Olimpiade 2008 kemarin. Banyak industri2 dibangun untuk mensupport diadakannya even olahraga tersebut. nah ketika olimpiade usai, maka industri2 tersebut harus mencari pasar baru, baik di dalam negeri ataupun di luar negeri. Saya belum membaca bagaimana stimulus yang akan diberikan oleh pemerintah china. Namun sepintas yang saya baca porsi untuk pembangunan infrastruktur cukup besar.
Pertanyaan terakhir bung letjes akan keberapakah rupiah..? hehehehe menurut saya hanya Tuhan yang tahu persisnya. bagi saya memprediksi nilai tukar itu hanyalah sebuah masturbasi intelektual hehehehe.


Seto

Anonymous said...

ini adalah masalah endogeniy pada penjelasan seto.

Carlos

Letjes said...

stlh dipikir2 aku jadi semakin pusing sendiri. tapi seingatku scr teori, exchange rate mempengaruhi ekspor ato impor, bukan sebaliknya. kecuali mo maksain.. tapi pertanyaannya seandainya dipaksain, emang seberapa besar pengaruhnya? correct me if i'm wrong.

bung seto bukannya aku mengabaikan AS.tetapi aku menempatkan AS pada the worst scenario.tp ini slh jg sih. tp entah knp aku pesimis dg stimulus fiskal obama. apalg stimulus fiskal indonesia.

Chaikal said...

Inilah mengapa, kalo ujian PI, secara rata-rata anak IE kalah ma anak manajemen dan akuntansi.

Anak IE gak cukup dengan textbook ampe2 textbooknya dilupain..

Luthfi said...

berarti harus diganti namanya bung
PI berdasarkan textbook atau
Perekonomian non empiris Indonesia

Anonymous said...

Bung Letjes,
Sepertinya setuju sama bang carlos, bahwa ada kemungkinan endogeneity problem disini.

seto