Friday, November 21, 2008

Indonesia Economic Outlook 11/14/08



The beginning of the end of the financial crisis? Perhaps... The beginning of the end of the recession? Far from it. (Jean-Marc Lucas, BNP Paribas)


Resesi ekonomi global membuat memburuknya sentimen perekonomian yang juga berdampak pada Indonesia bersamaan dengan kecenderungan timbulnya flight to quality. Indikator pertama yang tergoncang adalah IHSG dan nilai tukar Rupiah.

Seiring dengan tekanan terhadap Rupiah, intervensi moneter yang pantang menyerah membuat cadangan devisa semakin menipis, dan merosot tajam sampai 50.58 Milyar USD pada November 2008. Kenaikan BI rate secara bertahap tidak dapat menghalangi perginya hot money dari perekonomian Indonesia. Padahal hal tersebut dilakukan ketika bank-bank sentral lain secara umum menurunkan suku bunga acuannya. Namun, 4 jurus kebijakan GWM valas BI dinilai cukup berhasil dalam mengatasi keringnya suplai USD di pasar domestik, sehingga sempat sedikit memberikan pertahanan pada Rupiah yang sedang tergoncang. Kendati demikian, penurunan GWM valas tersebut juga mempunyai andil terhadap merosotnya cadangan devisa.

IHSG juga terlihat bertahan pada posisi 1250-1350 setelah sempat terjun bebas beberapa waktu sebelumnya. Bahkan pada 13 November, IHSG terpuruk hingga level dibawah 1300 didorong oleh kembali ambruknya wallstreet dan bursa-bursa regional. Penurunan terparah dialami oleh saham-saham pertambangan dan infrastruktur, yang juga dipicu oleh harga minyak yang amblas hingga level 55 USD/barrel pada tanggal yang sama, dan skandal grup Bakrie. IHSG juga belum terlihat akan mengalami kenaikan yang stabil, sehingga investor cenderung hanya mencari margin tipis dalam periode sangat pendek. Namun, perubahan FDI masih cukup stabil menandakan bahwa sentimen global ini tidak terlalu signifikan pada investasi yang bersifat jangka panjang.

There’s a saying in international economics: “If the U.S catches a cold, the world sneezes” (Sunil Rongala – (Delloite Research)


Meskipun ekonomi global sedang lesu, namun ekspor belum terlihat menurun, hal ini sejalan dengan depresiasi rupiah yang secara riil menurunkan harga barang ekspor Indonesia.

Walaupun pada 3 November 2008 BPS mengumumkan inflasi Oktober 2008 dengan level yang cukup baik, yakni 0.45% mtm dan 11.77% yoy, namun perubahan sentimen terhadap perekonomian Indonesia hanya bersifat sangat temporer, pengaruh sentimen global sudah terlalu besar jika dibandingkan pasar Indonesia yang kecil. Sehingga, Rupiah secara bertahap terus melemah dan ditaksir menembus level Rp. 12000/USD pada pertengahan November walaupun fundamental ekonomi dan kebijakan moneter telah dipandang cukup baik.

Demikian pula dengan indikator pertumbuhan lain, juga menunjukkan bahwa ekonomi terus bertumbuh kendati sentimen global sedang buruk. Namun, walaupun belum ditunjukkan pada data, sejumlah industri di Indonesia sudah mulai merumahkan dan melakukan PHK terhadap tenaga kerjanya karena permintaan ekspor yang tergerus, dan ancaman PHK terus muncul dan bertambah (Kompas.com). Sehingga, besar kemungkinan bahwa nilai ekspor akan sedikit mengalami penurunan pada publikasi BoP berikutnya. Kendati demikian, current account belum tentu mengalami defisit karena adanya penurunan harga minyak dunia yang menurunkan nilai impor. Pada periode sebelumnya, current account sempat mengalami penurunan drastis pada Q2 2008 karena melonjaknya biaya impor, baik dari kategori Oil maupun Non-Oil.



Permintaan riil domestik juga terlihat masih konstan jika di-proxy melalui penjualan otomotif dan penjualan ritel.
Menurunnya harga minyak dunia juga memberikan perbaikan dalam defisit fiskal karena menurunnya beban subsidi. Penurunan harga minyak dunia tersebut juga memberikan keleluasaan pemerintah untuk mengoreksi harga Premium sebesar Rp. 500/liter, yang direncanakan awal Desember ini. Namun, masih belum dapat dipastikan bahwa hal tersebut akan secara signifikan menstimulus perekonomian dan menghalangi laju inflasi, karena adanya menu cost. Kendati demikian, inflasi dapat diperkirakan turun seiring dengan kecenderungan turunnya permintaan beberapa waktu kedepan.


Yield SBI mencapai hampir 1.5% di atas BI rate dan base lending rate terus merangkak naik. Pada saat yang bersamaan, spread CDS (credit default swap) untuk INDON (SUN yang diperdagangkan di luar negeri dengan rate USD) terus meningkat, yang berarti kepercayaan akan pembayaran surat utang Indonesia semakin menurun. Hal ini konsisten dengan seluruh tekanan yang telah dideskripsikan sebelumnya.
Dalam kerangka teoretis, BI berperan besar dalam mengatasi dampak krisis global secara jangka pendek melalui intervensi. Namun, kecukupan cadangan devisa mulai mengkhawatirkan melihat fase krisis yang masih panjang dan pasar Indonesia yang terlalu kecil dibandingkan dunia secara keseluruhan. BI telah melakukan langkah yang tepat dengan mengeluarkan regulasi-regulasi yang kreatif yang terkait dengan perdagangan valas. Langkah BI dalam memperketat transaksi valas diatas USD 100000 berhasil membatasi transaksi valas yang bersifat spekulatif, sekalipun mempersulit perbankan karena banyaknya keluhan nasabah dan pembatalan transaksi. Kebijakan tersebut dapat meminimalkan volatilitas Rupiah yang terus akan mengalami tekanan, sehingga dapat meminimalkan potensi penggunaan cadangan devisa.
Pengeluaran pemerintah yang tinggi pada bulan November-Desember juga dapat membantu mempertahankan gairah perekonomian domestik sampai dengan awal tahun 2009. Namun, patut diperhatikan bahwa perekonomian nasional belum sampai pada titik nadir pada saat ini, walaupun Indonesia dapat dikatakan “korban tidak bersalah”.

pakasa@gmail.com

No comments: