Monday, November 17, 2008

Mencoba Mencari Alasan Teori Dari Krisis Finansial Global

Irving Fisher dahulu kalo saya tidak salah ingat, pernah memperkenalkan teori quantity of money. Yang berbunyi bahwa “Jumlah uang beredar yang dikalikan kecepatan perpindahannya adalah sama dengan harga produk-produk dikalikan jumlah kuantitasnya”. Inti dari teori ini menurut saya adalah bahwa nilai dari sebuah perekonomian dihitung melalui jumlah uang beredar dan secepat apa uang sedang berputar didalamnya.

Menarik kalo melihat fenomena krisis finansial global saat ini, dimana gagal bayar kredit perumahan di AS, ternyata mengakibatkan dunia jadi ikut mengalami krisis. Tapi tepatnya apa sih yang menjadi penyebab krisis finansial global ini???

Mungkin media massa atau penerbitan ilmiah sudah banyak yang membahas tentang penyebab krisis. Namun disini saya mau coba mengulasnya menggunakan teori quantity of money Irving Fisher.

Coba Anda bayangkan sisi kanan persamaan adalah perkalian antara harga dan quantitas. Asumsikan dulu bahwa sisi kanan ini tidak ada perubahan sama sekali, maka nilai perkaliannya adalah konstan. Lalu sisi kirinya adalah perkalian antara jumlah uang dan kecepatannya.

Sebelum terjadi krisis, menjamurnya produk-produk turunan dalam dunia finansial telah menambah kecepatan uang menjadi berkali-kali lipat dari kondisi semula. Sehingga semestinya diimbangi oleh pengurangan jumlah uang beredar agar sisi kanan tetap konstan. Tapi nyatanya tidak, yang terjadi malah sebaliknya. Yaitu uang beredar dibiarkan meningkat dengan tidak terkontrol oleh karena less-restrictive management dari pihak bank sentral.

Alhasil sisi kanan tidak bisa konstan seperti kita asumsikan diawal. Lalu, oleh karena kuantitas dari produksi adalah sesuatu yang tidak mudah diubah, sebab membutuhkan perubahan teknologi, investasi baru, pengetahuan yang lebih maju dan sebagainya, maka dapat ditebak bahwa yang paling cepat merespon di sisi kanan adalah komponen harga. Sehingga terjadilah inflasi... (inilah awal-awal gejala krisis di AS, berbulan-bulan yang lalu, sayangnya the Fed tidak cepat sadar).

Inflasi kemudian menyebabkan para pengambil kredit perumahan menjadi sulit melunasi hutangnya sebab dalam kondisi semua harga sedang mahal (inflasi) maka yang paling utama diprioritaskan adalah kebutuhan pangan. Alhasil, setelah gagal bayar maka rolling-back effect terjadi. Dan ternyata turunan subprime mortgage sudah ada dimana-mana. Otomatis semua kena dampak.

Disaat pasar finansial mengalami kekacauan maka kecepatan uang menjadi menurun, padahal sisi kanan sudah terlanjur tinggi akibat harga yang mengalami inflasi. Otomatis dibutuhkan penambahan jumlah uang beredar agar sisi kiri bisa mengimbangi sisi kanan. Inilah solusi yang pemerintah AS sedang akan lakukan setelah mendapat persetujuan dari Parlemennya (nyatanya semua negara yang terkena dampak juga melakukan hal yang sama).

Pendapat saya atas masalah ini adalah, sebaiknya pemerintah AS atau pemerintah negara manapun tidak usah terlalu berfokus pada penambahan jumlah uang beredar. Sebaiknya fokuskan diri dalam penanganan inflasi. Yaitu turunkan nilai dari sisi kanan bukan malah mencoba meningkatkan nilai sisi kiri. Maksudnya adalah untuk mengembalikan daya beli masyarakat agar roda ekonomi kembali berputar sehingga kecepatan perpindahan uang dapat meningkat kembali tapi dengan level yang terkontrol. Tidak selepas bebas seperti waktu sebelum krisis. Seperti bunyi pepatah jalan raya, “Semakin Cepat, Maka Semakin Dekat Dengan Maut”.

No comments: