Friday, November 7, 2008

Will Capitalism Die?

Neoliberal, kata ini tidak begitu disukai di Indonesia. Meski sebenarnya tidak jelas apa yang dimaksud dengan neoliberal, tapi kata ini identik dengan pasar bebas, privatisasi, pihak asing, sedikit regulasi, dan yang pasti bukan pemerintah.

Terkait dengan ini, banyak orang menganggap bahwa Indonesia dikuasai oleh kaum neoliberal. Tapi fakta berbicara berbeda. Hingga akhir 2007 saja, jumlah BUMN masih sebanyak 140 perusahaan. Dan kita tahu, besar subsidi dalam anggaran mencapai ratusan triliun. Ketika harga minyak bumi mencapai US$ 140, porsi subisidi hampir 1/3 dari total anggaran. Bahkan, pemerintah mengatur cara kita berpakaian, melalui UU Pornografi, dan mengatur cara kita beragama, dalam kasus Ahmadiyah misalnya. Ketika pemerintah ada dimana-mana, apakah itu identik dengan neoliberal? Jawabannya tidak.

Sedikit beralih, karena bukan neoliberal yang sebenarnya akan kita bahas, bicara neoliberal sebenarnya kita bicara soal kapitalisme, karena kapitalisme adalah intinya. Nasibnya tidak berbeda, dibenci oleh banyak orang. Kapitalisme diidentikkan dengan perusahaan besar yang hanya mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan mengorbankan banyak hal, kapitalisme dianggap sebagai pihak asing yang ingin menguasai kekayaan domestik, kapitalisme berarti keberadaan para spekulan yang bermain-main dengan ketidakpastian, dan tidak lupa kapitalisme menghasilkan kesenjangan. Tidak aneh jika ketika krisis financial menimpa AS (gurunya kapitalisme), mereka yang anti kapitalisme seakan mendapatkan pembenaran untuk menolak kehadiran kapitalisme. Dalam sebuah karikatur yang dimuat di The Economist, euforia penolakan kapitalisme digambarkan dengan larisnya T-Shirt dengan tulisan Capitalism is Dead di bagian dada.

Benarkah Kapitalisme Akan Mati?

Sedikit flash back, kapitalisme muncul dari Adam Smith melalui bukunya The Wealth of Nation di tahun 1776. Sejak itu, kapitalisme sempat mengalami masa gelap setelah terjadinya Great Depression pada tahun 1930-an di Amerika Serikat. Persis dengan apa yang terjadi saat ini. Namun kapitalisme bangkit dengan dimotori oleh seorang ekonom tak dikenal kala itu, bernama Milton Friedman. Milton Friedman dengan buku berjudul “Capitalism and Freedom” mempromosikan kembali kapitalisme, hingga terus berjaya hingga sekarang. Dan ini terjadi di tahun 1962, sekitar 30 tahun setelah Great Depression. Bila sekarang tampaknya kapitalisme akan kembali ke masa gelap, bukan berarti kapitalisme akan mati. Mati suri mungkin. Namun dengan begitu banyak pembela (relatif dibanding di masa Milton Friedman menerbitkan bukunya), mati surinya akan sebentar atau mungkin sama sekali tidak akan mati suri.

Terlepas dari pasang surut yang dialami dengan perbaikan disana sini, kapitalisme telah menguasai dunia beratus-ratus tahun lamanya. Ini menjadi bukti sahih kehebatan kapitalisme. Suatu sistem bisa bertahan dan terus dipakai karena mampu memberikan bukti nyata. Tidak percaya? Berbagai kemajuan di dunia, misalkan komputer, mobil, lalu kemajuan di dunia kesehatan misalnya, dan masih banyak yang lain, adalah buah kapitalisme (kita akan masuk lebih dalam ke bagian ini nanti). Dan ini adalah argument penting bahwa kapitalisme tidak akan mati. Apalagi bila dibanding sistem selain kapitalisme, perkembangan kapitalisme jauh meninggalkan lawan-lawannya.

Argumen lain terkait dengan diri kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme berasal dari kata kapital yang berarti modal. Kapitalisme mensyaratkan adanya legalitas kepemilikan pribadi dalam artian kemampuan untuk mengakumulasi modal, meraih profit, dan menumpuk kekayaan. Namun definisi kapitalisme lebih luas dari itu, dimana terdapat karakteristik-karakteristik yang menyertainya, antara lain (berdasarkan tulisan Robert J. Samuelson -- The Rebirth of Capitalism -- di dalam Encyclopedia of Capitalism Volume I):

  1. Kapitalisme menjawab pertanyaan-pertanyaan ekonomi (alokasi sumber daya) melalui pasar bebas dengan harga sebagai instrument/indikator utama. Jika masyarakat ingin lebih banyak mobil, maka harga mobil meningkat, dan produksi meningkat. Sebaliknya dari sudut yang berbeda, ketika harga mobil meningkat, maka permintaan mobil akan berkurang, lebih banyak orang yang naik kendaraan umum. Apa yang diproduksi-dikonsumsi di suatu negara, dan ini berhubungan dengan pekerjaan apa yang akan tercipta, dan pada akhirnya perilaku masyarakat ditentukan sepenuhnya oleh pasar.
  2. Kapitalisme menciptakan sistem insentif-disinsentif yang berfungsi memotivasi orang dalam bertingkah laku, dengan memberikan reward atas kerja yang dilakukan. Kapitalisme mengasumsikan setiap orang pasti berusaha memenuhi ambisi, meraih cita-cita, menjadikan dirinya dalam posisi yang lebih baik. Karenanya orang akan bekerja sekeras mungkin, mencoba berinovasi, dan mungkin mengambil resiko untuk memenuhi keinginan dan kepentingan tersebut. Di sini-lah asumsi greed/serakah muncul sebagai bagian dari kapitalisme. Sesuatu yang merupakan sifat alami dari manusia.
  3. Di dalam kapitalisme terdapat sistem “trial and error” yang permanent. Maksudnya, karena setiap orang bebas menentukan apa yang ingin mereka produksi, dimana setiap orang bisa meraih profit dengan memuaskan pasar, setiap orang bebas untuk melakukan eksperimen. Dengan eksperimen, akan muncul teknologi baru, produk baru, jasa baru, atau inovasi dalam membuat atau menjual produk yang lama, tetapi dengan biaya lebih murah. Ini pada akhirnya mampu meningkatkan tingkat standar hidup masyarakat. Di poin ini, kapitalisme telah menghadirkan kemajuan di dunia, seperti diungkapkan sebelumnya.

Bila dilihat poin 2 dan 3, di dua poin ini terdapat kehebatan dari sistem kapitalisme. Dengan menggunakan sistem insentif-disinsentif, kapitalisme menjembatani antara kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat banyak. Ketika seseorang berusaha memenuhi kepentingan pribadinya, di saat yang sama dia akan memberikan manfaat bagi masyarakat banyak.

Ilustrasi-nya seperti ini: Misalkan Anda adalah seorang pegawai IT di sebuah perusahaan mobil swasta. Di perusahaan Anda diterapkan sistem insentif, bagi yang mampu memperbarui sistem produksi mobil akan mendapat bonus 10x gaji. Melihat bonus yang begitu besar, yang nanti bisa digunakan oleh Anda untuk beli rumah, beli mobil baru, dll (semua kepentingan dan ambisi pribadi Anda), Anda pasti akan bekerja dengan keras. Mencoba berbagai kemungkinan, membaca berbagai teori, mengkalkulasikan dengan tekun, pada intinya Anda akan terus berusaha. Misalkan ada 10 orang yang sama dengan Anda sehingga di satu titik pasti akan ada yang mampu menghasilkan sistem yang lebih baik dari sebelumnya dan misalkan Anda orangnya. Ternyata dengan sistem baru, produksi mobil mampu dihemat waktu produksi menjadi ½-nya dan biaya juga dihemat ½-nya. Akhirnya produksi mobil meningkat dengan harga menjadi lebih murah. Dengan begitu, akan lebih banyak orang yang bisa menggunakan mobil dibanding sebelumnya, dan Anda sendiri akhirnya bisa beli rumah yang Anda idamkan. Bermula dari pemenuhan kepentingan pribadi dan bukan karena Anda bertujuan untuk membantu orang lain, orang banyak diuntungkan dengan apa yang Anda lakukan. Persis seperti yang ditulis oleh Adam Smith beratus tahun yang lalu:

“It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. We address ourselves, not to their humanity but to their self-love, and never talk to them of our own necessities but of their advantages.”

Kehebatan dari kapitalisme adalah kesederhanaan dan kedekatan dengan sifat alami dari manusia. Bahkan bisa dibilang setiap orang pada dasarnya adalah seorang kapitalis. Poin ini yang menjadikan sulit untuk menghilangkan sistem kapitalisme ini.

Apa yang terjadi di AS, sangat terkait dengan poin 3 soal “trial and error”. Perubahan sistem financial menjadi begitu kompleks adalah bentuk trial yang sebenarnya cukup sukses di awal. Namun akhirnya ada beberapa error yang membutuhkan pembenahan. Meski kapitalisme juga berperan, tapi perlu diperhatikan bahwa keberadaan pasar bebas yang disyaratkan tidak sepenuhnya terjadi. Pasar bebas yang menjadi kambing hitam tidak sepenuhnya bebas. Lihat saja, dua perusahaan mortgage terbesar, Fanny Mae dan Freddie Mac adalah milik negara. Selain itu, keberadaan subprime mortgage berawal dari niat baik untuk kepentingan banyak, bukan untuk memenuhi kepentingan pribadi, seperti yang terjadi di kapitalisme. Meski begitu, satu hal terpenting, kapitalisme adalah konsep yang mengalami proses yang terus berjalan. Kesalahan yang terjadi saat ini akan mengalami pembenahan. Satu lagi keunggulan dari kapitalisme.

Akhir kata, dengan memperhatikan fakta sejarah dan karakteristik yang menjadi keunggulannya, kapitalisme tidak akan mati. Itu tidak lebih dikarenakan, meminjam kalimat dari The Economist, terlepas dari segala kekurangannya, kapitalisme adalah sistem ekonomi terbaik yang pernah diciptakan manusia hingga saat ini.

5 comments:

Wahyu said...

"kapitalisme adalah sitem ekonomi yang terbaik saat ini" mungkin ini pendapat yang tidak terlalu benar, karena tidak sedikit juga orang menjadi korbannya. (saya mungkin tidak perlu memberikan contoh). sebagai seorang muslim (maaf-ini bukan isu SARA), kami mengenal yang suatu sistem perekonomian yang "ADIL" yaitu Sistem Ekonomi Syariah. Mungkin dan mungkin memang sebagian orang berpendapat sistem ini tidak mampu memberikan perbaikan, saya juga setuju dengan pendapat tersebut karena sistem syariah yang berlaku (khususnya di Indonesia) masih merupakan sistem syariah yang terkontaminasi oleh kapitalisme. atau boleh dikatakan "Sistem Ekonomi Hibrid".
Sebagai kesimpulan: saya yakin apabila kita menerapkan Syariah dengan sebenar-benarnya syariah maka Kapitalisme akan mati (I Wish for it).

Letjes said...

wahyu, sy tdk menafikan kemungkinan bahwa sistem ekonomi syariah suatu saat nanti akan menjadi sistem yg lebih baik dari sistem kapitalisme. cm utk saat ini mnrt sy msh jauh tertinggal. indikator mudahnya, coba bandingkan berapa jurnal penelitian dg konsep kapitalisme dg ekonomi syariah. pasti jauh lebih banyak kapitalisme. artinya apa, kapitalisme tlh berkembang begitu pesat dari sisi keilmu-annya. hasilnya, dari segi kompleksitas dan detail, kapitalisme lebih punya banyak jawaban trhdp berbagai permsalahan dibanding ekonomi syariah. tentu perkembangan ekononomi syariah akan sangat ditentukan oleh kecepatan dari ilmuwan syariah utk berkembang. slh satunya mgkn anda. satu hal sebagai tamabhan dan contoh, kenapa sekarang sistem ekonomi yg digunakan hibrid, itu krn utk hal2 detail ttt, ekonomi syariah tidak pny tools dan jawabannya, sehingga terpaksa meminjam tools dari kapitalisme.

Fajar said...

tidak dipungkiri lagi, sistem ekonomi yang menawarkan hal yang luar biasa seperti Ekonomi Syari'ah adalah impian setiap ekonom di dunia. hanya saja, saya nggak yakin sistem itu akan berjalan baik di dunia, karena beberapa hal di sistem itu banyak yang tidak "memikirkan" peluang terjadinya moral hazard di kalangan manusia.

narayanawijaya said...

Menarik sekali, saya baru tahu kapitalisme definisinya seperti itu sementara saya suka mempelajari model bisnis seperti ini tanpa tahu namanya apa. Sistem kapitalisme menurut saya adalah sistem ekonomi yang membiarkan tiap individu berusaha untuk mencari solusi terbaik dari setiap keadaan tanpa perlu bermanja-manja. Hanya mereka yang menyukai tantangan akan survive dalam sistem ini. Sementara di indonesia dengan sistem yang masih mempersulit didirikannya sebuah perusahaan dengan birokrasi yang rumit dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah dengan paradigma bisnis yang outdated dan dalam lingkup lokal hanya akan menjadikan mereka korban jika tidak bisa bertahan. Dari point 3 saya kira perlu lebih banyak lagi aktor yang terlibat sehingga persaingan semakin ketat dan masyarakat makin tersentuh manfaatnya.

Apa bisa kapitalisme mati jika negara dengan sistem ekonomi ini adalah pemegang peran terbesar dalam perekonomian dunia? Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mencari celah untuk memanfaatkannya. Itu jika tidak takut akan tantangan dan cerdik mencari solusinya.

Salam kenal, saya bukan orang ekonomi tapi tidak bisa menjauh juga dari hal seperti ini. Sori karena masih awam tentang hal ini

Andre said...

"Kapitalisme mengasumsikan setiap orang pasti berusaha memenuhi ambisi, meraih cita-cita, menjadikan dirinya dalam posisi yang lebih baik."

------------- comment ------------

Fenomena yang menarik,.. di satu sisi kapitalisme sungguh "humanis", ya tentu saja sudah pasti hanya orang yang rajin dan pintar yang harusnya diberi kesempatan maju, tapi pada sisi lainnya "selfness" menyebabkan kekacauan secara kolektif (matinya "collective consciousness"), ia seperti monster yang berusaha mengeruk keuntungan sebanyak mungkin walaupun merugikan orang banyak. (Sebagai contoh kerusakan alam yang makin menjadi-jadi).


So dalam konteks yang luas, apapun sistem socio-economic-nya ok, silahkan bersaing secara fair, kapitalisme ok, ekonomi hibrid ok, syariah ok,

dan memang "reward terbesar" memang harus sejatinya diberikan pada orang yang mau bekerja keras, namun yang terpenting adalah harus adanya kontrol terhadap sustainibilitas alam juga.


Disini dituntut wisdom manusia seperti yang ditunjukkan oleh Buckminster Fuller, dalam "Spaceship Earth" , manusia dibumi itu ibarat berada di kapal Titanic, dimana manusia harus secara kolektif menjaga Titanic ini agar tidak tenggelam gara2 1-2 orang "rajin dan pintar" yang sibuk melubangi lambung kapal demi mendapatkan lebih banyak baja daripada orang lainnya di kapal. Ingat bahwa kita tidak ada yang akan menolong Titanic ini bila ia "tenggelam"!


Intinya adalah: Untuk apa memiliki berton-ton lembar uang dan saham di bank jika tidak ada satupun hal lagi yang kita bisa petik dan makan dari bumi ini?


Ingat bahwa kita tidak memiliki dunia ini, kita "meminjam" dunia dan isinya dari anak cucu kita. Sebab merekalah yang kelak "menanggung" dosa-dosa kita jika kita tidak memelihara bumi kita satu-satunya ini.


Viva Green-Economics!!

Salam,

Andre
http://invictium.wordpress.com