Wednesday, February 11, 2009

Ngobrol Seputar Biaya Hidup

Pembicaraan mengenai biaya hidup antara teman-teman sesama BI yang sedang ditempatkan di daerah cukup hangat, mengingat biaya pengeluaran hidup untuk kebutuhan makan, tempat tinggal, hingga biaya-biaya jasa lainnya seperti transportasi hingga kebersihan rumah/pakaian yang sungguh beragam.

Namun ada hal yang menarik, pembicaraan mengenai keragaman harga makanan diukur melalui dengan harga makanan di warung nasi padang. Anggap saja satu porsi makanan nasi plus rendang. Melalui ini kita dapat mengukur keragaman tingkat harga di suatu daerah, atau mengetahui seberapa besar kebutuhan hidup untuk makan jenis makanan yang sama di hampir semua daerah di Indonesia.

Dengan demikian, kita juga dapat mengukur tingkat daya beli penduduk setempat dan juga tingkat kesejahteraan penduduk daerah tersebut. Seperti dalam teori Engel, semakin meningkat pendapatan seseorang, maka proporsi dari pendapatannya untuk membeli kebutuhan makanan semakin kecil, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan non-makanan semakin besar. Oleh karena itu, daerah yang harga nasi padangnya sangat mahal mengindikasikan bahwa porsi pendapatan penduduknya akan tergerus untuk membeli kebutuhan makanan yang semakin besar, sehingga ruang pendapatan untuk membeli kebutuhan non-makanan semakin kecil.

Ini juga mengingatkan dengan konsep paritas daya beli (purchasing-power parity-PPP) di mana mengukur perbandingan sejauh mana tingkat daya beli penduduk suatu negara pada suatu satuan nilai tukar tertentu. Untuk itu, muncullah pendekatan dari konsep ini dengan proksi menggunakan seberapa besar harga dari burger Big Mac di gerai McDonald di seluruh negara, seperti apa yang digagas majalah The Economist (lihat selengkapnya di sini). Ataupun saat ini ada gagasan baru dengan menggunakan harga secangkir kopi latte di gerai Starbucks, sehingga munculah istilah Lattenimocs (lihat selengkapnya di sini).

Saya rasa, mengukur tingkat daya beli penduduk di berbagai daerah di Indonesia terlalu jauh apabila didekati setangkap burger Big Mac atau secangkir kopi latte Starbucks. Untuk ukuran Indonesia, komoditas tersebut masihlah terlalu mewah. Saya kira ukuran harga nasi padang+rendang bisa dijadikan sebuah indeks alternatif yang dapat mengukur keragaman daya beli penduduk di berbagai daerah di Indonesia. Namun juga ada kendala kecil, bagi sebagian penduduk daerah, makan daging rendang mungkin suatu kemewahan, atau bahkan hanya makan daging hanya saat lebaran kurban. Hmmm, kalau begitu bila nasi padang+rendang tidak memungkinkan, kita cukup dengan Warung Tegal saja alias Warteg saja….

17 comments:

Carlos said...

rumah makan padang sekarang sudah mulai terkotak-kotak gaf. Ambil contoh resto SEDERHANA dibanding dengan resto SURYA BARU, harganya jomplang abis. Padahal keduanya sama-sama berada di jalan margonda.

Gw dengan rendah hati mengusulkan Lapo Batak aja bila mo dipakai. (hehehe...tapi bukan maksudnya chauvinis ya). Gw usulkan tolok ukurnya adalah satu piring nasi plus satu tapak saksang plus semangkuk sop. kenapa, karena itu menu standar di Lapo.

Luthfi said...

huahahaha kalo carlos mengusulkan lapo...gwe mengusulkan soto. semangkuk soto ayam atau lainnya di seluruh indonesia.

bisa juga sate...atau sop kambing.
kalo di Jkt sate ayam 10 tusuk umumnya 10 rb. kalo di pangkalpinang yang paling murah udah 15 ribu. itu juga dagingnya kecil2 dan gak jelas ayam atau tikus.

btw kok gaya tulisannya gaffar jadi beda ya....agak-agak gimana gitu

Gaffari said...

Jadi beda gimana nih Fi?

Gw posting ini di milis anak2 BI, mgkn comment-nya gw tampilkan dsini aja biar bisa baca..

M Yasser said...

Klo menurut Saya pribadi, Warteg kurang mempunyai standar yang jelas....
Nasi Padang standarnya jelas bgt.. Klo minta nasi rendang pasti isinya nasi + singkong / kol+ kuah gulai dikit + sambal + rendang... Lagian nasi Padang sepertinya udah jadi makanan umum di wilayah Indonesia...
Dari disparitas harga Nasi Padang sebenarnya gak cuma bisa diukur Purchasing Power Parity tapi juga masalah klasik yang dihadapi negara kepulauan seperti Indonesia yaitu distribusi bahan makanan tiap daerah. Jadi Nasi Padang + rendang harus dibreak down jadi bahan2 pembentuknya seperti beras, cabe, kelapa, daging, dll sehingga bisa diketahui struktur biaya pembentuk Nasi Padang + rendang... dari situ bisa diketahui bahan makanan yang punya kontribusi paling besar terhadap disparitas harga di tiap daerah.... Nanti dihubungkan dengan distribusi bahan makanan tersebut... bisa juga disambungkan ke ketersediaan infrastruktur antar daerah...

Tapi ini cuma ide aja, maaf2 klo terdengar aneh...

Gaffari said...

@Yasser: Betul, secara porsi dan isi dari nasi padang di setiap tempat pasti sistematis dan terstruktur, nasi+rendang+sayur (kol/daunsingkong/toge)+kuah2nya....

Mungkin bagi para analis bisa diinvetarisasi harga nasi padang di seluruh KBI, namun sebelumnya ditentukan dulu standar/spesifikasi dari nasi padang yang akan disurvei....siapa tau bisa bener2 jadi alternatif indeks yang populer untuk estimasi keragaman harga di Indonesia....
Big Mac index sendiri berawal dari sebuah keisengan..namun toh bisa juga jadi indeks yang populer hingga masuk ke majalah rujukan ekonom seluruh dunia seperti The Economist.

Akhmad Ginulur said...

Kajian yang menarik, tapi saya pribadi agak kurang setuju dengan NRI (nasi rendang index)

Big mac digunakan sebagai tolak ukur PPP karena definisi dan spesifikasi big mac dianggap indentik di seluruh negara. (Burger premium yang dikeluarkan oleh restoran cepat saji Mc Donalds dengan spesifikasi:3 potong roti wijen, 45g daging burger, 1 helai keju cheddar (dimensinya ga tau euy) & bahan2 pelengkap (acar, bawang & saus Mac spesial==>konon saus ini masih diimpor dari US)

Berbeda dengan nasi rendang, tidak ada kesepakatan resmi mengenai spesifikasi nasi rendang (nasinya berapa gram, dagingnya kualitas apa, masaknya mo kering atau basah), definisi nasi rendang (ada beberapa restoran yang ga menyertakan daun singkong dalam nasi rendang), bahkan harganya pun cenderung berbeda, bukan hanya dalam konteks antar kota, bahkan sampai dalam kota (di Bandung standar deviasi nasi rendang bisa mencapai lebih dari Rp.30.000).

Sebagai alternatif NRI saya lebih mengusulkan penggunaan CGI (consumer goods index) sebagai acuan untuk mengukur PPP di tiap kota

Dhika Perdana said...

Menanggapi paparan bung Gaffari, yang lebih standar adalah nasi+telur bulat. Alasannya, ini standar minimal makanan di warung padang. Dimana-mana juga standar, nasi putih ama telur rebus. Tapi memang saking standarnya, harganya bisa cenderung seragam. Keragamannya menjadi sangat kecil. Distribusi datanya lebih dekat ke uniform distribution, bukan normal distribution. Alhasil, jadi gak tertangkap juga fenomena harga yang dimaksud.

Iseng-iseng saya tadi ngoprek data IHK thn dasar 2002 yang masih lengkap dengan rincian sub kelompok. Fokus saya di Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau.Lebih tepatnya sub kelompok Makanan Jadi. Alasannya makanan jadi langsung dikonsumsi sehingga kita gak perlu lagi menghitung biaya komponen pembentuknya. Meskipun masalah standarisasi masih jadi kendala utama. Dengan memakai fasilitas filter di Excel, didapat fakta sebagai berikut:

BAKSO hanya muncul di 28 kota (dari 45 kota SBH 2002)
MARTABAK muncul di 34 kota
GADO-GADO muncul di 41 kota
MIE muncul di 44 kota
SOTO muncul di 44 kota
AYAM GORENG muncul di 44 kota

Sedikit informasi, BPS biasanya mengadakan SBH dengan cara memberikan semacam diary kepada respondennya. Responden yang terpilih, wajib menuliskan biaya yang dikeuarkan setiap harinya sampai periode tertentu. Setelah itu diary tadi dikumpulkan oleh petugas BPS untuk kemudian direkap. Rekap diary itulah yang diolah menjadi angka inflasi masing2 kota. Gampang banget ya...nah, yang susah itu mengacak respondennya.

Well, sayangnya untuk SBH 2007 yang melibatkan 66 kota kita tidak punya rinciannya. Dari usulan bung Gaffari, rasanya menarik juga dibuat indeks kemahalan versi PCPM. Kalau mau pakai metode Warung Padang, jangan yang franchise seperti Sederhana Bintaro atau Sari Bundo. Pilih aja Warung Padang deket kampus atau Terminal/Stasiun. Menunya, bisa pakai Telur Bulet, Rendang, atau Ayam Goreng Ras (jgn ayam kampung). Iseng-iseng aja..... Gimana?

Letjes said...

sorry nih bung gaff, tapi klo aku memandang gk ada urgensi dan relevansi menciptakan apa yg dsb nasi rendang index. knp? krn klo emang tujuannya mengukur tingkat daya beli, CPI BPS jelas lebih komprehensif. dan klo aku gk slh komponen nasi bungkus jg ada dalam perhitungan BPS.

penggunaan konsep PPP sy kira jg tidak tepat disini. krn konsep PPP adalah konsep yg inter-negara dg melibatkan exchange rate. smntr nasi rendang sy kira akan berlaku di Indonesia sj. meski di singapura jg ada restoran Garuda.

meskipun akhirnya msh mw maksakan membentuk indek spt Big Mac, melanjutkan komentar di atas. nasi padang restoran mana yg mw dipake? meski strukturnya terlihat sm, tetapi penggunaan bumbunya pasti beda-beda. nasi rendang di surya baru dg nasi rendang sederhana di margonda rasanya beda. bhkn antara restoran sederhana sj bisa beda rasa.

Pakasa said...

kurang lebih setuju sama bung letjes.. ihk nya bps lebih komprehensif karena membobot kontribusi masing-masing barang.

Namun, hal yg gw pikir justru menarik adalah disparitas harga antar daerah. dimana walaupun indeks jakarta lebih tinggi, tapi seringkali orang didaerah merasakan lebih mahal dibanding jakarta. Mungkin hal ini disebabkan karena orang tersebut memiliki gaya hidup murahan. Dengan range harga didaerah yg lebih sempit, jelas di daerah terasa lebih mahal oleh orang dengan gaya hidup demikian. Bagaimana teman2?

Gaffari said...

Sepakat kalo IHK BPS memang lbh komprehensif....

@Pakasa:
Gaya hidup murahan di sini konteksnya bagaimana maksudnya?

Luthfi said...

kalo gak salah ada data mengenai biaya hidup di seluruh daerah di Indonesia.

yang termahal justru di Balikpapan dengan minimal pendapatan sekitar 2 juta sebulan untuk bertahan hidup.
CMIIW.

kebetulan saya pernah kesitu dan memang sangat mahal untuk makanan tertentu. Waktu itu saya makan di Resto padang dan habis sekitar 25 rb untuk lauk yang sederhana (tempe + ayam). Justru seafood yang umumnya lebih mahal daripada tempe atau ayam, ternyata lebih murah.

selidik punya selidik, ternyata semua bahan makanan non seafood sebagian besar merupakan impor dari Pulau Jawa.

@Bung gaff: pas gwe baca tulisan ini, entah mengapa ada kesan loe nulis dalam keadaan sedih... hihihihi

Anonymous said...

sedih?
Mungkin secara jangka pendek saja kesedihan dari Bung Gaff, secara jangka panjang, tar bisa jadi dia yang paling bahagia diantara kita :D

413

Gaffari said...

Gak cuma kesedihan, tapi juga kesepian..hahahaha....

Kalo kata pakasa: BUSUK BET!

Anonymous said...

emang disana gak ada starbucks yak?

carlos

Gaffari said...

Dunkin donuts yg kopinya murah aja kagak ada....

Adanya yg enak dsini kopi aceh..gak kalah sm latte-nya starbucks..kopi indonesia sbnrnya lbh mantaph..

Potensi bisnis:
Di Padang ga ada JCo, Dunkin, atau smua donut dan roti peradaban yg ada di Jakarta. Jadi mrk klo dr Jkrta ke Padang pasti bnyk bawa donat JCo, dunkin, kripy kreme, makanya di pesawat bnyk bgt dus2 donut bertebaran....

Lumayan klo mau buka dsini....
Tapi perlu ada adjustment: misal donut rasa rendang..hehehehe.....

Anonymous said...

emang deh.... semua gak jauh2 dari rendang.
gw pernah jalan2 ke daerah, emang deh meski gak ada kafe-kafe tapi yang namanya rumah kopi itu ada. Klo di pulau jawa lebih dikenal sebagai warung kopi. Dan ukuran bisnisnya besar-besar.
Ada satu rumah kopi di wilayah sulsel yang besar bener dan uniknya di interior rumah kopi itu penuh dengan tempelan poster-poster caleg dari berbagai partai.
hehehe... btw di padang apa uniknya tempat-tempat minum kopi disana? selain dari rasa kopinya yang indonesianis?

carlos

Pakasa said...

Yg gw maksud gaya hidup murahan itu gaya hidup dengan pemilihan jenis konsumsi yg paling murah. kalau dibalik, jd kita menggunakan harga termahal, gw pikir sih di jakarta gampang aja ngabisin 1 juta atau lebih sekali makan, kalo di timur ya mungkin maks beberapa ratus ribu. Terlepas dari perbedaan harga, sepertinya makanan franchise seperti kfc, jco dll tidak berbeda antar daerah. Berarti salah satu solusinya: makan junk food.