Thursday, July 2, 2009

Netbooks: Selanjutnya Apalagi?

Dahulu saya ingat, untuk memiliki laptop dengan layar kecil sedikitnya kita harus merogoh kocek dikisaran 20jutaan. Fujitsu dan Sony Vaio adalah leading producernya. Namun setelah hadirnya intel atom yang menggunakan IC chip berukuran 45nm (dahulu biasanya 60nm) semua perusahaan komputer tiba-tiba berlomba-lomba untuk menciptakan laptop layar kecil, ringan, low electricity dan cukup kuat untuk performa standar khususnya kebutuhan kerja dan bermain internet, serta yang jelas harganya MURAH, hanya sekitar 5jutaan. Laptop jenis ini kemudian dikenal sebagai netbooks. Namun sayangnya laptop ini gak ada CD/DVD ROM/Burnernya.

Pertanyaan saya saat ini adalah, jenis komputer macam apalagi yang merupakan kebutuhan publik setelah netbook?

Untuk membuat tulisan ini rada berbau ekonomi maka saya mau perkenalkan anda pada sebuah model permintaan laptop: Jika Y adalah jumlah permintaan laptop maka;

Y=f(harga,kemampuan processor laptop,berat laptop,garansi service, ukuran layar, warna body laptop, lama baterai laptop, ketersediaan CD/DVD ROM)

Harga sudah jelas lebih murah lebih baik, meski murah yang terlalu murah bisa jadi quality reduction. Kemampuan processor pastinya adalah semakin kuat dan cerdas maka akan semakin menarik minat pembeli, namun harus jadi pertimbangan bahwa sebuah processor semakin cerdas biasanya semakin butuh listrik besar. Berat Laptop, tentu semua maunya yang ringan. Garansi service semakin lama pastinya semakin diminati tapi sayangnya hal ini berkorelasi erat dengan harga. Ukuran layar, variabel ini benar2 ambigu apakah makin kecil makin diminati atau sebaliknya, dahulu orang cenderung mencari layar kecil karena akan meningkatkan gengsi, sebab semua laptop layar kecil pasti harga mahal, sedangkan sekarang hal itu menjadi tidak saklek lagi. Warna merupakan serentetan variabel dummy dari warna-warna, kemungkinan nilai koefisien terbesar adalah di warna hitam dan putih, tetapi tidak menutup kemungkinan ada warna lain yang bisa berefek besar seiring dengan perjalanan waktu, misalkan pink yang sangat digemari kaum perempuan. Lama baterai, kalo untuk variable ini jelas semakin lama semakin digemari, namun sayangnya berkorelasi positif dengan harga lagi. Terakhir, ketersediaan CD/DVD rom, ini adalah variable dummy, namun nilai koefisiennya semakin mengecil semenjak orang kini lebih senang menggunakan flashdisk dan virtual memory.

Lalu dari model itu saya simpulkan bahwa harga yang berkorelasi dengan kemampuan processor, garansi service, lama baterai dan ketersediaan CD/DVD. Sehingga keempat variabel ini bisa besar kemungkinan untuk menciptakan multikolinearity sehingga sebaiknya dibuang saja. Alhasil kita akan temukan sebuah model permintaan yang hanya dipengaruhi oleh harga, berat laptop, ukuran layar, dan warna laptop.

Klo saya teman karib bill gates, kemungkinan saya akan bilang dia untuk ciptakan sebuah laptop yang harga murah, layar besar, ringan dan warnanya bisa disesuaikan ketika akan dibeli. Mengapa saya bilang itu kebutuhan laptop yang berikutnya adalah karena layar kecil ternyata sudah ada yang murah dan ringan, mungkin sekarang saatnya layar besar murah dan ringan. Tetapi jangan lupa bahwa warna laptop harus tersedia untuk segala warna yang dikehendaki oleh pembeli. Hal yang terakhir ini sangat jarang sekali dipenuhi oleh produsen. Saya cukup yakin mengapa laptop warna hitam sangat laku adalah karena supply creates its own demand, bukan karena demand creates supply. Jadi Bill, maukah anda terima saran saya?

No comments: