Wednesday, December 17, 2008

UU BHP Versus Anggaran Pendidikan 20%???

UU Badan Hukum Pendidikan(BHP) baru saja disahkan oleh DPR. Mahasiswa menolak pengesahannya sebab khawatir akan meningkatnya biaya perkuliahan. Silahkan dibaca disini.
Sedangkan di sisi lain, anggaran pendidikan sudah naik jadi 20 persen dari APBN (artikelnya baca disini).

Lantas, bagaimana paradox ini bisa terjadi? Apakah UU BHP benar-benar dibutuhkan? Lalu dengan kondisi dimana UU BHP saat ini sudah disahkan dan subsidi ke PT akan dicabut, bagaimanakah anggaran pendidikan akan digunakan?

4 comments:

Letjes said...

crt pnglmn sj ya. slm di FEUI sy sk bingung,byk bgt tmn yg bw mobil. smpe2 parkirnya gk ckp. mobilnya pun mewah. dan perlu digarisbawahi, mrk jg mendapat subsidi dari rakyat.

hemm.... tanda-tanda subsidi tidak tepat sasaran nih..

yg lebih lucu lg.. pas ospek, diberi koar2 kt harus memperjuangkan tuntutan rakyat krn kt disubsidi oleh rakyat!!! klo perlu turun ke jalan!!! Demo!!!

yaelah.. naek angkot aja kgk pernah. gmn mw jalan panas2 ditengah terik matahari.

Anonymous said...

subsidi pendidikan supaya tepat sasaran kira-kira bagaimana caranya tjes? atau yang lain mungkin mau jawab juga?

carlos

Luthfi said...

jawabannya gampang los..gak usah di subsidi.
ngapain juga mahasiswa di subsidi? mendingan pendidikan SD-SMA di gratisin.
gwe sepakat sama pendapat Bu Menkes, Kalo siswanya pada "mencret", siapa yang sekolah?

Anonymous said...

plis deh..

mungkin itu kejadian di FEUI...
mungkin subsidi di FEUI saja yang dihilangkan... gimana ?

kalo di fakultas lain atau universitas berbeda maka ceritanya akan lain..

saya yakin masih banyak anak daerah yang kesulitan untuk bisa melanjutkan pendidikan S1 nya di universitas "negeri" karena terganjal masalah keuangan... yang miskin makin miskin dan bodoh... yang kaya makin kaya dan pintar..


memang sebaiknya ada kontrol lainnya yang bisa menentukan apakah seorang mahasiswa layak menerima subsidi apa tidak...

cara yang paling klasik adalah tagihan telf & listrik rumah mahasiswa ybs selama 3 bulan berturut-turut.. plus surat keterangan tidak mampu dari RT/RW..