Tuesday, March 4, 2008

Industri Film, Pembajakan, dan Internet

Sepertinya perkembangan industri film baik di Indonesia ataupun di belahan dunia manapun semakin banyak menghadapi ancaman seiring dengan perkembangan teknologi internet yang semakin pesat. Setali tiga uang, teknologi internet yang semakin canggih tentu saja memudahkan kita untuk mengakses informasi maupun berkomunikasi secara global. Namun di sisi lain, ini juga menjadi sebuah ancaman bagi industri film.

Baru-baru ini dirilis sebuah film Ayat-Ayat Cinta yang diangkat dari best selling novelnya Habiburrachman El Shirazy. Film ini seakan membius antusiasme penonton untuk menyaksikannya. Namun di sisi lain, ketika film ini masih hangat-hangatnya dirilis, sudah muncul film bajakan ini yang bisa di download secara gratis melalui Youtube. Hanung Bramantyo, sang sutradara, sangat menyesalkan bisa terjadinya hal ini seperti yang dia ceritakan di blog pribadinya di sini. Bukan hanya pendapatannya akan semakin berkurang, namun apresiasi terhadap film industri negeri sendiri masih belum terlihat begitu besar.

Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di dalam negeri, industri Film Hollywood pun mengalami masalah serupa. Seperti yang dilansir majalah the Economist, pendapatan industri Film Hollywood semakin menurun, hal ini terjadi karena salah satu pendapatannya dari penjualan kepingan DVD semakin berkurang akibat makin menjamurnya situs-situs penyedia film-film baik legal maupun illegal, yaitu baik dengan mengunduh secara gratis maupun dengan harga yang sangat miring.

Hal ini semakin membuat pihak-pihak dalam industri Film Hollywood pusing bukan kepalang. Satu sisi mereka menghadapi biaya pembuatan film yang semakin mahal, terutama ketika mereka menggunakan aktor atau artis ternama-untuk memikat para penonton-yang bayarannya pun semakin tinggi, dan di sisi lain penerimaan mereka semakin terus terkikis dengan penerimaan mereka yang semakin menurun.

Berikut ini beberapa situs-situs penyedia film-film secara download di mana ada beberapa situs mampu menyuguhkan puluhan ribu katalog film yang sangat lengkap dari berbagai tahun pembuatan dan bermacam-macam genre, seperti: ZML.com, Pirate Bay, FilmOn.com, MovieFlix, Movielink, CinemaNow, Joost, aintitcool.com, Jaman.com, dan lain-lain.

Di Amerika, seperti dikutip juga dari majalah the Economist, penjualan DVD pada tahun 2007 (USD23.4 miliar) menurun sebesar 3 % dari tahun 2006 seperti terlihat pada gambar di bawah ini:


Hal ini tentu saja diakibatkan seiring dengan tingkat kecepatan download bytes per menit internet yang semakin cepat di Amerika serta di beberapa negara maju. Seperti pada gambar di bawah ini:


Ke depannya, tantangan industri Film Hollywood semakin besar, kecuali jika mereka mampu mengatasi serta menertibkan banyaknya situs-situs penyedia film secara bajakan dan menjadikan situs-situs penyedia jasa download film tersebut sebagai alat menghasilkan pemasukan yang tetap ke kantong mereka.

Di Indonesia, beruntung saja kemampuan atau perkembangan internet masih sangatlah terbatas, untuk men-download film-film saja masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi, untuk sekedar membajak, tentu harus memiliki kesabaran cukup tinggi, belum lagi di tengah-tengah kita men-download terkadang koneksi internet seringkali terputus. Namun, jalan menuju pembajakan di Indonesia masihlah terbuka lebar, kita masih bisa membeli DVD bajakan secara mudah dengan harga yang sangat miring. Ini tidak hanya menjadi ancaman pihak-pihak industri film dalam negeri, namun juga para investor penyedia jasa bioskop.

Ada hal yang menarik, sepertinya para pembajak di negeri ini terkadang masih saja ada sisi moralitas untuk menghargai industri film dalam negeri seperti apa yang ditulis Hanung Bramantyo dalam blognya, dan saya kutip sebagai berikut:

"Saya kaget, karena belum pernah sepanjang sejarah saya membuat film, pembajak membajak film Nasional. Saya punya kenalan pengusaha dvd bajakan di Glodok yang bahkan pernah bilang ‘Kita tidak membajak film-film Indonesia. Kasihanlah, film Indonesia kan lagi tumbuh. Sayang kalau dibajak. Film Amerika aja yang kita bajak. Mereka kan udah kaya.’ Saya tersenyum dalam hati. Moralitas kadang muncul tanpa kita duga dari jenis manusia seperti apa."


Okey guys, Selamat prihatin, dan jangan asal "Membajak" Hahahaha.........

5 comments:

Carlos said...

mungkin para pembuat film harus kembali belajar ilmu ekonomi.

Menurut gw, selama marginal benefit menggunakan bajakan bernilai sangat besar, maka bajakan akan selalu ada.

jadi sebaiknya setiap pembuat film menghitung proyeksi pendapatan mereka dengan selalu menyertakan rasio terjadinya bajakan. Kemudian selisihnya itu akan dibayar oleh pemerintah. hahahaha... tapi gw gak tau dari mana pembiayaannya. Karena klo suatu film sudah dibajak, maka mereka sudah menjadi barang semi-publik.

(Hanya berpendapat)

Gaffari said...

Seharusnya dari sisi pemerintah law enforcement terhadap perlindungan hak kekayaan intelektual perlu dilaksanakan, bukan hanya kebijakan "hangat-hangat t*i ayam," dan bukan pula mensubsidi penerimaan insan perfilman yang hilang akibat pembajakan.

Tapi menurut gw, bagaimanapun juga akan selalu saja muncul ruang kecanggihan teknologi yang menjadikan film ini sebagai barang "semi-publik" seperti apa yang Carlos katakan.

Yang seharusnya dipikirkan para pembuat film bukan hanya ilmu ekonomi seperti apa yang Carlos lakukan dibalik laptopnya yang berkutat dengan ngutak-ngatik data yang gak lengkap tapi dipakai untuk membuat kesimpulan (hahahaha...). Tapi lebih mencari media lain yang dapat dijadikan peluang penerimaan besar utk mengkompensasi kerugian akibat adanya pembajakan.

Contoh: Dalam industri musik, penghasilan musisi/group band banyak didapatkan dari penjualan ringtone dan NSP, di mana hal ini cukup mengkompensasi penerimaan yang hilang akibat pembajakan lagu-lagunya.

Letjes said...

aku kira apa yang diungkapkan oleh the economist dalam artikelnya udah oke. saat ini industri film seakan-akan ketakutan dengan perkembangan internet. padahal seharusnya mereka tidak perlu takut.

dengan perkembangan internet yang begitu pesat dan cepat, industri film harus beranikan diri untuk menjual filmnya melalui internet. tinggal klik dan download.

dengan menggunakan internet orang tdk perlu lagi repot2 beli DVD ke mal. biayanya pun akan jauh lebih rendah, apalagi pake iklan jg di webnya.

dan bahkan mungkin nanti, ketimbang beli ke mal ambassador untuk beli dvd bajakan (capek dan keluar ongkos), meski mungkin akan lebih mahal kita lebih memilih untuk mendownloadnya d rmh aja.

satu tepuk, dua lalat kena..


hemm... nulis apa sih aku..pjg bgt

hehehe.. piss

Gaffari said...

Bung Letjes:

Saya kira di Indonesia akan masih tetap lebih populer pembajakan film melalui DVD bajakan.
Aapabila melihat tingkat Internet Users (per 1000 people) tahun 2005 yang dipublish dalam Human Development Report 2007, kita masih jauh tertinggal dengan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Singapore 571, Malaysia 435, Vietnam 129, Thailand 110, Indonesia 73 dan Philippines 54.

Juga, most people di Indonesia lebih banyak menggunakan jasa warnet untuk akses internet, at least mesti keluar Rp4000/jam dan utk download 1 film secara utuh butuh 1 jam lebih. Belum lagi perlu flashdisk utk nge-save dan komputer utk nonton di rumah. Belum lagi jarang juga menemukan warnet dengan internet yang koneksinya cepat.

So, lebih baik keluar Rp5000/DVD dan keluar cost Rp300ribu untuk DVD player (buatan Cina).

Anonymous said...

Hohohoho...
Gw kemaren nonton AAC lewat Youtube, klo dilihat siy, kayaknya itu film dibajak pas sebelum editing. But, for my apologize, i have asked my friends to watch AAC and buy the DVD on behalf my cost because it is impossible to watch AAC in here without youtube.

Septian