Tuesday, March 25, 2008

Curhat: Atheis, Islamic Fund dan Randomness Process

Sebenernya sudah lama saya ingin menulis tentang dosen yang satu ini. Namanya David Hampton, PhD di bidang Electrical Engineering plus MBA dari ESCP-EAP, sekaligus juga manager untuk sebuah CTA Fund(Commodity Trading Advisor Fund) yang bulan Februari kemarin merupakan fund dengan second best return di seluruh dunia. Dia ini mengajar Quantitative Method in Finance dan Advanced Global Risk Management di program yang saya ikuti sekarang. Pintar dan jenius, meski sering pula ngajarnya tidak terstruktur (gejala terlalu pinter kali ya?).

Dosen saya ini juga seorang Atheis. Dia tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Apa yang ada bagi dia adalah segala sesuatu yang bisa dibuktikan secara empiris, misalnya lewat sebuah uji hipotesis. Menurut dia, karena eksistensi Tuhan tidak bisa diuji lewat sebuah hypotesis testing, maka membicarakan eksistensi Tuhan adalah sesuatu yang tidak relevan. Bagaimana Anda bisa beranggapan bahwa Tuhan itu ada, sedangkan untuk menguji eksistensinya saja tidak dimungkinkan ?

Hari kamis sore kemarin, dosen saya ini kembali mengungkit-ungkit soal ideologi keatheisannya. Kemudian dia membandingkan CTA Fund performance-nya dengan beberapa index fund yang lain, termasuk Global Islamic Index Fund-nya Dow Jones. Di situ dia menunjukkan bahwa, Global Islamic Fund ternyata punya volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan CTA Fund-nya dia, dan sharpe ratio-nya juga lebih rendah. "It is not a good investment," simpulnya.

Saya yang sudah agak-agak ngantuk, jadi tertarik mendengar ulasannya. Dia menambahkan, bahwa pelarangan short selling dalam Islamic Finance membuat Islamic Fund tidak memiliki fleksibilitas dalam upaya untuk menurunkan tingkat volatilitas. Hal ini yang menjadi hipotesisnya dia kenapa Global Islamic Fund memiliki volatilitas yang tinggi dan sharpe ratio yang rendah. Tapi saya tidak terima argumennya bahwa short selling bisa menjadi cara yang efektif untuk menurunkan volatilitas hanya jika kita dapat menentukan dengan tepat asset mana yang sudah overvalued dan ke depannya memiliki trend harga yang menurun, dan jika pilihan Anda salah, maka kerugian yang akan Anda dapatkan adalah tidak terbatas. The sky is the limit.

Dan hohohoho...Dosen saya ini sempat terdiam, sebelum kemudian setuju sama pernyataan saya. Tentang hal ini, Nassim Nicholas Taleb, dalam bukunya Fooled by Randomness, mengemukakan sebuah argumen yang menarik. Kita tidak boleh mengukur keberhasilan dari sebuah keputusan hanya sekedar dari output yang dicapai dari keputusan tersebut, tapi juga harus melihat dari sisi biaya jika situasi yang ada ternyata tidak berjalan sesuai dengan keputusan yang diambil. Dalam ilmu ekonomi, metode ini kemudian dikenal dengan "what-if scenarios."

So, kalo Anda sukses melakukan short selling, maka jangan berbangga hati dulu, karena siapa tahu kesuksesan Anda adalah sebuah hasil dari randomness process (baca: keberuntungan). Apa jadinya jika ternyata harga asset yang Anda short selling terus naik? Short selling sendiri dilarang dalam Islam karena tidak boleh menjual barang yang belum Anda miliki. Tapi dari kelas ini ada satu pertanyaan yang sangat menarik bagi saya, terutama karena di kelas ini dosen saya banyak membahas random walk process dalam dunia keuangan. Dalam finance, asumsi bahwa pergerakan harga sebuah aset adalah mengikuti pola yang acak, atau dikenal dengan random walk process atau brownian motion dalam dunia fisika. Dengan kata lain, adalah sangat mustahil untuk bisa memprediksi harga sebuah asset di masa depan.

Implikasinya, dalam dunia asset management, sangat sulit bagi seorang fund manager untuk bisa mengalahkan return pasar secara konsisten dan signifikan. Penelitian dari dosen saya yang disebutkan diatas juga membuktikan bahwa, nilai alpha, yang menunjukkan skill seorang fund manager dalam mengalahkan return pasar, ternyata sangat kecil dan cenderung tidak signifikan.

Dari sini saya mulai mengkonfrontasikan dengan keyakinan yang selama ini saya anut, bahwa segala yang berjalan di dunia ini sebenarnya sudah ditentukan oleh Tuhan. Jika process randomness ini memang terjadi, tentunya, dalam kerangka pemahaman manusia, tidak ada kehendak Tuhan dalam pasar, karena ternyata pasar bergerak secara acak. Atau karena pemahaman manusia yang sangat terbatas untuk menyadari bahwa process acak ini sesungguhnya adalah sebuah proses berpola dalam kehendak Tuhan?

Septian, sedang studi mengambil Master of Science in International Finance, CERAM Sophia Antipolis, Perancis.

9 comments:

Anonymous said...

Berarti Tuhan setuju dengan Market Mechanism begitu??

carlos

Chaikal said...

Tuhan saya setujunya pasar saham yang tidak ada unsur spekulasi, dan pastinya short selling dapat mencegah hal ini..

dalam suatu model stochastik yang bertujuan prediksi seharusnya yang random walk itu si-error term, nah dalam hal ini justru variabel yang mau diprediksi (harga saham)yang random..

Anw septian, randomness dari pergerakan harga saham kan basisnya adalah rational expectation (efficient market hypothesis), efisiensi disini dalam arti tidak ada unexploited profit yang exist di pasar..

Namun pertanyaannya, apakah pelaku pasar saham rational? dan apakah pasar saham itu sendiri kompetitif?

Anonymous said...

Klo kita bicara secara positivis, short selling bisa berguna kok dalam menurunkan volatilitas dengan menciptakan keseimbangan dalam pasar..jadi marketnya gak one way move kayak di China. Di China, short selling tidak diperbolehkan, akibatnya volatility di marketnya sangat tinggi. Tapi harus di ingat bahwa short selling resikonya juga tinggi..
Klo bicara rasionalitas pelaku pasar, wah ini debatable abis. Karena sebenernya pasar saham lebih merupakan kombinasi antara fear, greed and some fraud in the middle. hampir sama sekali gak ada unsur rasionalitas. Kayaknya rasionalitas dalam pelaku pasar, cuma ada di text book dan asumsi atas sebuah model. Irrasionalitas ini kemudian memunculkan cabang ilmu ekonomi baru, yaitu behavioral economics.
Terlepas dari Efficient market hyphothesis, ada lho fund2 manager yang konsisten bisa menghasilkan return lebih besar dari pada return pasar. Contohnya adalah warren buffet yang menggunakan metode analisis fundamentalnya, dan Jim Simmons dari renaissance technology yang menggunakan teknik2 statistik. Orang2 inilah yang membuktikan bahwa pasar sama sekali tidak efficient


Septian

Chaikal said...

Nah kalo memang pasar saham tidak efisien, apakah mungkin ketidakefisienan ini selain disebabkan tidak rasionalnya pasar namun juga disebabkan struktur pasar yang tidak kompetitif?

Gaffari said...

Saya rasa penerapan adaptive expectation dalam pasar keuangan saat ini menjadi kurang akurat, mungkin sekarang cenderung rational expectation. Harusnya Carlos bisa memberi pencerahan untuk hal ini, secara skripsinya ada kaitan dengan rational expectation.

Dengan kondisi yang digambarkan septian, di sini saya juga sempat meragukan hasil forecast inflasi salah satu kawan di NISP yang bisa selalu nyaris tepat atau tepat sekali hanya dengan menggunakan model ARMA-ARIMA yang pendekatannya lebih bersifat adaptive.

Saya rasa benar apabila return Global Islamic Index menjadi tidak terlalu besar, karena Index ini menurut saya berusaha untuk membuat polanya sendiri dengan menabrak volatilitas yang terjadi di pasar, ini akibat tidak ikut dalam short selling dengan mengurangi gap volatilitas harga dalam pasar.

Sorry, nih pengamatan keuangan gw masih cupu to! He3

Anonymous said...

Fear, greed and fraud...menurut gw itu kunci penting dalam memahami pasar keuangan far hehehehe...Gak perlu pakai teori yang canggih2 kok.
Klo cuma diukur dari return, Global Islamic Index Fund lebih tinggi kok dibandingkan dengan MSCI world index,tapi masalahnya volatilitasnya juga tinggi.
Tapi harus diingat juga bahwa volatilitas menjadi begitu penting jika anda adalah seorang trader, namun bagi seorang investor yang buy and hold, seperti yang kebanyakan islamic fund, volatilitas, khususnya jangka pendek, tidak begitu penting. Karena time frame investasinya lebih ke medium - long term.

Buat bung chaikal, kompetitif atau tidaknya pasar, menurut pemahaman saya sangat tergantung dari likuiditas dan sejauh mana perfect information ada di pasar. Jadi, menurut saya, ineffisiensi di dalam pasar keuangan justru akan menyebabkan pasar itu menjadi tidak kompetitif.
Yang jadi pertanyaan saya, apakah klo misalnya ada satu atau dua orang yang secara konsisten bisa mengalahkan return dari pasar, dapat kita bilang bahwa pasar itu kemudian menjadi tidak effisien?


Septian

Chaikal said...

Bung Seto,

dalam term mikroekonomi, pasar dikatakan efisien adalah jika terjadi zero economic profit (??).. Jadi jika masih ada margin atau profit yang bisa dieksploitasi maka pasar tidak efisien..

Imperfect information yang mengakar pada pasar keuangan memang menyebabkan pasar keuangan tidak kompetitif. Saya hanya ingin menanyakan apakah selain maslah informasi yang tidak sempurna, hal ini juga disebbakan oleh struktur pasar keuangan itu sendiri yang tidak kompetitif? (artinya ada pemain yang bisa mempengaruhi harga i.e. price setter)

Anonymous said...

Hmm..saya sudah sebutkan sebelumnya, imperfect information, faktor likuiditas juga mempengaruhi sejauh mana seseorang bisa mendapatkan abnormal return (loss) atau tidak. Liquidity risk ini, pada beberapa emerging market (e.g: exotic currency)cukup besar, sekitar 20-30%. Nah liquidity risk ini kemudian dibagi jadi dua, endogeneous dan exogeneous. Endogeneous liquidity risk akan terjadi jika ada satu player yang akan menjual/membeli aset di pasar dengan volume yang sangaat besar, melebihi volume bid-ask yang ada dipasar. Sedangkan Exogeneous liquidity risk lebih mengacu kepada microctructure dari pasar.


Septian

Anonymous said...

Oyah...
klo di finance, EMH (efficient market hyphothesis) ada tiga tipe. dan satu lagi, pasar dikatakan tidak effisien jika ada pemain yang bisa mendapatkan abnormal return...secara konsisten


septian