Saturday, March 15, 2008

Mengapa karir profesional mantan ketua-ketua organisasi mahasiswa jaman sekarang kalah bagus dari mantan anggota-anggotanya?

Pertanyaan diatas sangat menarik dibahas, karena fenomena ini dapat menandakan pergeseran nilai-nilai dalam dunia kemahasiswaan jaman sekarang dibanding jaman dahulu.

Ketua-ketua organisasi mahasiswa jaman sekarang bila dibanding dengan jaman dahulu lebih banyak lahir karena kepopuleran secara akademis, penampilan, pergaulan dan kemampuan menciptakan program-program kerja organisasi yang mampu menarik perhatian massa. Sedangkan para ketua organisasi mahasiswa jaman dahulu kebanyakan lahir dari masa pergerakan mahasiswa.

Perbedaan cukup mendasar dari dua periode jaman ini ada pada bobot antara tugas manajerial dan teknikal. Pada jaman dahulu, seorang ketua organisasi mahasiswa memiliki peran yang hampir seimbang antara manajerial dan teknikal. Artinya selain mengatur, seorang ketua juga harus turun ke jalan (melakukan hal teknikal) karena jaman menuntutnya untuk berada di baris depan ketika memimpin pergerakan mahasiswa. Sedangkan sekarang, ketua organisasi mahasiswa akan lebih banyak membuat program kerja dan melakukan tugas-tugas manajerial. Atau dengan kata lain, mereka lebih cenderung ”menyuruh” anggotanya daripada bersama anggota-anggotanya untuk melakukan langsung tugas-tugas keorganisasian.

Apakah efek samping dari kondisi jaman sekarang? Jadi, pada diri ketua-ketua organisasi mahasiswa jaman sekarang akan tercipta ”ego” yang lebih tinggi dibanding jaman dahulu. Karena rasa tersebut sangat diperlukan sewaktu me-manage para anggota organisasi agar mampu menyelesaikan program-program yang telah ditetapkan.

Lalu apakah hubungannya ego itu dengan karir profesional sang mantan ketua?? Jadi setelah lulus menjadi sarjana, rasa ini sering kali terbawa-bawa hingga ke dunia kerja. Sang mantan ketua menjadi selalu merasa harus no.1 dibanding mantan para anggota organisasinya.

Ego ini mendorong dia untuk cenderung memilih-milih pekerjaan berdasarkan gengsi dan prestis yang sebenarnya tidak masuk diakal, dimana seharusnya minat dan potensi diri adalah dasar utama. Lebih dari itu, seringkali para mantan ketua ini, tidak sepenuh hati dalam melakukan pekerjaan teknikal di kantor dan ingin cepat-cepat mendapat tanggung jawab manajerial padahal dirinya masih seorang pegawai dasar.

Alhasil sang mantan ketua organisasi tersebut menjadi tidak betah pada lingkungan kerjanya, meskipun sebenarnya dia telah berada di profesi yang akan membawa dirinya menuju kesuksesan.

Hal lain yang juga sering terjadi adalah kebiasaan sang mantan ketua untuk membandingkan karir dia dengan karir para mantan anggotanya. Sehingga secara tidak sadar dia telah membuat dirinya sendiri menjadi stress/depresi ketika melihat karir yang lebih baik pada mantan anggotanya. Padahal ketekunan dan kesabaran adalah kunci buat dia untuk mencapai karir yang lebih baik. Akibat dari tindakannya tersebut sang mantan ketua menjadi kurang berkonsentrasi pada profesinya dan melakukan tindakan-tindakan yang malah memperlambat karirnya.

Akhir kata, mohon kritisi ulasan saya atas fenomena ini. Terima kasih.

11 comments:

pelantjong maja said...

sebenernya pekerjaan itu pilihan dan ketika orang menjadi terlalu 'picky', itu juga pilihan. dan konsekuensi adanya pilihan itu juga seharusnya sudah diketahui. parahnya jika konsekuensi pilihan itu tidak disadari oleh sang pekerja

Anonymous said...

Wah los, tulisan loe ini menyindir siapa ya? he3...
Tapi Alhamdulillah gw bukan mantan ketua organisasi jaman sekarang maupun jaman dahulu. Kalo gw, jaman pertengahan. he3..
Tapi tulisan loe ini ada benarnya juga..

Salam,
Rebibbia
ex-Pojokan 412

Fauzan Zidni said...

wah, spertinya menyindir bung gafar...
tapi bung gafar saya pikir tidak seperti itu, beliau masih di kantor sampe tengah malam... tekun, giat bekerja dan rajin menabung...
insya allah semakin soleh dan dapet jodoh akhwat yang solehah juga... :)

andimasboy said...

hehe...

dulu seinget gw, si ketua IM dan BEM gw ga pernah malu2 buat kerja hal teknis, bahkan si ketua pernah jadi ball boy di acara pertandingan futsal, wakakak...

yang gw tau, ketua gw itu berfikir satu hal: sentuhan kebersamaan dalam organisasi akan sangat berarti bagi teman2 panitia.

that's all

Anonymous said...

Satu kejadian yang di generalisasi menjadi sebuah kesimpulan umum. Mengecewakan tulisan ini muncul dari seorang maestro ekonometrika FEUI


Septian

Gaffari said...

Kalo komentar sebelumnya, dari ex-Pojokan 412 (Fajar, ex-Ketua Kanopi), Fauzan Zidni (ex-Ketua SM FISIP UI), dan Andi Mas Boy (ex-Ketua BEM FTUI), yang semuanya para mantan ketua organisasi yang mengutarakan komentar dari segi personal. Kalo saya lebih baik, berkomentar tentang kesalahan ketaatan logika pada tulisan ini dari segi sistematika berfikir.

Ketaatan logika mempunyai maksud bahwa ketika menuliskan apa yang ada dalam pikiran sedapat mungkin menggunakan logika berpikir yang logis dan sistematis serta sedapat mungkin menghindari “kesesatan-kesesatan” berlogika (logical fallacies). Penyusunan premises, arguments, inference, conclusion yang dihasilkan dari suatu ide sedapat mungkin tidak sesat dalam berlogika.

Ada beberapa kesalahan dalam tulisan berfikir dalam tulisan ini:

1. Non Causa Pro Causa

Fallacy ini terjadi ketika sesuatu diidentifikasikan sebagai penyebab dari suatu kejadian, tetapi sebenarnya bukanlah penyebab yang sesungguhnya.

2. Post Hoc Ergo Propter Hoc

Fallacy ini terjadi ketika sesuatu dikatakan sebagai penyebab suatu kejadian hanya karena hal itu terjadi sebelum kejadian itu berlangsung.

3. Argumentum ad Ignorantiam

Terjadi ketika kita mengatakan bahwa sesuatu itu benar karena tidak ada bukti yang mengatakan hal itu salah, atau sesuatu itu salah karena tidak ada bukti yang mengatakan hal itu benar.

4. Argumentum ad Logicam

Sering disebut juga fallacy fallacy. Terjadi ketika suatu argumen yang salah karena diberikan sebagai kesimpulan dari suatu argumen yang juga salah.

5. Argumentum ad Verecundiam

Fallacy ini terjadi ketika timbul pemujian pada diri seseorang yang dipandang positif sehingga apa yang diucapkannya adalah sebuah kebenaran. Kebenaran kemudian dilihat sebagai suatu pengakuan atas ototitas seseorang (person) yang mengatakan sesuatu hal. Hal ini sering ditemui ketika seseorang menelan mentah-mentah pendapat orang lain yang mempunyai otoritas dalam suatu hal dan kemudian menjadikan apa yang dikatakan oleh orang itu sebagai kebenaran yang tidak dapat diutak-utik lagi.

6. Affirmation of Consequence

Secara sederhanya seperti ini :

If P, then Q
Q (is true)
Therefore, P (is true)
Logika model deduktif diatas adalah salah. Argumen seperti itu tidak memberikan suatu alasan yang tepat untuk menegakkan kesimpulan. Kebenarannya dilihat dari implikasi dari suatu hal dan kemudian menuju pada premis awal.

Selanjutnya, silahkan kelompokkan kategori kesalahan berfikir di atas melalui contoh tulisan Carlos....

Hahahaha....

Tulisan lo kalo kata Gro, "You hit my G-spot" Hahahahaha......

Anonymous said...

guys.. ini bukan maksudnya menyindir. Tapi lebih tepatnya curhat, hahaha...
thanks atas segala kritiknya

carlos

fauzan said...

pokoknya yg penting gafar kawin sama akhwat PKS lah!
sudah trah di keluarganya... hihihii

Gaffari said...

Fauzan Zidni:
Wah-wah, udah di luar konteks nih comment-nya.
Maksud lo akhwat2 PKS yang siap dipoligami ya?
Hahahahaha..........

Gak ikut-ikut deh gw soal itu....

aanugroho said...

Mau tak mau harus nimbrung nih.

“...pada diri ketua-ketua organisasi mahasiswa jaman sekarang akan tercipta ”ego” yang lebih tinggi dibanding jaman dahulu. Karena rasa tersebut sangat diperlukan sewaktu me-manage para anggota organisasi agar mampu menyelesaikan program-program yang telah ditetapkan..”

Bung, tulisanmu kali ini fatal betul secara substance ataupun framing-nya. Sepertinya kamu mencoba mereduksi suatu persamaan yg complex menjadi persamaan identitas secara membabi-buta. Lebih jauh lagi, dalam tulisan tsb sebuah general concept diturunkan dari suatu kondisi yg spesifik, atau bias dikatakan frame yg diskrit dipaksakan dalam suatu analisa kontinuitas. Seakan sebuah general equilibrium yg dipotret dari suatu bank data yg kurang komprehensif dan digunakan utk melihat flow dari suatu factor.
Setau saya ini tdk boleh.

“..Sang mantan ketua menjadi selalu merasa harus no.1 dibanding mantan para anggota organisasinya..”

“..mendorong dia untuk cenderung memilih-milih pekerjaan berdasarkan gengsi dan prestis yang sebenarnya tidak masuk diakal, dimana seharusnya minat dan potensi diri adalah dasar utama. Lebih dari itu, seringkali para mantan ketua ini, tidak sepenuh hati dalam melakukan pekerjaan teknikal di kantor dan ingin cepat-cepat mendapat tanggung jawab manajerial padahal dirinya masih seorang pegawai dasar..”

Lgipula, ada hal penting yg terlupakan. Sudut pandangmu ini terlalu marxis. Tidak percaya? Secara tidak sadar kamu berusaha me-nomina-kan factor lain yg mungkin melatarbelakangi kondisi ini. Persis seperti kediktatoran proletariat yg coba didirikan dengan alasan & tujuan yg salah. Atau boleh juga dibilang ini upaya pemaksaan argument Cet Par yg keterlaluan.

“..Padahal ketekunan dan kesabaran adalah kunci buat dia untuk mencapai karir yang lebih baik..”

Setuju dengan yg ini.

“..Akhir kata, mohon kritisi ulasan saya atas fenomena ini..”

No hard feeling lah! Saya sadar sepenuhnya kalau tulisan ini tidak merujuk ke saya..
Endang sukamti cintya lamusu, terimakasi God blesss yuuu... mariii....
Hahahaha..! You hit my G-spot!


- vocatus atque non vocatus Deus aderit -
"called and not called, God will be present"

Anonymous said...

thanks atas masukannya gro.

carlos