Monday, March 17, 2008

Partai Politik Islam: Religion Loyalty yang Meragukan

Ada suatu fenomena menarik mengenai perkembangan partai politik di Indonesia yang memiliki basis ke-Islaman sebagai salah satu pembentuk ideologinya, meskipun ada beberapa yang mengatakan berdasarkan Pancasila, namun tetap saja basis massa yang digerakkan dibelakangnya tidak bisa dilepaskan dari ideologi agama Islam.

Studi yang dilakukan oleh Aris Ananta, Evi N. Arifin, dan Leo Suryadinata dalam buku Indonesian Electoral Behavior: A Statistical Perspective (Singapore: ISEAS, 2004) pada Chapter 8 saya ringkas hasil analisis secara ekonometrik terhadap 4 Partai Politik Islam di Indonesia sebagai berikut:



Dalam studi ini yang menjadi variabel dependen adalah suara (vote) yang didapatkan oleh partai politik tersebut pada Pemilu 1999 (walaupun datanya sudah obsolete, namun saya rasa hasil studi ini masih relevan hingga sekarang), sedangkan variabel independen-nya dalam hal ini meliputi berbagai aspek-aspek sosial-ekonomi.

Dengan pemilih di Indonesia yang 80 persen lebih adalah muslim, tentu embel-embel partai politik yang berdasarkan atau ada kaitan dengan agama Islam memang menjadi sangat potensial untuk digarap. Namun, berdasarkan hasil yang didapatkan studi tersebut menunjukkan bahwa variabel religion sendiri hanya mencerminkan koefisien yang jauh lebih kecil dibandingkan variabel region (dalam hal ini wilayah basis partai politik).

Dengan demikian, hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kondisi ke-Islam-an di sini lebih sangat kental pada basis kewilayahan (region) tertentu, bukan lebih pada ideologi agamanya.

Bisa saja saya pada akhirnya membuat terminologi sebagai berikut, yaitu: PKB adalah Partai Islam Region Tapal Kuda, Jawa Timur; PAN adalah Partai Islam Region Jawa Tengah dan Yogyakarta; PKS adalah Partai Islam Region Perkotaan Jabodetabek; sedangkan PPP adalah Partai Islam Sisa Region dari Partai-Partai Islam lainnya.

So, apakah benar bahwa religion loyalty terhadap partai-partai politik yang berkaitan dengan haluan religi Islam masih relevan? Atau memang terminologi yang saya buat di atas lebih tepat?

Tambahan:

Seperti yang terjadi saat ini, di mana ada trend Partai Politik berhaluan Islam mulai menggeser pendulumnya ke tengah. Misalkan saja, PAN yang sekarang menyatakan sebagai partai nasionalis-religius, PKS yang sekarang mulai menggarap massa non-muslim dan bahkan mengadakan Rakernas di Bali. Jadi, pertimbangan memperluas region dengan tanpa mempertimbangkan religion (Islam dan Non-Islam) menjadi lebih dititikberatkan untuk meperbesar votes.

Secara platform, katakan saja platform ekonominya, secara garis besar tidak ada yang spesial ataupun berbeda secara spesifik, dan untuk Pemilu 2009, saya yakin seputar perdebatan dan perbincangan yang terjadi akan kurang menyentuh substansi.

14 comments:

Gaffari said...

Wah lupa gw bikin posting yang ada hasil ekonometriknya..Bung Fauzan Zidni pasti ga bakal baca nih..Secara dia ancur2an di mata kuliah ekonometrik di NUS...Ha3....

Fauzan Zidni said...

gpp... yang penting malam ini gw diundang dinner sama pak aris... :)
siapa tau aja ketularan ekonomet nya...

Chaikal said...

ukuran variabel religionnya apa? jika mau analisis koefisien harus dilengkapi tuh ukurannya..

Gaffari said...

Notes for Chaikal:

RELIGION : the number of Muslims in a district.
ETHNICITY : the number of javanese in a district.
URBANITE : the number of urban population.
LOW-ED : population aged 10 years old and above with primary school education or no education.
HIGH-ED : population aged 10 years old and above with at least senior high school education.
MIGRANT : population aged 5 years and over who are migrants.
POVERTY : population under the poverty line.
INCOME : per capita gross dometsic product.
REGION : population in a district
VOTE : the number of votes for each party in a district.

Jadi variabel Religion yang diukur adalah penduduk muslim. Ini digunakan melihat pengaruh bagaimana penduduk muslim dalam memilih partai politik yang memiliki kaitan dengan Islam.

kaitokid724 said...

Dari data statistik bpk diatas telah membuktikkan dengan pasti bahwa sebenarnya rakyat Indonesia kepmimpinan berpikirnya adalah Islam. Oleh karena itu sebagian besar dari mereka akan memilih partai apa yang menurut pandangan berpikirnya (islamnya) paling mendekati untuk perbaikan Indonesia dengan syariat Allah SWT..mungkin gitu pak :D
http://www.infogue.com/masalah_politik/partai_politik_islam_religion_loyalty_yang_meragukan/

Gaffari said...

kaitokid724:
Saya rasa Indonesia tidak cukup hanya membutuhkan seperti yang Anda katakan "partai apa yang menurut pandangan berpikirnya (islamnya) paling mendekati untuk perbaikan Indonesia dengan syariat Allah SWT."

Namun, lebih butuh partai yang konsisten benar-benar sepenuhnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan memikirkan kesejahteraan kantong sendiri.

Saat ini, embel-embel, simbol-simbol keagamaan tak menjamin semua perbaikan negeri ini berjalan dengan baik, yaitu selama simbol keagamaan hanya dijadikan sebagai komoditas politik.

Letjes said...

gaffar:

bung gaff, aku rasa krg tepat klo km menyimpulkan bahwa variabel region dg terminologi spt itu.

krn sesuai dg keteranganmu, variabel region tsb menunjukkan jumlah populasi di daerah tsb.

terminologi tsb akan benar ketika variabel tsb adalah variabel dummy untuk masing-masing daerah.

jadi dari variabel tersebut, yang bs disimpulkan hanya: dg bertambahnya jumlah pop di suatu daerah, vote partai akan meningkat.

satu hal, sy setuju bahwa ideologi agama atau politik ayat suci gk akan bertahan lama.

disertasi dari saiful mujani bs dipertimbangkan untuk komparasi hasil studi ini,

Fauzan Zidni said...

mas aris ternyata DO dari FE UI!!!
dan dia adalah bagian dari tim yg men DO kan dirinya... ketika dia sudah bergelar doktor...

GUBRAK!!! gimana bisa tuh... hahahaha kayanya yang kaya gitu g akan terjadi di FISIP deh... :)

Fauzan Zidni said...

berhubung gw udah di skak mat sama gafari, gw gak akan komentari ekonometnya lah...

cuma maw sedikit berbeda pendapat dengan mas letjes, saya kira trendnya masih akan sama, partai2 politik islam masih akan bertahan dengan masa primordialnya yang berbasis ayat suci dan agama... tapi memang terjadi shifting untuk menggunakan bahasa2 kampanye yang lebih populer... tidak lagi membawa isu piagam jakarta atau perda syariah... tapi lebih kepada isu2 populis sperti AKP di turki...

namun begitu, secara personal, para politisi dan kader serta masa primordial akan tetap memiliki identitas yg sama... tinggal seberapa besar mampu mendapatkan swing voter dari kelompok lain...

Gaffari said...

Bung Fauzan:
Kalo partai politik yg Anda mksd tersebut tdk berani mengangkat isu seperti dulu (piagam jakarta dan perda syariah) dan beralih kepada isu-isu populis, lalu apa bedanya dengan isu-isu yg diusung oleh partai nasionalis/sekuler?

Bung Letjes:
Sepakat kalo untuk membuat terminologi tersebut menggunakan dummy variabel.

Letjes said...

saya tidak bisa tidak sepakat dengan bung gaffar. bahkan lebih jauh, dilihat dari isu-isu yang dibawanya (terlepas dari apa platform dari partai tersebut) sebenarnya kita tidak perlu punya sampai lebih dari 20 bahkan 30 partai.

akan menarik sebenarnya klo kt lakukan survei terhadap para pengurus dan juga kader partai-partai yang ada, terhadap topik, isu, atau berbagai permasalahan yang ada. dan setelah itu kt coba lakukan analisis semacam cluster.

saya yakin paling banyak hanya ada 3-4 cluster. artinya kt cukup punya 4 partai saja.

terima kasih

Gaffari said...

Saya lebih kecewa lagi melihat hasil pengesahan RUU Pemilu menjadi UU di DPR baru-baru ini, yang di dalamnya menyiratkan partai politik gurem dengan suara di bawah treshold dengan hanya memiliki 1 kursi di DPR saja bisa langsung ikut dalam Pemilu 2009.

Secara umum, saya simpulkan UU Pemilu yang baru tetap tidak memberikan sinyal untuk menuju sistem partai yang lebih sederhana.

Bung Letjes:
"akan menarik sebenarnya klo kt lakukan survei terhadap para pengurus dan juga kader partai-partai yang ada, terhadap topik, isu, atau berbagai permasalahan yang ada."

Mungkin Anda salah satu objek yg bisa disurvei..He3....

Chaikal said...

ukurannya bung gaf bukan definisi.. saya masih merasa ada yang aneh dengan output regresinya, maaf..

Gaffari said...

chaikal:
Silahkan saja beli bukunya, atau nyuri baca di toko buku terdekat.

thanks.