Wednesday, March 12, 2008

Kebijakan Rumah Susun: Sebuah Penyimpangan

Posting ini terinspirasi pada sebuah pemandangan kompleks Rumah Susun Kebon Kacang yang kebetulan persis berada di belakang gedung saya bekerja.

Kebijakan rumah susun pada awalnya merupakan sebuah konsep kebijakan yang baik oleh Perumas. Penduduk yang bekerja di kota besar khususnya Jakarta, tentu saja perumahan yang layak untuk masyarakat dengan pendapatan kelas ke menengah bawah menjadi bagian yang penting dalam menyokong roda ekonomi di Jakarta. Penduduk ini tentu saja membutuhkan akses perumahan yang layak dan dekat dengan pusat aktivitas ekonomi.

Namun yang terjadi saat ini adalah sebuah penyimpangan, di mana banyak rumah susun tersebut menjadi beralih fungsi sebagai tempat tinggal yang disewakan, berdasarkan pengamatan saya, rumah susun tersebut banyak ditempati pekerja dengan pendapatan menengah ke atas.

Mengapa penyimpangan ini terjadi?
Bayangkan saja, penduduk dengan pendapatan menengah ke bawah dan pada umumnya memiliki pekerjaan dengan penghasilan tidak tetap dihadapkan pada pemenuhan tempat tinggal yang membutuhkan biaya yang dikeluarkan secara rutin. Pada akhirnya, penduduk yang seharusnya menempati rumah susun tersebut memutuskan untuk menyewakannya pada orang lain yang memiliki penghasilan tetap. Dengan ini, dia akan menerima pemasukkan tetap dari hasil sewa, dan bahkan tanpa harus lagi mencari pekerjaan atau bekerja (as simple as that!).

Berdasarkan perbincangan dengan salah satu orang yang tinggal di rumah susun tersebut, cukup hanya mengeluarkan biaya Rp4 juta per tahun untuk menyewa rumah susun dengan tipe studio berfasilitas lengkap dengan kamar mandi, dapur, pendingin ruangan, TV kabel, dan bahkan jaringan internet (murah kan?).

Lihat saja hasil jepretan foto-foto yang saya ambil di bawah ini;

Keterangan foto:
1.
Dua blok rumah susun kebon kacang dengan fasilitas pendingin ruangan dan TV kabel.
2. Gambar lebih dekat, rumah susun berfasilitas pendingin ruangan.
3. Gambar lebih dekat, atap-atap rumah susun penuh dengan parabola dan pemancar TV kabel.
4. Mercedes Benz, salah satu mobil dari beberapa mobil mewah yang terparkir di pelataran parkir rumah susun.

Seharusnya, pemerintah melaksanakan monitoring dalam pelaksanaan kebijakan rumah susun ini dengan tujuan memastikan bahwa rumah susun tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh penduduk yang dijadikan target kebijakan ini. Barangsiapa yang menyalahgunakan harus dikenakan sangsi atau denda.

Pernah ada isu bahwa perumahan kompleks rumah susun kebon kacang ini sempat ingin digusur oleh salah satu pengembang kompleks pertokoan dan apartemen. Kalau saat ini penggunaannya sudah menyimpang dengan terus menerus disalahfungsikan dan sekali lagi menguntungkan kelas masyarakat menengah ke atas (seperti halnya subsidi BBM), yah apa mau dikata, yah digusur sajalah! Hahahaha…….

7 comments:

Carlos said...

emang kalo kejadiannya seperti itu salah kah? bila pada akhirnya orang menengah ke bawah tetep menikmati value added dari rumah susun tersebut bila dia mengkontrakkannya?

saran gw sih, semua rumah susun mestinya dibangun di pinggir kota, tidak boleh ada di dalam kota. Dengan demikian tidak ada lagi kejadian seperti yang lu tulis,Far.

Gaffari said...

Betul los, kalo mau rumah dengan akses dekat dgn pusat kota, semestinya dikenakan tarif tinggi.
Hal inilah memunculkan semakin bnyknya bermunculan apartemen2 di pusat kota.

Sedangkan utk tmpt tinggal dgn biaya murah, mmg mesti ada di pinggiran kota.

Kadang,terlalu bnyk pemandangan kontras di Jakarta ini.
Apalagi liat pemandangan di belakang kantor, penuh celana dalam dan kutang-kutang dijemur..Wuehehehehe....

fika said...

sama saja bukan? yang penting kan rakyat kecil terbantu. entah untuk tempat tinggal untuk mencari nafkah di tengah kota atau untuk disewakan dan pindah ke pinggir kota. kalaupun ada yang harus disalahkan adalah anda. kenapa nge-post kayak gini. kalau rumah susunnya digusur karena postingan anda, anda mau menanggung htempat tinggal untuk sekitar 400 keluarga yang memang benar2 hanya memiliki rumah di kebon kacang? lagipula,rumah susun kebon kacang sudah ada dari 25 tahun yang lalu. mungkin ketika anda masih kecil.

undine said...

Loh, itu rusun sudah ada sejak 25 tahun lalu, waktu itu yg beli kelas menengah bawah, apa disuruh terus2an jadi menengah bawah ?
Sy sendiri tinggal disitu dan itu milik ortu sy sudah puluhan tahun. Waktu itu belum ada gedung2 tinggi, bahkan daerah tsb kumuh. Ayah sy waktu membeli itu masih ada di kelas bawah, skrg sy nempatin rusun tsb dgn ciri yg seperti anda lihatkan gambarnya (ac+tv kabel tapi minus mobil). Salah saya? pelanggaran kah ? Kalaupun disewakan apa salah ?

Anonymous said...

Respon thd komentar fika dan undine, saya rasa saat ini memang tidak ada alasan kuat utk penggusuran rusun kebon kacang. Satu2nya alasan yg memungkinkan hanya faktor teknik sipil aja, apabila secara konstruksi sdh membahayakan utk ditinggali. Akan tetapi proses pembangunan kembali akan menimbulkan masalah konsesi. Perhitungan ekonomi yg ada hanya sebatas ganti rugi tanah dan bangunan. Padahal ada aspek ekonomi lain yg mestinya masuk hitungan ganti rugi, spt lapangan kerja (utk yg bisnis penyewaan), kemudahaan transportasi (utk yg bekerja di thamrin dan sekitarnya), dan msh banyak lagi. Saran saya, penghuni rusun membentuk organisasi penghuni lalu bersama2 pinjam dana utk pembangunan ulang apabila waktunya tiba utk rekonstruksi bangunan. Saya yakin banyak anak2 muda rusun yg bisa memulai usaha ini.

Rcm

undine said...

Setuju dengan yang diatas. Karena sy sangat keberatan dgn artikel ini. Karena rusun ini kepemilikannya HGB (beli putus) bukan seperti diluar negeri pemerintah yang menyewakan apartemen utk orang miskin. Tidak ada itu aturan yang menghuni hanya kelas menengah bawah. Namun memang seperti sy infokan, bahwa pembelian rusun ini 25 tahun lalu memang terbatas sekali utk menengah bawah. Namun kalau sudah 25 tahun begini, apa ga wajar org2 itu sudah beranak cucu dan ada perubahan peningkatan ekonomi? Coba lah yg buat artikel mikir dulu.. Cari data dulu...Ga hanya liat dari luar, trus ada AC, mobil, antena tv kabel, langsung nyuruh gusur2 aja. Tetangga2 saya rata2 sudah puluhan tahun tinggal disana. Banyak juga yang tidak pake ac dan parabola. Tapi itu juga ga menjadikan sy yang memiliki spesifikasi rusun dgn AC dan TV kabel menjadi salah dan dianggap menyimpang toh?

Tomi said...

Tolong anda kalau membuat sebuah blog dan tulisan hendaknya di lakukan riset lebih dalam, jangan asal lihat dari visual tanpa tau sejarah dan perkembangan dari dulu sampai sekarang di rusun kebon kacang, saya sudah tinggal sejak tahun 1988 di rusun tersebut, dan saat ini sedang dalam proses utk peremajaan, jadi kalau anda salah tulis mungkin kalau ada yang melihat akan berdampak buruk bagi para penghuni yg sudah sejak dulu menghuni dan dari berbagai kalangan dan strata disana, jangan menyudutkan dan jangan mengambil kesimpulan hanya pada satu sumber, coba riset lapangan berapa banyak juga yang masih susah tinggal disana dan memang hanya mempunyai rumah disana, karena memang dari awal konsepnya dibuat utk dihuni oleh orang-2 yang dulunya tinggal disana utk beberapa blok bangunan, dan tidak ada yang salah dengan parabola, tv kabel dan ac.. mereka mungkin dapat dengan mencicil... so let your mind open and get the research clearly..

thanks

thanks