Wednesday, March 19, 2008

Satu lagi solusi bagi kemiskinan; Jangan beri sedekah pada GePeng!

Betul! memang terdengar kontradiktif; di satu sisi ingin hentaskan kemiskinan tapi di sisi lain tidak bisa kasih bantuan kepada si miskin (GePeng=gelandangan dan pengemis).

Dari kacamata ekonomi, GePeng dapat dikategorikan menjadi salah satu pekerjaan yang persaingannya semakin meningkat di wilayah perkotaan. Ingat! GePeng tidak ada di desa, hanya ada di kota, dan persaingan yang semakin meningkat itu adalah akibat jumlahnya yang kian bertambah tetapi tempat kerjanya tidak bertumbuh secepat pertumbuhan jumlah pekerjanya. Ini salah satunya disebabkan oleh tidak ada proses seleksi untuk menjadi GePeng, tapi ada seleksi bagi tempat praktek GePeng.

Tidak banyak tempat di kota dimana GePeng diperbolehkan berkeliaran. Oleh karena itu, GePeng terdorong untuk berpraktek di jalanan dan di sekitar lampu lalu lintas, yaitu tempat dimana dia juga termasuk sebagai pemiliknya (sebab jalanan adalah milik publik). Ini juga salah satu alasan mengapa sulit untuk membersihkan jalanan dari para GePeng.

Seperti teori ekonomi menjelaskan, selama masih ada insentif maka sebuah profesi akan terus terpelihara. Sedekah yang diberikan kepada GePeng baik berupa cash maupun in-kind menjadi insentif bagi mereka untuk tetap pada profesi mereka. Oleh karena itu, profesi ini masih terus terpelihara hingga sekarang.

Ada argumen yang mengatakan bahwa sebenarnya GePeng tidak punya pilihan lain sehingga memilih profesi ini. Tapi ada baiknya kita lihat dari sisi lain, yaitu jika kita terus-menerus memberi sedekah kepada mereka, berarti kita memelihara mereka untuk tetap pada profesi mereka, sebab insentif terus mengalir. Ini sama saja artinya dengan memelihara mereka untuk tetap miskin sedang kita menikmati kehidupan yang jauh lebih enak. Bukankah ini keji??

Selanjutnya, bila insentif itu sudah berhasil di-nol-kan dengan tidak ada lagi sedekah, maka perlu dipersiapkan sistem insentif alternatif yang memberi masa depan dan kehidupan yang lebih baik, sehingga mereka bergeser dari profesi lamanya. Untuk ini bentuknya bisa macam-macam, dan diantaranya sudah dipraktekkan dalam program pengentasan kemiskinan pemerintah. Intinya adalah cara ini akan lebih menjanjikan bagi semua pihak. Si miskin bisa hidup lebih baik, dan si kaya tidak akan menjerumuskan si miskin.

Jadi, apakah Anda masih berniat memberi sedekah pada gelandangan dan pengemis?

8 comments:

Gaffari said...

“Ada argumen yang mengatakan bahwa sebenarnya GePeng tidak punya pilihan lain sehingga memilih profesi ini.”

Gaf: Siapa bilang profesi itu dipilih karena tidak punya pilihan lain? Justru terkadang masih banyak Gepeng yang lebih sehat dan segar bugar dari saya menjalani profesi itu. Bisa jadi profesi menjadi Gepeng adalah pilihan profesi yang paling mudah dan menjanjikan (tanpa ijazah sekolah, tanpa perlu melamar kesana-kemari, dan penghasilan yang lumayan)

“...jika kita terus-menerus memberi sedekah kepada mereka, berarti kita memelihara mereka untuk tetap pada profesi mereka, sebab insentif terus mengalir. Ini sama saja artinya dengan memelihara mereka untuk tetap miskin sedang kita menikmati kehidupan yang jauh lebih enak. Bukankah ini keji??”

Gaf: Tau ngga los, pendapatan Gepeng di Jakarta bisa mencapai Rp200ribu per hari. Siapa bilang dia miskin? Ada sopir taksi cerita yang di kampungnya ada orang kaya dengan rumah mewah, tapi di Jakarta sebenarnya hanya berprofesi sebagai Gepeng. Bayangkan, dalam sebulan penghasilan Gepeng bisa menyamai entry salary-nya management trainee di bank-bank tuh.

Carlos said...

betul gaf, tapi gw rasa yang sehat dan segar bugar itu sebenernya karena kurang info aja mungkin. Info mengenai alternatif kerjaan yang bisa mereka lakukan. Misal; kemanakah dia bisa daftar jadi kuli bangunan atau kuli panggul, yang seperti itu dia tidak tahu. mungkin Indonesia perlu ada pusat informasi pekerjaan bagi orang-orang tanpa ijasah.

kalo ttg penghasilan yg besar itu, gw rasa hanya segelintir saja deh, karena biasanya akan ada preman-preman yang palakin penghasilan tiap hari mereka, sehingga mereka cuma bisa cukup makan doank. tapi gak tau juga pastinya, mungkin kita perlu adakan survei GePeng, hehehe

dendi said...

Saya rasa teori ekonomi (sistem insentif) terlalu meyederhanakan masalah untuk bisa menjelaskan, menganalisis, apalagi memberi rekomendasi tentang gepeng ini. Mungkin perspektif ilmu lain, semisal: sosiologi, antropologi dan psikologi, lebih kaya.

Carlos said...

Memang terlihat terlalu menyerderhanakan Mas Dendi, tapi berikut ada penggalan paragraf dari Freakonomics hal 16 Par 2 yang cukup inspiratif menurut saya:
"...The typical economist believes the world has not yet invented a problem that he cannot fix if given a free hand to design the proper incentive scheme. His solution may not always be pretty--it may involve coercion or exorbitant penalties or the violation of civil liberties--but the original problem, rest assured, will be fixed."

Menurut saya penggalan diatas ada benarnya juga. Mungkin solusi yang ditawarkan kurang "cantik" tapi cukup masuk akal untuk bisa bekerja.

pelantjong maja said...

wah.. menghentikan sedekah 'mungkin' akan menghilangkan insentif bagi para gepeng. namun jangan dilupakan alasan orang memberikan sedekah lebih didominasi alasan sosiologis dan relijius. penjelasan lain yang menurut saya bisa digunakan kenapa mereka tetap menjadi gepeng adalah ketidakpunyaan akses untuk masuk ke sektor formal. kalau pasar berjalan dalam perfect competition, saya setuju untuk menghentikan sedekah kepada gepeng.

Chaikal said...

dalam konsepsi keagamaan (ideal), pasar gepeng ini seharusnya tidak pernah ada. Agama sangat merestriksi penganutnya untuk masuk ke pasar ini, dan agama telah menyediakan tidak hanya jaring pengaman sosial (zakat dan sedekah) tetapi juga jalur/institusi distribusi bagi bagi si miskin.

Nah, karena pasar gepeng ini ada, berarti ada yang salah, baik dari praktek keagamaan maupun tidak utuhya jalur/institusi distribusi (ie, bazis).

Dan sayangnya, setuju dengan pelantjongmaja, pasar gepeng yang telah terbentuk tidak kompetitif.. sehingga masih ada margin yang bisa diperoleh para pelaku (bos-nya maksudnya) untuk tetap meminta-minta..

solusi menghilangkan pasar gepeng, untuk saya pribadi jelas: beri hak si miskin melalui/dengan eksistensi institusi distribusi yang utuh.

dan jika ini sulit dilakukan, second bestnya adalah membentuk pasar gepeng yang lebih kompetitif, hilangkan barrier to entry maupun exit, salah satunya dengan menghilangkan mafia-mafia gepeng.

boleh jadi jika mafia-mafia ini dihilangkan, sebenarnya jumlah gepeng yang optimum tidak sebanyak saat ini (ini cuma hipotesis).

Anonymous said...

Sangat menarik dan sangat setuju dgn ide dari Pelantjong Maja mengenai pasar pekerjaan formal dibuat menjadi kompetitif. Namun mungkin agak sulit untuk saat ini dipraktikkan. Karena saya menduga jumlah pekerjaan formal < jumlah tenaga kerja yang berminat. Jadi akan selalu ada insentif untuk membuat itu kurang kompetitif.

Kal: Hipotesis yang menarik, menurut lu sistem insentif seperti apa yang bisa dibuat spy menghapus mafia gepeng??
Seperti kata pepatah, "tebang pohon harus sampe akar-akarnya."


Carlos

Chaikal said...

Wah maaf, sepertinya saya salah menangkap maksud pelantjongmaja.. Ternyata menurut beliau sektor formal yang harus kompetitif, menurut saya pasar gepeng (non-formal) harus juga kompetitif..

Untuk menghilangkan mafia, sepertinya harus pakai disinsentif (Polisi harus bertindak! tapi jangan2 mereka juga sudah nyetor, he3..)

Disinsentif lainnya ya melalui pasar, buat pasar sebagai pesaing pasar gepeng, sehingga pasar akan lebih kompetitif -> margin gepeng akan menurun -> exit dari pasar.

lalu pasar apa sebagai pesaing pasar gepeng? salah satunya: pasar formal-nya pelantjongmaja, yang harus dibuat kompetitif. weks bolak-balik aja lu kal..