Wednesday, June 4, 2008

Distorsi Subsidi BBM II

Masih soal subsidi BBM. Angka inflasi Mei tercatat sebesar 1,41% dan 10,38% year-on-year. Sebuah angka yang sangat tinggi dan tentu menjadi cost yang besar bagi perekonomian.

Kendati bila dilihat datanya kontributor utama adalah kelompok bahan makanan, tetapi menurut hemat saya penyebab terbesar tingginya angka inflasi bulan Mei adalah akibat ekspektasi yang muncul dari uncertainty yang dipicu ketidaktegasan pemerintah dalam mengambil kebijakan mencabut subsidi BBM. Padahal bila pemerintah tegas, hal ini bisa dicegah.

Coba kita hitung berdasarkan kenaikan pada premium. Setelah menghabiskan waktu yang lama untuk bingung mau naik atau tidak, akhirnya pemerintah menaikkan premium sebesar Rp 1500 per liternya. Itupun dengan sangat terpaksa, karena harga minyak dunia telah melebihi US$ 120 per barrelnya. Sekarang kita berangan-angan, bagaimana seandainya sejak Oktober 2005 pemerintah dengan tegas menyatakan akan menaikkan premium Rp 50 per liter per bulan. Dari hitungan sederhana yang bisa dilakukan, mulai Oktober 2005 hingga Mei 2008 ada 30 bulan, yang berarti kenaikan per Mei 2008 juga sama, yakni Rp 1500 per liter. Bagaimana dampaknya? tentu pasti berbeda, dan tidak akan sebesar sekarang costnya.

Kenapa? Ini bisa dijelaskan dengan teori Permanent Income Hypothesis. Dengan adanya kepastian kenaikan per bulan, konsumen akan secara rasional menyesuaikan diri dalam melakukan pilihan konsumsi disesuaikan dengan ekspektasi pendapatannya. Akibatnya efek dari uncertainty bisa dihilangkan dan ekspektasi bisa terkontrol. Selain itu, dengan memberikan kepastian, dampak negatif akibat adanya spekulasi juga bisa ditekan.

Melihat itu, okelah saat ini memang telah dilakukan pencabutan subsidi BBM dan pemerintah bisa sedikit bernafas lega. Tapi beban subsidi BBM masih sangat besar. Bila sewaktu-waktu harga minyak dunia kembali liar, semisal ke level US$ 200 seperti yang diperkirakan beberapa pihak, jangan sampai langkah reaktif terburu-buru seperti sekarang yang diambil. Saran saya, sudah seharusnya pemerintah mengambil langkah tegas dengan menaikkan kembali harga BBM, tapi secara bertahap dan pasti. Net-benefitnya akan jauh lebih besar.

3 comments:

deszya yulian said...

i always fall for microeconomics philosophy, small thoughts can lead to some big impacts!

setuju sama ulasannya! keep up the good writing! :)

Chaikal said...

bung, menurut saya permasalahan tidak akan selesai dengan ketegasan dan kenaikan bertahap.. karena berapa naik dan berapa harus disubsidi tidak pernah jelas (butuh polemik yang panjang), sehingga uncertainty consumption akan tetap tinggi..

kepastian yang lebih baik adalah minyak diserahkan ke mekanisme pasar, hasil jual minyak di-cash transfer ke masyarakat, dengan demikian sisi pendapatan (income) juga bisa "lebih" dipastikan.

akbar said...

Indonesian Small Medium Enterprise
Promosikan Produk Usaha Kecil anda di :

JARINGAN USAHA KECIL INDONESIA
Semoga info ini bermanfaat
Salam
Akbar