Monday, June 30, 2008

Harga Minyak Dunia: Supply and Demand, Aksi Spekulasi, atau Faktor Geopolitik (1)

Harga minyak dunia beberapa waktu lalu menembus US$ 140 per barrel. Angka yang sangat fantastis, dimana banyak pihak yang menyalahkan aksi para spekulan sebagai penyebab utamanya. Tapi apa itu benar? Salah satu rekan kami yang sedang belajar di Prancis mencoba membedah permasalahan harga minyak dunia ini secara mendalam dalam enam bagian. Ini bagian pertamanya. Selamat menikmati...

Topik pergerakan harga minyak dunia masih menjadi isu global yang cukup hangat. Tulisan Rhenald Kasali di Kompas hari ini sedikit mendeskripsikan bahwa aksi spekulan di pasar finansial lah yang terus mendorong harga minyak menuju langit. Tulisan saya kali ini mencoba menganalisis sejauh mana validitas analisis Rhenald Kasali tersebut dengan memberikan data dan analisis lebih lengkap mengenai struktur pasar minyak dunia saat ini.

Tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian, dimana setiap bagian akan saya upload diblog ini setiap minggunya. Pada bagian pertama, saya akan mencoba memaparkan konsumsi penggunaan energi dunia saat ini berdasarkan sumbernya dan disertai dengan analisis produktivitas energi dunia saat ini. Hal ini cukup penting sebagai pengantar untuk menjelaskan bagaimana posisi sumber daya hydrokarbon dalam memenuhi kebutuhan konsumsi energi global terutama ditengah maraknya diskusi mengenai sumber energi alternatif. Pada bagian kedua, saya akan menjelaskan lebih dalam mengenai kondisi permintaan dan penawaran dari pasar minyak dunia saat ini, terutama mengenai tingkat produksi dan konsumsi serta jumlah cadangan minyak yang dimiliki oleh masing-masing negara. Bagian ketiga, saya akan menjelaskan mengenai dampak geopolitik dari kondisi supply and demand saat ini serta implikasi dari windfall profit yang dinikmati oleh negara pengekspor minyak terhadap ekonomi dunia, lebih spesifik terhadap pasar keuangan dunia saat ini. Bagian kelima, saya memaparkan bagaimana para pelaku pasar keuangan mempengaruhi harga minyak dunia. Bagian keenam kesimpulan.

Struktur Konsumsi Energi Dunia dan Tingkat Produktivitasnya.

Meskipun telah banyak energi alternatif ditemukan, namun ternyata energi hidrokarbon, yaitu minyak, gas bumi dan batubara, masih menjadi sumber energi utama dunia saat ini kira-kira 79% dari tingkat konsumsi energi dunia pada tahun 2003. Tabel berikut ini menggambarkan lebih detail bagaimana struktur konsumsi energi dunia saat ini (klik gambar untuk memperbesar):



Bisa dilihat pada tabel 1 diatas, bahwa pada negara-negara maju sekalipun, energi hidrokarbon masih mensuplai lebih dari 60% tingkat konsumsi energi pada negara-negara tersebut. Negara-negara Arab, yang merupakan negara pengekspor minyak, memiliki tingkat ketergantungan yang paling besar terhadap energi hidrokarbon, dengan 92% kebutuhan konsumsi energinya dipenuhi oleh minyak dan gas bumi. Untuk Indonesia, berdasarkan data dari Intenational Energy Agency, sekitar 67% supply energi dipenuhi oleh batubara serta minyak dan gas bumi. China, yang merupakan perekonomian kedua terbesar saat ini, sekitar 54% kebutuhan energinya dipenuhi dari Batubara, salah satu sumber energi yang memiliki tingkat polusi tertinggi. Tidak heran, jika China tetap memiliki tingkat konsumsi seperti saat ini, pada tahun 2010 mereka akan mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai negara penghasil CO2 terbesar di dunia. China, dengan ekonominya yang tumbuh pesat, juga merupakan negara utama yang menjadi pendorong pertumbuhan tingkat konsumsi dunia.


Namun cukup sulit untuk menganalisis kebijakan energi tiap-tiap negara hanya dengan melakukan analisis diatas. Pada tabel berikut saya tampilkan bagaimana tingkat produktivitas (efisiensi) energi beberapa negara maju. Tingkat produktivitas disini diukur dengan tingkat GDP yang dihasilkan dari total konsumsi energi per tahunnya.

Pada tahun 2003, Uni Eropa memiliki tingkat produktivitas energi terbesar, baru kemudian diikuti dengan Amerika Serikat. Cukup jelas bahwa dua wilayah tersebut memiliki kebijakan energi yang mendorong efisiensi terhadap konsumsi energi. Dengan tingkat konsumsi yang sama, mereka mampu menghasilkan GDP yang jauh lebih besar dibandingkan wilayah lain. Cukup miris jika kita melihat negara-negara arab, jika kita melihat perkembangannya dari tahun 1980, produktivitas konsumsi energi mereka justru mengalami penurunan hampir 50%. Sumber daya hidrokarbon yang melimpah, justru menjadikan mereka menjadi boros.

Memang dalam melakukan analisis ini, kita tidak mengesampingkan faktor penguasaan teknologi yang di negara-negara maju, yang jauh lebih unggul dibandingkan negara-negara berkembang. Namun, peningkatan produktivitas yang mereka alami pun bukan suatu proses sekejap. Amerika Serikat setidaknya membutuhkan waktu 23 tahun untuk meningkatkan tingkat produktivitas konsumsi energinya sebesar 55%. Hal ini menunjukkan bahwa program peningkatan produktivitas energi membutuhkan perencanaan dan konsep yang matang, sekaligus juga implementasi yang terarah. Nah bagaimana dengan Indonesia..? terus terang saya tidak punya cukup data untuk menghitung tingkat produktivitas konsumsi energi negara kita saat ini. Mungkin, saya akan coba lengkapi minggu depan. Ditunggu komentarnya...


Septian

No comments: