Wednesday, June 25, 2008

Money Supply: Exogenous atau Endogenous?

Posting ini diangkat dari sebuah perdebatan yang belum selesai di kelas Ekonomi Moneter di Bank Indonesia. Dalam kuliah tersebut, ada perdebatan apakah Money Supply (Ms) adalah exogenous atau endogenous. Selama ini mungkin saya mempelajari ekonomi moneter selama di FEUI seringkali dipelajari bahwa Ms adalah exogenous, dan itu masih tersangkut di pikiran saya hingga saat ini.

Ms adalah exogenous menurut teori secara umum terjadi ketika kebijakan supply uang adalah sepenuhnya otoritas bank sentral, dan bank sentral punya kontrol dan kekuasaan penuh dalam mengatur peredaran jumlah uang, di mana diilustrasikan dalam grafik berikut:

Namun, Ms ternyata juga bisa dalam bentuk endogenous, yang berarti bahwa supply uang bukan sesuatu yang given, namun bisa dikatakan ada variabel lain yang turut mempengaruhi supply uang sehingga sepenuhnya tidak dapat dikontrol oleh otoritas bank sentral. Ilustrasinya seperti pada grafik berikut:

Lalu pertanyaannya, bagaimana bentuk model yang mendasari bahwa Ms adalah endogenous? Kemudian, variabel-variabel apa yang turut mempengaruhi Ms? Apakah dengan Ms yang bersifat endogenous dapat dikatakan bahwa bank sentral tidak efektif dalam sepenuhnya memegang peranan terhadap peredaran uang? Bagaimana kondisi Ms di Indonesia, exogenous atau endogenous?

Untuk mencoba menjawab beberapa pertanyaan di atas, berdasarkan literatur yang dapat saya telusuri ternyata mengenai apakah Ms itu exogenous atau endogenous didasarkan beberapa argumen. Kita akan berangkat pada dua perdebatan besar antara accomodationist (horizontalist) approach dan structuralist approach. Fenomena tersebut juga dapat dijelaskan melalui Post Keynesian Approaches seperti dijelaskan oleh Fontana (2003), Post Keynesian Approaches to Endogenous Money: a time framework explanation. Doktrin Post Keynesian berargumen bahwa money stock dan monetary base bersifat endogenous.

L Randall Wray (2007) dalam papernya Endogenous Money: Structuralist and Horizontalist, di mana accomodationist (horizontalist) approach menjelaskan mengapa money supply bersifat endogenous akibat dari proses yang dinamakan deposit multiplier, yaitu di mana peran antar bank dalam menciptakan loans menjadi deposit dan menciptakan deposit menjadi cadangan (reserves). Dalam hal ini peran bank cukup besar dalam seberapa besar mengatur supply dari credit dan deposit-nya, maka supply money credit dapat secara endogenous ditentukan oleh bank dalam mencapai kepentingannya. Sedangkan pendekatan structuralist berasumsi bahwa bank adalah lembaga keuangan yang pasif atau kurang aktif , yaitu di mana seringkali menggunakan instrumen keuangan baru untuk memanfaatkan dana dalam cadangannya. Prinsipnya, bank merupakan badan usaha yang berorientasi mencari keuntungan dengan berusaha menghindari berbagai kendala dan mengambil keuntungan dari kesempatan yang ada. Dari dua pendekatan tersebut setidaknya berusaha menjelaskan mengapa pada akhirnya ada faktor-faktor lain yang berperan pada peredaran uang di luar otoritas bank sentral, dan secara umum mengatakan bawa Money Supply (Ms) adalah endogenous.

Ms yang bersifat endogenous dapat menyebabkan kebijakan moneter dengan menggunakan target pertumbuhan uang akan menjadi tidak berhasil. Dalam Kevin S. Nell (1999), menjelaskan bagaimana kasus di Afrika Selatan ketika bank sentral Afrika Selatan (South African Reserve Bank atau SARB) tidak berhasil dalam mencapai target pertumbuhan M3-nya akibat dari endogenous money supply yang berasal dari money income.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Namun, dengan diterapkannya Inflation Targeting Framework (ITF) dan tidak lagi menggunakan money supply (Ms) sebagai target mungkin perdebatan bahwa Ms itu exogenous atau endogenous bisa jadi tak lagi relevan, apakah benar demikian? Bagaimana tanggapan kalian?

11 comments:

Chaikal said...

Wahh Bung Gaf makin apik neh ngomong moneter, cuma perlu diasah lagi lah keterampilan analisisnya, wehehe, tentu saja dengan diskusi tatap muka (baca: Warkop) dengan akademisi dan praktisi..

Quantity targeting gagal oleh karena sangat sulit untuk mengendalikan peredaran uang (M1M2M3) dalam konteks kemajuan teknologi, velocity of money semakin tidak stabil menjadikannya sangat sulit untuk ditarget..

yang perlu diperjelas oleh Bung Gaf adalah definisi Ms disini yang mana, apakah M0 atau apa?

Kaitannya dengan ITF i.e. Price Targeting digunakan BS sebagai instrumen, menentukan yang mana lebih efektif "salah satunya" dapat ditentukan dengan derajat eksogen/endogen Ms dan r? Kira-kira mana yang lebih eksogen/endogen Ms atau r?

yang pasti sih, rSBI secara empiris tidaklah juga eksogen! so?

(bersambung... dah ngantuk neh)

Gaffari said...

Ms di sini adalah supply uang yang berada di bawah kekuasaan otoritas moneter (bank sentral) terlepas itu M0, M1, M2, M3. Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah perlunya ditekankan bahwa Ms tidak selamanya bersifat eksogen di mana peredaran uang secara quantity berada dalam kontrol penuh bank sentral, sehingga target pada quantity money supply-nya bisa berlangsung efektif.

Endogenous money supply terjadi di mana ada variabel atau faktor lain yang turut berperan dalam menentukan money supply (Ms). Dengan begitu, bank sentral sebenarnya tidak 100% mampu mengontrol peredaran uang.

Kal, penggunaan target inflasi melalui r jauh lebih mudah dikontrol dibandingkan Ms. Seringkali Ms (baik M1, M2, M3) akan sangat tergantung bagaimana peran lembaga intermediasi dalam proses money creation.

Chaikal said...

Gw setuju dengan endogenitas Ms, nah alternatifnya kan pake rSBI, yang mana rSBI secara empiris juga endogen..

Lagipula Far, mana ada sih policy variabel di Indonesia yang sifatnya benar-benar eksogen, semuanya pasti dipengaruhi faktor-faktor baik internal atau ekternal (perekonomian global)..

BS dan Pemerintah di Indonesia memang selalu dihadapkan pada pilihan sulit.. yang akhirnya harus tersudut pada: memilih diantara yang buruk atau memilih diantara yang inefektif..

Jadi yang mana yang "kurang inefektif" antara Ms dan rSBI?

Carlos said...

Mudah-mudahan Ms yang endogen bukan menjadi alasan baru buat BI bila gagal mencapai target inflasi akhir tahun :)


Impossible trinity, core-inflation, endogenous Ms, dsb.. lebih mirip konsep untuk "mengelak" dari tanggung jawab dari pada konsep untuk menyelesaikan masalah inflasi. hehehe..

Menurut Anda bagaimana?


cheers

luthfi said...

ngomong ngomong apa sey bedanya M0 sama M1 bung kal?

Chaikal said...

Wah Bung Luthfi kalo itu lebih baik tanya ke Bung Gaf sekalian nge-tes trainingnya berhasil atau enggak..

Intinya semakin angka di-M semakin besar maka M-itu semakin diluar kontrol BS..

Nah secara teori dan 'logika' M0 (base money) itu--seharusnya dan apapun yang terjadi--tetap dibawah kontrol BS sepenuhnya, yang ternyata melalui artikel ini disimpulkan 'tidak sepenuhnya' dalam arti bersifat endogen.

Chaikal said...

Bung Carlos,

BS gak lagi target Ms sekarang karena ya itu tadi Ms endogen makanya pindah ke ITF dengan instrumen suku bunga (rSBI)..

Nah permasalahannya, rSBI juga tidak benar-benar eksogen.. dalam beberapa bulan ini kan keliatan: bukan inflasi yang ikut rSBI tetapi rSBI yang ikut inflasi..

Jadi untuk kasus ini, sepertinya BI harus menerima bahwa tidak ada monetary policy yang kredibel di Indonesia..

Peran BI menurut gw diperkecil saja yaitu membangun sistem perbankan yang sound dan efisien.. (kalo yang ini menurut gw, untuk setelah krisis cukup berhasil)

Jadi kesimpulannya, Bung Carlos, BI harus diperkecil, wehehe..

Gaffari said...

Betul bahwa semakin tinggi M semakin sulit dikontrol oleh bank sentral. Karena pada dasarnya M0 adalah kekuasaan bank sentral (base money). Berdasarkan paper yg saya link di posting menunjukkan semakin begeser dari M1 hingga M3, semakin sulit bank sentral untuk mengontrolnya. Namun di kasus Afrika Selatan sempat ada hipotesis bahwa kebijakan target Ms gagal akibat M3 yang tidak stabil, namun setelah ditelaah ternyata kegagalan target Ms lebih diakibatkan endogenous money supply dari proses money creation.

Kal:
Sejujurnya saya melihat bahwa kebijakan rSBI masih bersifat responsif, dalam artian penetapan BI rate lebih untuk merespon kondisi ekonomi/inflasi yang terjadi, bukan lebih kepada bersifat kondusif, yaitu penetapan BI rate lebih pada menciptakan kondisi ekonomi/inflasi yang terkendali.

Chaikal said...

Bung Gaf:

Anda kan bertanya apakah endogenous Ms masih relevan atau tidak dengan ITF, menurut saya tidak..

namun cerita tidak berakhir disini, masalah endogenitas masih memiliki relevansi dengan rSBI yang digunakan dalam ITF..

dengan penjelasan anda bahwa rSBI responsif maka dapat disimpulkan rSBI justru murni variabel endogen, suatu permasalahan yang sama yang dihadapi oleh Ms..

So.. seperti yang gw bilang sebelumnya:

BS dan Pemerintah di Indonesia memang selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit.. yang akhirnya harus tersudut pada: memilih diantara yang buruk atau memilih diantara yang inefektif..

Jadi yang mana yang "kurang inefektif" antara Ms dan rSBI?

dan

Jadi untuk kasus ini, sepertinya BI harus menerima bahwa tidak ada monetary policy yang kredibel di Indonesia..

Peran BI menurut gw diperkecil saja yaitu membangun sistem perbankan yang sound dan efisien.. (kalo yang ini menurut gw, untuk setelah krisis cukup berhasil)

Mignon said...

Keep up the good work.

meutia said...

assalamualaikum wr wb,
pak saya mahasiswi di fakultas ekonomi uii...
nah skripsi saya membahas tentang artikel yg bapak bahas...
kira2 bapak ada gak bahan2 yang menunjang materi tentang endogenous money???
klo ada, saya minta tolong di share di email saya meutia_diamond@yahoo.com...
terima kasih ^_^