Monday, June 9, 2008

Harga Komoditas Jangka Panjang: Mengapa Mas Pri (dan Malthus) Keliru

Priyadi melalui blognya priyadi.net bisa dibilang salah satu dedengkot blogger Indonesia terpopuler. Setiap posting di blognya, dimana dia membahas banyak hal, pasti mendapatkan banyak komentar. Sayangnya, Mas Pri dalam salah satu postingnya membuat kesalahan dalam menjelaskan tren kenaikan harga komoditas yang baru-baru ini terjadi.

Dengan menggunakan cara berpikir Malthusian, Mas Pri menulis "di luar fluktuasi yang terjadi dari waktu ke waktu, tren harga komoditas dalam jangka panjang bisa dipastikan akan meningkat. Alasannya penduduk dunia selalu bertambah..." Lalu dia tambahkan "...Semakin besar populasi manusia, maka akan semakin tinggi permintaan terhadap barang-barang yang dibutuhkan manusia. Manusia akan mencoba beradaptasi menyesuaikan tingkat permintaan ini dengan meningkatkan produksi barang-barang kebutuhan manusia tersebut. Tapi hal ini tentunya ada batasnya. Besar bumi dan apapun yang ada di dalamnya tetap sama. Kenyataan ini akan mengakibatkan harga-harga akan selalu meningkat."

Saya akan tunjukkan kesalahan analisis si Mas Pri ini dengan melihat tren harga komoditas pada tembaga. Berikut grafik yang menunjukkan pergerakan harga internasional tembaga sejak 1900 hingga 2002.



Bila dilihat grafiknya, sejak 1900 hingga 2002 terjadi penambahan permintaan dunia, dan benar salah satu penyebabnya adalah penambahan populasi. Namun, selain permintaan yang berubah, ternyata persediaan (supply) juga berubah. Seiring dengan teknologi yang terus meningkat, kemampuan eksplorasi dan eksploitasi tembaga juga semakin membaik. Akibatnya, biaya produksi menurun dan persediaan (supply) meningkat pesat. Seperti terlihat pada grafik, penambahan pada persediaan (supply) mampu meng-offset penambahan pada permintaan, sehingga tren jangka panjang dari harga komoditas ini bukannya meningkat, tetapi menurun.

Kasus lain juga bisa dilihat pada harga telor. Saya tidak punya grafiknya, tapi penjelasan tentang ini bisa dilihat pada buku Microeconomics, Pindyck. Harga telor semakin lama juga semakin menurun. Selain karena teknologi yang mengakibatkan ayam semakin bisa bertelor banyak, perubahan juga terjadi pada selera masyarakat. Kendati populasi terus bertambah, tapi selera masyarakat terhadap telor semakin menurun. Ini disebabkan salah satunya faktor kesehatan. Mengkonsumsi telor terlalu banyak, tidak terlalu baik untuk kesehatan. Akibatnya, permintaan telor dari tahun ke tahun hanya bertambah sedikit, sementara persediaan (supply) meningkat pesat, sehingga harga akan semakin rendah.

Jelas, dari dua kasus di atas saja, tidak benar bahwa harga-harga komoditas akan selalu meningkat.

10 comments:

Anonymous said...

Creative Destructionnya Schumpeter nih.

Best,
Septian

Priyadi said...

teknologi ada batasnya. jumlah tembaga yang ada di bumi dari pertama kali ada manusia sampai sekarang jumlahnya praktis konstan. yang jadi pertanyaan bukan apakah harga tembaga akan naik, tapi kapan harga tembaga akan naik. window 1900-2002 rasanya masih terlalu sempit.

khusus untuk sektor energi efeknya akan terasa jauh lebih cepat. tidak seperti tembaga atau emas misalnya, energi gak bisa didaur ulang. setelah dipakai akan langsung habis.

Anonymous said...

Saya percaya klo teknologi itu ada batasnya. tapi apakah kita bisa melihat dimana batas teknologi itu tersebut...?
Di bukunya Greenspan yang terbaru, The Age of Turbulence, dia menyebutkan teori creative destructionnya schumpeter. Bahwa sistem kapitalisme yang mendorong innovasi bisa membuat sesuatu yang saat ini begitu moderen menjadi usang di masa depan. Kita tidak pernah tahu di masa depan ada teknologi yang ternyata bisa membuat tembaga tidak lagi dikonsumsi. Secara spesifik greenspan sendiri juga memberikan contoh proses creative destruction di bukunya.
Saya rasa jangka waktu yang ditunjukkan oleh Letjes, 200 tahun, itu sudah cukup panjang. Cukup sulit saya kira mendapatkan data harga komoditi secara lengkap dan reliable dalam jangka waktu lebih dari 200 tahun. Jika harga secara nominal dalam periode tersebut mengalami penurunan, mungkin nilai riilnya juga akan jauh lebih kecil lagi. atau dengan kata lain, penurunannya bisa lebih besar lagi.

Best,
Septian

Letjes said...

halo Mas Pri. Sepertinya penjelasan dari bung septian sdh cukup, sgt mengena, dan spesifik. thx bung septian.

Priyadi said...

kita memang gak bisa lihat batas teknologi seperti apa. tapi kita tahu kalau sumber daya alam jumlahnya terbatas. kalaupun ada gantinya, gantinya pun jumlahnya juga terbatas dan kemungkinan besar lebih mahal daripada yang digantikan.

karakteristik komoditas beda2 dan toleransinya juga beda2. produk pertanian yang renewable beda dengan energi yang tidak renewable dan tidak bisa didaur ulang. wajar kalau yang mentok duluan sekarang adalah soal energi.

200 tahun buat saya masih belum cukup panjang. coba tunggu at least 50 tahun lagi :)

btw, saya pikir harganya harusnya jangan diadjust berdasarkan inflasi karena salah satu komponen utama inflasi adalah kenaikan harga komoditas juga. tapi kalau pakai harga nominal tanpa adjustment sama sekali rasanya juga salah.

Chaikal said...

Pak Pri, konsep sumber daya harusnya tidak dipandang statis, tetapi dinamis..

banyak sekali di dunia ini yang tadinya bukan sumber daya menjadi sumber daya, salah satunya dengan kemajuan teknologi..

saya yakin akan masih banyak sumber daya akan di"temukan" oleh peradaban manusia ke depan.

Priyadi said...

kelihatannya memang pada dasarnya mayoritas orang ekonomi itu optimistis :). memang teknologi sudah beberapa kali 'menyelamatkan' kita. tapi belum tentu di masa yang akan datang akan selalu begitu. teknologi tetap ada batasnya.

Anonymous said...

Hehehehe...
Mas pri bisa melihat dimana batas teknologi itu...?

best,
Septian

Letjes said...

koreksi sedikit mas pri.. biasanya banyak orang mandang orang ekonomi sbg orang yg pesimistik.. :)

Andre said...

halo salam kenal,..

saya tertarik berkomentar terhadap pernyataan berikut:

> konsep sumber daya
> harusnya tidak dipandang statis, > tetapi dinamis..


Tidak ada seorangpun yang bisa meramal apakah akan ada breakthrough energy terbaru yang didapat dari riset teknologi manusia atau tidak.

Memang sumber energi ada yang renewable (atau seolah-olah terlihat demikian), seperti: Angin, Air Terjun, Bio Mass. Namun sumber2 semacam ini memiliki masalah "penyimpanan" untuk pembangkitan listrik ataupun untuk pembakaran (combustion) yang menghasilkan high level energy throughput.

Bisa dipastikan jenis energy yang "useable" dalam "skala massal" adalah sangat "eksklusif". Sehingga ketersediaan sumber energi tidaklah dinamis, melainkan cenderung statis.

Sebagai contoh adalah energi petir (ada banyak di alam khan?) namun tetap tidak dapat kita gunakan menjadi sumber daya energiyang usable (tidak dapat disimpan/dikonversi) untuk kehidupan sehari-hari.

Contoh lain adalah hoax blue energy ala Indonesia. (Hydrogen yang yang di hidrolisa dari air laut). Biaya untuk proses hidrolisa nya saja sudah tidak layak secara ekonomis.

Mengkoreksi pernyataan bung Septian yang menganalogikan tembaga bisa saja tidak dikonsumsi di masa depan akibat teknologi yang baru,..

untuk masalah energi pernyataan diatas sangat absurd, sebab bisa dipastikan energi selalu dikonsumsi karena ia diperlukan untuk menggerakkan segala sesuatu... kalo tidak ada energi bagaimana manusia / roda bisa bergerak ? thus,.. jika demikian bagaimana ekonomi bisa bergerak ?

Prinsip creative destruction-nya Schumpeter tidak (akan pernah) berlaku untuk energi.


So, saya setuju kalo harga komoditas energy kelak akan menjadi sumber krisis dunia dan harganya akan meningkat dengan tajam dalam dekade2 yang akan datang.


cheers,

Andre
http://invictium.wordpress.com