Tuesday, November 6, 2007

Bingung Soal Dampak Kenaikan Minyak Dunia

Seiring dengan kenaikan harga minyak dunia (internasional oil price) yang pesat, pemerintah tetap tenang dalam menyikapinya. Jujur ini agak membingungkan saya, terutama di bagian terkait dengan cadangan devisa.

Burhanuddin Abdullah pernah menulis di Kompas tentang masalah ini dan dia menulis seperti ini:

"Dengan asumsi volume kenaikan konsumsi minyak domestik tetap, dan yang dimaksud dengan minyak adalah minyak bumi dan gas serta produk turunannya, maka peningkatan harga minyak diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap cadangan devisa. Dari perhitungan yang dilakukan, setiap kenaikan harga minyak sebesar satu dollar AS per barrel diperkirakan akan meningkatkan cadangan devisa sebesar 145 juta dollar AS sejalan dengan surplus transaksi berjalan."

Apa yang ditulis Burhanuddin Abdullah benar adanya ketika kita adalah net eksportir minyak. Jadi dengan begitu, kenaikan harga minyak dunia jelas akan memberikan tambahan cadangan devisa bagi kita. Namun bagaimana kenyataannya? coba lihat data BPS berikut:

Bila kita perhatikan angka ekspor dan impor minyak Januari - September 2007, ekspor minyak kita sebesar US$ 8.433,8 juta (minyak mentah= 6.309,0 + hasil minyak= 2.124,8), sementara impor minyaknya sebesar US$ 15.119,9 juta (minyak mentah= 6.431,3 + hasil minyak= 8.688,6). Artinya bila dilihat dari data tersebut, kita net importir minyak, atau dalam kata lain kita mengalami defisit perdagangan minyak.

Ketika harga minyak dunia naik, baik ekspor atau impor akan naik. Jadi tidak mungkin tiba-tiba karena kenaikan harga minyak dunia, lalu terjadi surplus yang pada akhirnya menambah cadangan devisa. Malah yang kemungkinan terjadi, defisitnya semakin bertambah (kita lebih banyak mengimpor hasil minyak -- yang tentunya harganya lebih tinggi), cadangan devisa pun berkurang.

Seandainya cadangan devisa naik, itu pasti karena kontribusi dari komoditas-komoditas lain yang harganya naik juga, seperti CPO atau batubara yang merupakan alternatif dari minyak mentah.

Jadi gimana ya? Bingung..

Hampir dipastikan Burhanuddin Abdullah lebih benar, jadi tolong bantu saya, tunjukkan dimana kesalahan analisis saya. thx

8 comments:

Anonymous said...

Analisa anda benar menurut saya.
Saya rasa pendapat si udin lebih kepada proses manajerial devisa.
Me-manage devisa tidak layaknya sebuah toko yang berjualan lalu ada untung dan ada rugi, tapi lebih seperti wholesaler yang mesti me-maintain supaya ketika demand tinggi maka supply harus banyak agar toko-toko retail tetap bisa berjualan.Gw rasa sih begitu...

Silahkan ditanggapi

Carlos

Letjes said...

hemm.. jadi apa yang dibilang ama si udin itu lebih berupa efek general equilibriumnya gitu ya los?

Chaikal said...

'yang dimaksud dengan minyak adalah minyak bumi dan gas serta produk turunannya'

jadi gas-nya jangan dibuang dulu bung, kita sedikit surplus lah ya..

nah kalo harga minyak naik apakah kita tetap surplus

untuk surplus berarti harus ada kenaikan berarti dari gas dan nonmigas.. (si udin juga udah bilang begini ternyata)

jadi kesimpulan awal si udin masih bener.. ntar dah gw pikirin lagi.. sorry.

Anonymous said...

Bener ces, elo harus masukin perhitungan gas alam dan produk turunannya juga macam LNG. Indonesia masih surplus cukup besar gw rasa untuk sisi ini. Penentuan harga gas alam untuk Indonesia, setau gw yah, memang memasukkan formula harga minyak, tapi benchmarknya bukan harga minyak dunia yang sering kita lihat dan baca di koran2. Indonesia punya formula khusus, namanya ICP (Indonesian Crude Price). Perhitungan yang dilakukan oleh Burhanuddin bisa juga meleset karena klo dia hanya meregress kenaikan harga minyak dgn harga gas alam. Karena kenyataannya, masing2 kontrak gas alam, biasanya punya formula yang beda2. Misalnya, LNG yang dijual sama Exxon dari ladang Aceh, punya formula yang beda, dengan LNG yang dijual TOTAL dari lapangannya di Kalimantan Timur. Tapi sebagai proxy siy boleh juga, cuma keakuratannya gw gak tau deh.

Septian

Letjes said...

thx semua.

sepertinya memang aku kurang membacanya dengan baik.

tapi seandainya pun dengan gas dan turunannya, klo memperhatikan data jan-sept, perbedaannya udah dikit banget. bahkan ada info dari wartawan kontan dan bisnis indonesia bedanya ekspor migas dengan impor migas udah negatif.

so drmn kita dpt 145 juta?ya mgkn bnr bung chaekal bilang non migas udah dimasukin kali ya..

Anonymous said...

Kalo menurut gw, tjes, yang dia bilang itu adalah hanya dari sisi positif devisa aja. Dengan arti bahwa kalo hal itu tidak terjadi, maka akan terjadi ketimpangan yang besar.Namun lebih dari itu, gw rasa kita perlu mendengar pendapat dari teman-teman lain yang mungkin udah pernah riset atau bekerja di bidang itu.

Mohon chaikal bisa beri penjelasan yang lebih detail karena gw sendiri masih agak rancu ttg kegiatan apa yang dilakukan oleh direktorat lalu lintas devisa di BI sehari-hari. terima kasih

Btw, diskusi starbucks please jangan kemalaman donks, spy gw bisa ikutan, hehehe

carlos

Chaikal said...

lebih detail tentang apa bung, pengelolaan devisa,kayaknya itu harus tanya ke BI deh, gw kan gak murni monetaris (konsentrasi moneter-red), sorry bung carlos...

Letjes said...

thx seto. info tambahan yg bagus buat aku.