Friday, November 2, 2007

Wanita dan Barang Inferior

Wanita merupakan makhluk unik yang terkadang sangat sulit dimengerti. Untuk ukuran normal, setiap pria sudah tentu mendambakan wanita ideal sebagai pendamping hidup. Walaupun dalam dewasa ini konteks pernikahan yang sakral dan suci sudah semakin terkikis, pendamping hidup dalam tulisan ini berada dalam ruang lingkup pernikahan.


Dalam perjalanan hidup manusia, pada umumnya terdapat tingkat-tingkat yang akan dilalui seiring dengan ‘proses’ manusia dalam menjalani kehidupan. Istilah yang umum dipakai untuk menggambarkan ‘proses’ ini adalah roda kehidupan. Pada beberapa artikel psikologi disebutkan, manusia pada umumnya akan melewati empat tahapan dalam kaitannya dengan kondisi finansial, yaitu: tahap early stage, transition stage, maturity stage dan reverse stage. Logically speaking tahapan ini akan dilewati oleh manusia kecuali untuk: keturunan darah biru, berasal dari kelompok keluarga yang mewakili 20 persen masyarakat terkaya atau kelompok yang mewakili 20 persen keluarga paling sial.

Barang inferior adalah barang left over. Dia akan ditinggalkan begitu si konsumen berada dalam tahapan income yang lebih tinggi. Misalkan pada kasus seseorang pada tahap early stage mengkonsumsi singkong, ketika dia pindah ketahap transition stage dia meninggalkan singkong untuk mengkonsumsi nasi. Singkong pada kasus ini dapat dikatakan sebagai barang inferior. Namun tidak selamanya barang inferior adalah barang inferior. Ketika packaging singkong dibuat menarik dan cara penyajian dibuat elegan, niscaya konsumen tidak akan begitu saja meninggalkan singkong. Misalkan disajikan menjadi kripik singkong atau kue tart dari singkong, konsumen tentunya tidak akan berpindah kelain hati.

Menarik untuk diikuti, bahwa terdapat hubungan antara wanita dengan barang inferior. Akhir-akhir ini di berita sering terdengar kabar bahwa ada pejabat X yang menikah lagi dengan wanita yang masih muda. Istri pertama ditinggalkan, untuk memulai hidup baru dengan pasangan baru. Padahal isri pertama merupakan pendamping hidup ketika si pejabat masih dalam tahap early stage dan merupakan pendamping dalam susah maupun senang. Ketika si pejabat masih dalam tahap early stage, ia tidak mampu mengkonsumsi wanita yang high maintenance. Sehingga menikahlah ia dengan wanita sederhana, yang sesuai dengan income-nya ketika itu. Namun seiring dengan perbaikan kondisi finansial, ia mulai merasa mampu mengkonsumsi wanita yang high maintenance. Ketika mendapati kenyataan bahwa yang ia miliki sekarang sudah tidak menarik, maka berpalinglah ia ke wanita lebih menarik yang secara finansial merupakan high maintenance. Secara pribadi saya berpendapat, istri pertama si pejabat X dalam konteks teori ekonomi dapat dikatakan sebagai barang inferior.

Dalam hal ini, sebagai pemerhati masalah pernikahan kedua, saya menghimbau kaum wanita untuk terus memperbaiki packaging dan cara penyajian agar tidak menjadi barang inferior. Saya juga berharap tidak ada kaum feminis yang membaca tulisan ini, karena bisa-bisa saya di fatwa hukuman mati.

7 comments:

Gaffari said...

Pertama, kalo pejabat itu masih mempertahankan komitmen pernikahan dengan istri pertamanya, di satu sisi dia juga asik dengan wanita simpanannya. Maka, kasus ini istri pertama bisa kita sebut barang Inferior. Mengapa? Hal ini karena substitution effect-nya masih jauh lebih besar dibandingkan income effect-nya secara negatif. Jadi, total effect-nya masih positif.

Kedua, Apabila istri pertama ditinggalkan dan beralih ke wanita simpanan, bisa jadi dengan alasan istri pertama tingkat utilitasnya dianggap semakin berkurang. Maka, dalam kasus ini istri pertama tersebut adalah barang Giffen. Yaitu income effect secara negatif jauh lebih besar dibandingkan substitution effect. Jadi, total effect dari kasus ini adalah negatif. Dengan demikian, adalah wajar apabila orang tersebut meninggalkan istri pertamanya saat tingkat pendapatannya sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Moral dari tulisan yang diposting Luthfi ini adalah bahwa menyiratkan pihak Firdi sangatlah perlu untuk me-maintain tingkat utilitas yang diberikannya kepada Luthfi. Jangan sampai kedua kasus di atas terjadi di masa yang akan datang. Yah in the worst case, cukup jadi barang inferiorlah, jangan sampe jadi barang Giffen...He3....(Becanda loh!)

Letjes said...

maaf bung gaffar, tp sepertinya anda sedikit salah konsep. barang inferior kaitannya cuma dengan pendapatan (income effectnya negatif).

di kasus pertama diliat dari income effect-nya dia disebut barang inferior. secara total effect dia barang normal (krn SE masih > IE).

di kasus kedua diliat dari income effectnya dia juga barang inferior. secara total effect dia barang giffen (krn SE < IR)

jadi barang giffen tuh pasti barang inferior. tapi barang inferior belum tentu barang giffen

Gaffari said...

Kan asumsi di sini salah satu barang (istri pertama) harganya turun...

Yang gue liat kan total effect-nya.

Salah yang mana?

Barang normal gak bisa punya income effect yang negatif Bung!

Walaupun secara total effect mengalami peningkatan (positif), itu bukan berarti Anda bisa katakan dia barang normal.
Dalam konsep elastisitas pendapatan terhadap quantity, barang normla memiliki elastisitas bernilai >1. Antara 0 < X < 1 adalah basic necessity (kebutuhan pokok), dan nilai < 0 atau negatif adalah barang inferior.

Jadi, yang menentukan barang masuk ke dalam kategori inferior atau bukan adalah dilihat dari income effect, bukan total effect.

Sekali lagi, meskipun total effect masih positif namun di dalamnya terdapat income effect yg negatif maka dia adalah barang inferior.

Dan yang membedakan antara inferior dan Giffen adalah seberapa besar income effect mengurangi substitution effect-nya. Kedua-duanya memang memiliki income effect yg negatif, namun yang membedakan adalah pada total effect-nya.

Mohon koreksi apabila salah.

Letjes said...

ya saya setuju bung. dlm kasus anda, kasus satu dan dua, dua2ny barang inferior kan berarti bung..

Letjes said...

nambahin..

Ketika pendapatan naik konsumsi naik dia adalah barang normal (konteksnya dalam hal pendapatan)

ketika harga naik konsumsinya turun dia juga barang normal (dalam hubungannya dengan tingkat harga)

correct me if i'm wrong ;)

Anonymous said...

test///.....


Carlos

Martha-Happy said...

hmm..hmm.. dasar lelaki!