Thursday, November 1, 2007

Zoon Politikon

Menyambung posting dari Carlos mengenai betapa kacau balaunya dunia politik Indonesia, ternyata kekacauan dunia politik kita bisa jadi bersumber pada kesalahan terjemah sebuah istilah dalam filsafat politik, yakni zoon politikon.

Aristoteles mengenalkan istilah zoon politikon untuk menggambarkan mereka yang terjun di dunia politik. Istilah yang di Indonesia kemudian diterjemahkan sebagai binatang politik. Sebuah terjemahan yang sangat keliru. Sebuah terjemahan yang akhirnya menjadi justifikasi bagi politisi kita untuk bertindak, berperilaku layaknya binatang. Dan itulah yang mereka suguhkan pada kita sehari-hari. Suguhan kekacauan yang hanya membuat masyarakat semakin jijik pada dunia politik dan aktor-aktor di dalamnya.

Terjemahan yang tepat dari zoon politikon sebenarnya adalah binatang yang berpolitik. Oleh karena itu, mengacu pada Hobbes yang pernah menyampaikan bahwa manusia adalah makhluk homo homini lupus (manusia adalah binatang, yakni binatang serigala, bagi manusia lainnya), dengan memberikan label khusus zoon politikon, Aristoteles memposisikan manusia yang terjun di dunia politik bukan hanya sebagai sekadar binatang, tapi lebih dari itu, yakni binatang yang berpolitik (nangkap maksudku kan?). Jadi di mata Aristoteles, politik sebenarnya menempati tempat yang sangat spesial, tempat yang sangat terhormat.

Oleh karenanya, seandainya para politisi di Indonesia tidak salah menerjemahkan istilah zoon politikon, maka mereka akan berperilaku layaknya seorang bangsawan, bukan binatang.

Selain itu, dengan mengerti terjemahan yang benar, efek berikutnya ada pada masyarakat. Masyarakat tidak akan lagi skeptis terhadap dunia politik. Tidak ada lagi rasa jijik kepada partai politik, tapi sebaliknya masuk partai politik menjadi keinginan banyak kalangan.

Dengan begitu akan tercipta kehidupan politik yang dinamis, penuh etika, dan rasa hormat, bukan lagi kekacauan seperti yang saat ini terjadi.

(Posting ini dibuat setelah kuliah dengan Rocky Gerung, dosen filsafat FIB-UI)

7 comments:

Gaffari said...

Tapi ga tau ya Bung...Kalo mempelajari filasafat politik, gue lebih masuk ke otak pemikiran2nya Machiavelli, terutama buku Il Principe. Menurut gue, dia berhasil menggambarkan politik sebagaimana adanya (what is) bukan sebagaimana seharusnya politik itu (what ought to be)....

Politik lebih seru apabila dia disterilkan dari masalah ideologi agama yang membungkusnya. Biarlah tetep steril dan sekuler. Karena apapun wajah suci yang coba membungkusnya, politik tetap tidak akan membohongi perangainya. Yah memang, manusia diciptakan sebagai serigala untuk manusia lainnya...Begitu juga, Politik!

Gaffari said...

Gue rasa, dengan sifat itulah yang membuat politik ini menarik.
Gue rasa orang-orang yang menganggap politik itu sesuatu yang menjijikan itu tidak tepat. Sebenarnya menjalani kehidupan ini kita secara tidak sadar juga sedang berpolitik, "memainkan segala kemungkinan."

Ingat Bung: "Tidak ada yang tidak mungkin!"

It likes squeezing an orange juice!

Chaikal said...

"kekacauan dunia politik kita 'bisa jadi' bersumber pada kesalahan terjemah sebuah istilah dalam filsafat politik"

bisa jadi itu maksudnya sangat kecil kemungkinan ya? jika hal ini bisa terjadi, kira-kira apa dampaknya jika yang terjadi kesalahan tafsir kitab suci..

Anw, apakah valid kita mencari maksud aritoteles tentang zoon politikon dengan apa yang ditulis hobbes tentang homo homini lupus..

apakah aristoteles pernah membaca/mengetahui apa yang ditulis hobbes tsb? lalu jika memang maksudnya mengangkat martabat mengapa term-nya bukan homo politikon?

dah ah, nanya mulu gw..

Letjes said...

buat chaikal: bung bung.. banyaklah membaca sebelum bertanya.. hahaha.. (aku yakin luthfi yang pengen bilang kyk gini)

buat gaffar: yup harus diakui buku machiavelli adalah buku wajib yang harus dibaca mereka yg pengen terjun di politik. politik memang tidak bisa membohongi perangainya. cuma kalo dia bisa memposisikan dirinya sesuai dengan arti dari zoon politikon, setidaknya para politisi bisa lebih elegan dalam bertindak. gk sekadar saling cakar mencakar, atau gigit menggigit. hehe

Gaffari said...

Memang cara berfilsafat di sini sedikit melompat.
Seharusnya di-clear-kan lebih dahulu penggunaan konsep Homo dan Zoon.(gue rasa kalo cara berfikir seperti ini Chaikal sepakat, cara ampuhnya Chaikal untuk terlihat paling paham akan suatu hal). Sorry kal!

Lho ces, justru menurut gue konstelasi yang ada sekarang masih belum cukup terbuka. Kalo sekarang aja ngga dianggap elegan, bagaimana sebenarnya apabila ruang permainannya bisa diakses publik lebih mudah bisa lebih terlihat, bisa dikatakan lebih ngga elegan lagi.

Agar lebih elegan, memang ruang permainan harus dibuka lebih lebar ke publik. Agar akhirnya mulai muncul sikap "malu" bermain kotor di area ini.

Letjes said...

saya setuju sekali dengan anda bung gaffar. cuma kan dibalik ketidakterbukaan itu kita liat sikap politisi kita yang nilep duit sini, terus garong sana.

Chaikal said...

koq gak ada yang jawab pertanyaan gw ya barang satupun... halo, halo... apa sebenarnya semuanya belum baca neh..

seharusnya yang nge-post punya kewajiban moral lebih untuk membaca dibanding yang commenter, gimana sih, pokoknya gw tunggu jawabannya..

'berani nge-post lebih berani membaca'