Tuesday, November 20, 2007

Menggugat Proses Globalisasi ???

Selalu, setelah mengikuti kuliah bersama Rocky Gerung, pemikiran yang selama ini melekat rasanya mengalami proses “dekonstruksi” yang drastis. Bahkan cukup drastis untuk membuat sebuah posting dengan judul yang membuat orang akan mempertanyakan tingkat ke-liberal-an atau tingkat ke-pro pasar seorang letjes. Namun alhamdulillah yang terjadi sebaliknya. Meminjam istilah Pak Aco dari café sebelah, proses dekonstruksi yang ada mampu me-reinstalled keyakinan saya terhadap pasar.

Seperti kita telah ketahui bersama, basis dari globalisasi adalah mekanisme pasar. Artinya, alokasi sumber daya sepenuhnya diserahkan kepada pasar dan equilibrium akan sendirinya ditentukan melalui apa yang disebut dengan “the invisible hand”. Di sisi lain, segala bentuk intervensi terhadap pasar akan menyebabkan terjadinya distorsi sehingga alokasi yang ada menjadi tidak optimal.

Dalam proses globalisasi yang terjadi saat ini, ada satu lembaga, yakni WTO yang sangat berperan di dalamnya. WTO disini berperan sebagai lembaga internasional yang mengurusi aturan perdagangan internasional antar-negara. Tentunya, bila kita merujuk pada mekanisme pasar, keberadaan WTO jelas sebuah bentuk intervensi dan merupakan distorsi terhadap mekanisme pasar.

Ketika pemikiran ini saya ungkapkan kepada seseorang, seseorang tersebut berpendapat: “WTO diperlukan untuk mengatur negara-negara supaya mampu mengurangi tariff perdagangan mereka”.

Seandainya memang itu benar, apa yang diungkapkan tersebut juga jelas menyalahi semangat mekanisme pasar. Bila kita menganggap dunia ini adalah sebuah pasar besar dengan negara-negara sebagai individu pelaku pasarnya, sudah seharusnya masing-masing individu diberikan kebebasan untuk menentukan jalannya masing-masing. Biarkan saja bila ada suatu negara yang memutuskan untuk melakukan proteksi terhadap industri dalam negerinya atau sebaliknya. Tidak perlu diatur-atur karena toh akan ada “the invisible hand” yang akan membawa kepada equilibrium nantinya.

Berdasarkan pemikiran tersebut, sudah jelas pelaksanaan globalisasi sudah menyimpang dari semangat mekanisme pasar.

Lalu apakah kita harus berpaling dari globalisasi? Saya kira tidak. Tidak berbeda dengan kasus agama. Ketika kita melihat misalkan seseorang beragama A mabok atau main wanita, kita tidak bisa menyalahkan agama A tersebut karena agama A pasti mengajarkan nilai-nilai yang baik.

Ketika proses globalisasi telah menyimpang, kita juga tidak harus berpaling dari globalisasi itu sendiri. Kita telah belajar, baik di ekonomi internasional 1 dan ekonomi internasional 2, bagaimana globalisasi memberikan dampak yang baik. Artinya, tanpa perlu memperhatikan bagaimana negara lain, tanpa perlu ada WTO, tanpa perlu saling mengatur, kita dengan tegas, kalau perlu menjadi garda terdepan dalam memajukan globalisasi, melepaskan hambatan-hambatan perdagangan yang ada.

Dengan begitu kita pun kembali pada semangat original dari mekanisme pasar dan proses globalisasi akhirnya mengalami pemurnian.

11 comments:

Chaikal said...

Bung, bung... he3 (gak jelas)

The basic question is which one is preferred the market mechanism or the intervention?

Market can be failure, bung leces.. and I think you will agree that the world market is not efficient not just because there are bunch of protectionism but also the existence of the dominant players i.e. the world market is not competitive!

And again I assume you know what kind of equilibrium can be brought by this type of market.

Would be you just step outside, and let this inefficient market mechanism work? I don’t think so! And I think there is neither theory nor evidence confirms that an inefficient market can be efficient by itself!

So, it justifies government (WTO) intervention to the world market in order to make it more competitive..

And of course yes, WTO can be failure also… the given existing of WTO, the next question should be: Does the WTO fail?

Terakhir: ‘Artinya, ... kita dengan tegas, ... melepaskan hambatan-hambatan perdagangan yang ada’

Jelas-jelas ini bentuk intervensi bung Leces..

Peace!

Letjes said...

bung chaekal bung chaekal..

sy tahu market can be failed. dan sy rasa keberadaan WTO tidak berbeda dengan keberadaan government yg pasti juga bisa failed.

tapi realisasinya.. Is WTO failed? I do really want to say yes, but i don't have enough evidence to prove it. But I really believe that WTO won't bring enough good to the process of globalization.

Intinya, semangat globalisasi adalah semangat mekanisme pasar -- yg sy kira merupakan kondisi paling ideal. apapun kondisinya, kita hrs tetap berpegang teguh pada itu.

‘Artinya, ... kita dengan tegas, ... melepaskan hambatan-hambatan perdagangan yang ada’ adalah bentuk intervensi?

bagaimana bisa?

thx

Chaikal said...

Bung bung bung... apa yang dikatakan melepas hambatan perdagangan itukan tugasnya WTO, jadi dimana posisi anda?(confuse)

mungkinkah setiap negara melepas hambatannya dengan sendirinya? pasti jawabannya tidak, lalu apa/siapa: mekanisme pasar?

seperti sudah dikatakan, jika pasar yang ada sudah terdistori maka mekanisme yang ada juga bukan murni mekanisme pasar?

jadi mekanisme pasar bukanlah jawaban dengan kondisi pasar dunia yang sedemikian ini, dan ketika anda menolak WTO, lalu apa/siapa yang membersihkan distorsi itu?

meminta negara, meminta diri kita sendiri, meminta pihak manapun diluar mekanisme pasar, pada dasarnya adalah bentuk intervensi bung Leces...

jadi jika bentuk 'kita' anda maklumi untuk melepas hambatan perdagangan, kenapa bentuk WTO tidak bisa?

dan terakhir, tentang kegagalan WTO: "... I don't have enough evidence to prove it" (case close lah ya)

Letjes said...

"mungkinkah setiap negara melepas hambatannya dengan sendirinya? "

kenapa jawabannya tidak bung? ketika sy presiden suatu negara, sy akan lepas semua hambatan perdagangan negara sy. dan sy tidak butuh WTO untuk mengatur itu.

anggap dunia ini sebuah pasar dengan negara-negara sebagai pelaku pasarnya.

"jadi mekanisme pasar bukanlah jawaban dengan kondisi pasar dunia yang sedemikian ini, dan ketika anda menolak WTO, lalu apa/siapa yang membersihkan distorsi itu?"

jawabannya ya gak perlu ada yg membersihkan bung. biarkan semua berjalan apa adanya.

ketika anda berpendapat pasarnya tidak optimal -- ada market failure -- ya sudah.. biarkan saja. krn tetap apapun kondisinya, mekanisme pasar tetap first best bung.. (dan ini pun dibuktikan oleh pemenang nobel terbaru)

keberadaan intervensi apapun akan memberikan distorsi yg lebih besar ke dalam pasar. seandainya pun ada theory of second best. itupun tetap second best.. bukan first best.

So, I don't think the case is closed..

Chaikal said...

pemikiran anda makin rancu saja bung leces, 'dunia sebagai pasar dengan pemerintah sebagai pelakunya' ouggghhh God! apakah seorang ekonom liberal akan berbicara seperti ini?

dalam kasus ini negara bukanlah pelaku pasar, negara adalah pendistosi pasar, dan memang bisa negara sebagai pelaku pasar tetapi akan terlalu naif jika pasar dunia diwakili oleh negara-negara..

jadi pernyataan yang mendasar seharusnya adalah bukan pemerintah harus ini atau itu.. tetapi: pasar dunia lebih baik dibebaskan dari peran pemerintah. pasar dunia seharusnya terisolasi dari peran pemerintah.

sadar atau tidak bung, anda bukan lagi diposisi yang anda sedang perjuangkan...

rasionalisasi dari pendapatmu ini adalah karena pasar dunia sudah terdistorsi oleh pemerintah. dan karenanya--menurutmu--hanya pemerintah yang bisa mengeliminir distorsi tersebut. yang gw sendiri meragukannya, seperti pertanyaan yang gw ulangi berikut:

"mungkinkah setiap negara melepas hambatannya dengan sendirinya? "

jawabmu: '... ketika sy presiden suatu negara, ...'

'ketika sy presiden': ini jawaban kurang akademis bung, sekadar mempertahankan argumen.. gw no comment lah.. karena buktinya presiden dari negara paling liberalpun gak melakukan itu.

sekali lagi, yang gw maksud case close itu kegagalan WTO, kalo gak punya bukti sebaiknya diam atau paling tidak hanya memunculkan pertanyaan bukan pernyataan...

peace bung leces...

Letjes said...

wahwahwah bung chaikal tidak perlu terbakar emosi donk..inikan obrolan santai ala warung kopi.. silahkan disruput dl kopinya.. kiranya caffeine di dalamnya akan meredakan pikiran anda..

i don't know bung.. first.. i'm a little bit surprise that u're the one who make a response to this post. remembering u're not a pro-market guy, it's quite surprising.

second,i think you miss the wholepoint what i'm trying to say in my post. I don't know why.. but it seems it's always happened when we're having a discussion..

hahaha..

dalam kondisi setidak sempurna apapun mekanisme pasar menjadi pilihan yg terbaik. jadi gk perlu tuh ada yg berusaha mengatur atau berusaha menjadikannya competitive atau apalah. krn itu akhirnya mlh menyalahi esensi utama dari mekanisme pasar -- WTO dalam kasus globalisasi --

jadi ya sudahlah gk usah diatur2.. biarkan masing2 negara nentuin sendiri.. apapun hasilnya.. klo pun akhirnya negara yg plg liberalpun ternyata g membebaskan hambatan perdagangan mereka. y sudah bung.. biarkan mereka tersesat di jalan yg salah..masa'kita mau ngikuti mereka pdhl kita tau manfaat perdagangan bebas begitu besar..

hehe

Letjes said...

bung chaikal i'm start to get the point that u're going to say.

jadi menurutmu WTO itu kyk KPPU gitu ya yg membereskan kondisi pasar supaya sempurna?

dalam pemikiranku ya bung..aku mencoba berpikir lebih dari itu. ketika kita bilang pro-pasar -- liberal -- artinya kita akan memberikan kebebasan berekspresi pd setiap orang.

jadi anything goes.. mo akhirnya dia pemerintah dominan atau liberal ya terserah.. tidak ada sesuatu yg final, gk perlu diatur2.. jd yg ada akhirnya adalah force of a better argument..

dalam proses dekonstruksi pemikiran yg aku alami, itulah hakikat dari pro-pasar -- liberal --

apakah itu bisa memecah kebuntuan di antara kita bung chaikal..

hehehe..

I think i have to order espresso this time..

Chaikal said...

'kita dengan tegas, kalau perlu menjadi garda terdepan dalam memajukan globalisasi, melepaskan hambatan-hambatan perdagangan yang ada.'

sudah jelas situ yang mulai ngatur-ngatur, nyuruh-nyuruh orang (biarlah mereka tersesat dijalan yang salah), he3..

this is the whole point bung: sadar atau tidak, anda bukan lagi diposisi yang anda sedang perjuangkan...

Anonymous said...

Bung Letces:

Kenapa anda menganggap WTO itu sebagai distorsi??
Kalau saya justru melihat WTO itu sebagai agen yang (BISA)mengurangi asimetris informasi. Ingat pre-Bretton Woods (WTO, together with IMF dan WB adalah produknya)dimana proteksionisme parah banget dan it hurt the global economy! Tidak adanya agen seperti WTO membuat world trade menjadi prone to protectionism which could lead the world to less growth and development.
Dengan adanya WTO maka biaya globalisasi dapat menjadi rendah. WTO cuma perlu 'ditambal' karena ia bukan distorsi yang harus 'disingkirkan' We might even have worse condition without WTO.

Salam,
Non-Economist Observer
Menara Radius Prawiro Lt.2

Anonymous said...

Wah kalo Bung Letjes bilang kalo WTO itu sebagai pendistorsi, kayaknya bung letjes lebih baik gabung ke komunitas IGJ (Institute of Global Justice. Gak jauh kok tjes.... Di Jl. Diponegoro No. 9 (kalo gak salah).
Nanti loe akan gabung sama..
Buruh tani, mahasiswa, rakyat miskin kota........
WHAHAHAHAHA...

-Anonymous a.k.a. FBH-

Letjes said...

Buat bung Edo dan Bung fajar, makanya dalam tulisan ini aku bilang aku sedang mengalami proses dekonstruksi habis2an.. dan pasti pada kaget semua.

tp yg aku maksud emang agak sedikit filosofis. globalisasi kan pasar bebas. meski kondisi pasarnya emang tidak kompetitif, tp kan tetap gk perlu tuh diatur2 oleh WTO, negara ini harus begini atau begitu, krn namanya aja pasar bebas. semua bebas menentukan pilihanny. dapet maksudku gk?

pasar bebas=semuanya bebas.. anything goes.. termasuk untuk memproteksi negaranya..