Tuesday, February 5, 2008

Coblos Kumisnya, Coblos Ahlinya, Banjir Lagi Hasilnya

Jakarta lagi-lagi disapa oleh bencana tahunan, yaitu banjir. Baru tahun lalu sepertinya saya membuat tulisan iseng yang berjudul "Ekonomi Jakarta Pasca Banjir"

Agak miris memang, kalau kita atau beberapa kalangan sudah memiliki hipotesa bahwa banjir besar di Jakarta hanya terjadi lima tahunan, tapi ternyata hipotesa tersebut hancur lebur terbantahkan. Baru 2007 terjadi banjir, kemudian setahun sesudahnya, 2008, terjadi kembali banjir besar di Jakarta.

Banjir di Jakarta memang sudah mulai menjadi langganan, terlebih lagi, masyarakat Jakarta sepertinya sudah sampai pada titik imun dalam menghadapi banjir. Lihat saja, para penduduk Jakarta yang terekam kamera TV masih menebarkan senyum mempesona, padahal sedang didera bencana.

Yang jadi perhatian saya dan mungkin menjadi perhatian beberapa kalangan, reaksi dari si kumis dalam menanggapi masalah banjir kali ini. Sepengetahuan saya ada 3 pihak yang disalahkan oleh si kumis:

1. Kontraktor. Si kumis sangat kesal dengan hasil karya para kontraktor di Jakarta, khususnya kontraktor yang menangani masalah drainase.

2. Masyarakat. Si kumis merasa banjir yang terjadi di Jakarta terjadi karena kebiasaan buruk masyarakat yang bukan gemar menabung, akan tetapi gemar membuang sampah sembarangan.

3. Alam. Si kumis merasa banjir kali ini disebabkan karena faktor alam yang tidak bersahabat.

Sungguh aneh, si kumis yang merasa dirinya paling ahli menangani kota Jakarta, justru mencari kambing hitam atas terjadinya banjir. Seseorang yang mengaku dirinya ahli, seharusnya solutif dalam menghadapi suatu masalah, bukan malah secara terus menerus mencari kambing hitam.

Kalau terus mencari kambing hitam, sampai kapan pun bencana banjir di Jakarta tak mungkin bisa teratasi. Jadi tolong para pendukung atau tim kampanye si kumis bekerja dengan baik dan jangan hanya mencari kambing hitam.

PS: Hanya pendapat pribadi sebagai warga Jakarta dan tidak bermaksud menyerang secara politis


6 comments:

Bukit Timah School said...

tapi bang kumis oke punya, bukan dia yang minta maaf, tapi malah pak kumis tipis... hebat juga ya...
sampe presiden sendiri pula yang menyambangi balai kota, bukan bang kumis yang deteng ke Istana...
bang kumis emang ahli... sampe pak pesona aja sampe merengut mesti pindah mobil...
meskipun klo bang ganteng yang menang, belom tentu keadaan jadi lebih baik...

Anonymous said...

ini agak menarik, kaya tebak2an tokoh aja...
Jadi begini pertanyaannya"
1. Siapakah bang kumis?
2. Siapakah pak kumis tipis?
3. Siapakah pak pesona?
4. Siapakah bang ganteng?

he3....just for fun!

Pojokan 412

Anonymous said...

tulisan ini lebih seperti ungkapan rasa kecewa dari warga yang kebanjiran dari pada orang yang analisa ekonomi akan kondisi banjir di jakarta.hehehe...

Salam kebanjiran,

Depan pojokan 412

Luthfi said...

oke karena tebak-tebakan gwe sepi peminat (pasar telah menghukum gwe)gimana dengan pertanyaan ini:
Siapakah Ibu moncong putih?
Siapakah Pak kumis tengah?

Salam tebak-tebakan,
Pojok Busana

Anonymous said...

Kalau saya perhatikan tulisan Bung Fajar ini rata-rata menghasilkan tulisan bernada kekecewaan dan seperti orang menggerutu...

Hanya saja yang membedakan menggunakan atau "mencomot" data-data ekonomi sekenanya...

Dari berbagai tulisan yg Anda link ke sini tak menampilkan opini solutif dari kejadian yang ada.

Kalo manurut saya, Anda cocok bergabung dengan tim Moncong Putih.
Menggerutu, complaining, mocking..etc..

Anonymous said...

Wah anti tuh sama moncong putih...
liat aja mulutnya yang putih berbusa...
kerjaannya mabok melulu...
Daripada moncong putih mendingan Partai BABI AIR...atau ANJING BULLDOG..

Pojok 412
(on leave for a while)