Friday, February 22, 2008

Why is it hard to gather the starbuckers?

Akhir-akhir ini sulit sekali rasanya bertemu para starbuckers. Memang banyak alasan yang melatarbelakanginya dan juga sangat beragam.
Survey yang dilakukan Roy Morgan, CLSA Asia Pacific Markets for Indonesia 2007 "Mr & Mrs Indonesia" mungkin bisa dijadikan beberapa alasan tersebut. Survey ini menggunakan sampel 21 ribu responden yang mewakili sekitar 67 juta penduduk Indonesia.

Di tengah kehidupan di Jakarta, sebagai para new comers di lapangan kerja tentu segala macam aktivitas kita memiliki budget contraint yang disesuaikan dengan income kita.

Sebenarnya keinginan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga merupakan aktivitas favorit di Indonesia seperti yang diperlihatkan dalam hasil survey, salah satunya terciptalah grup diskusi ini.

Tetapi mengapa sulit untuk kumpul diskusi? Wajar saja, menurut survey sekitar lebih dari 65 persen memilih untuk melakukan kegiatan entertainment (diskusi kita termasuk entertaining kita ga ya?).

On the different note, hanya sekitar 5 persen saja yang memilih untuk pergi ke kafe (termasuk starbucks) dan lebih tinggi memilih pergi ke bioskop untuk menonton film-film baru sebesar 7 persen. Bisa jadi keinginan untuk diskusi tinggi tetapi tidak diimbangi keinginan yang tinggi pula untuk kumpul di kafe. Kenapa juga ngumpulnya di Kafe? Warung kopi kaki lima boleh juga dijajal.

Memang dari kita hanya sedikit yang punya mobil pribadi. Apa alasannya sama soal ngumpul untuk diskusi? Sebagai para pengguna setia taksi (padahal cuma mau naik Express atau Putra yang mematok tarif lama) ternyata kita hanya bagian dari 20 persen orang, sedangkan hampir 60 persen orang lebih memilih menggunakan bis sebagai transportasinya. Bisa jadi, keinginan untuk diskusi tidak match dengan jasa transportasi yang kita pilih.

Kenapa akhir-akhir ini starbuckers seperti “kering” ide dan gagasan? Hmm, ternyata memilih untuk melakukan kegiatan hobi dan olah raga (misal: futsal) jauh lebih tinggi sekitar 5-7 persen dibandingkan membaca buku. Kalo gini sih wajar aja kalo kurang ide dan gagasan baru.

Anyway, bolehlah kita katakan bahwa diskusi kita bukan suatu kegiatan entertainment dan boleh dikatakan juga high-cost pula. Tapi kenapa sekedar karokean atau nonton konser musik Jazz (Jak Jazz atau Java Jazz) tetap aja kita sulit ngumpul?
Yah wajar juga sih, menurut survey, 10 persen atau sekitar 6 juta orang di Indonesia lebih memilih datang ke konser dangdut. Hmm, next time kita datang konser dang dut aja apa? Goyang ngebor!

Anyhow, semoga kita bisa tetep ngumpul-ngumpul....

6 comments:

Chaikal said...

dari data statistik tersebut sepertinya semua kesimpulan anda tidak bisa dipertanggungjawabkan, bung Gafar, he3 maaf..

seperti biasa, gw paling gak suka disimpulkan terlebih kalo kesimpulannya salah..

tapi apapun itu, banyak hal menarik terungkap dari sini, thx.

Gaffari said...

Tidak ada maksud menyimpulkan, hanya mencoba mengkaitkan satu hal dengan beberapa hal yg terjadi secara kebetulan.....

Carlos said...

gw langsung presentasi lagi pas balik boleh?? ada sesuatu yang sangat-sangat menarik nih...mantep deh.

INTERNAL said...

budget-constraint yaa...

icha said...

2nd EBS SUMMIT SEMINAR
February 28th, 2008
Auditorium Soemitro, FEUI
8.00 am - 4.00 pm

ASEAN INTEGRATION:
Euphoria or Utopia?


Opening Remarks
Prof. DR. der. Soz, Gumilar R. Somantri, President of University of Indonesia

Keynote Speaker
Dr. N. Hassan Wirajuda, Minister of Foreign Affairs


Session I: Achieving Economic Integration
[i] Are We Ready for Economic Integration?
(S. Puspanathan Ph.D, ASEAN Secretariat)

[ii] ASEAN Charter Comprehension.
(Dian Triansjah Djani, Director General of ASEAN Cooperation, Ministry of Foreign Affairs)

[iii] European Union Experiences
(Juan Casla, Program Manager of Economic Cooperation, European Commission to Indonesia)



Session II: The Next Attainable Steps
[i] Adjustment of Economic Policies
(Anggito Abimanyu, Ph.D, Head of Fiscal Analysis, Ministry of Finance)

[ii] From AFTA to ASEAN Economic Community
(Marie Elka Pangestu, Minister of Trade/ Sjamsu Rahardja, Economist of World Bank)*

[iii] The Role of the Youth: Towards the new labor-mobility system
(Prof. May Ling Oey-Gardiner, Ph.D, Senior Consultant in Insan Hitawasana Sejahtera)




LUNCH, SNACK, COFFEE BREAK, CERTIFICATE, DOOR PRIZES!

Students IDR 20, 000
Public IDR 50, 000

FOR REGISTRATION:
SHIRIN +6221 925 911 55
RISTA +6221 935 541 24

COME TO OUR CORNER @ LOBBY A FEUI OR CONTACT US!

Berly said...

Kalau bertemu tim starbucker = visiting friend harusnya berdasarkan statistik itu menjadi prioritas donk :-)