Monday, February 4, 2008

Sovereign Wealth Fund or Single White Female?

Isu mengenai Sovereign Wealth Fund menjadi semakin seksi untuk dibahas belakangan ini. Singapore dengan GIC nya membuat kejutan dengan membeli 9 persen saham UBS, bank terbesar secara aset di Uni Eropa seharga 11,5 milyar USD, ekuivalen dengan 10 persen dari cadangan devisanya pada desember 2007. Awal Januari lalu, Ministry Mentor Singapore Lee Kuan Yew, yang juga special advisor Citibank sejak 2006 dan merangkap CEO GIC, mengungkapkan pembelian 4 persen saham Citibank, bank terbesar di AS seharga 6,88 milyar USD. Selain itu, di wilayah real estate, GIC juga akan membeli Westin Hotel yang terkenal sebagai hotel bintang 7 seharga 77 milyar yen dari Morgan Stanley. Sebelumnya juga banyak membeli asset-aset properti dari lembaga-lembaga keuangan terkemuka seperti Merril Lynch dan Sumitomo.

Lain dengan Singapore, United Emirat Arab punya cerita yang lebih seksi dengan petro dollarnya. Cerita Dubai Port ketika membeli P&O, pengelola pelabuhan terbesar ke empat di dunia yang mengurus banyak pelabuhan di AS seharga 7 milyar USD dan berujung kepada intervensi veto dari kongres AS. Selain itu pembelian 20 persen saham NASDAQ Agustus 2007 oleh Borse Dubai, perusahaan gabungan Dubai Financial Market dan Dubai International Financial Exchange. Selain itu, Abu Dabhi juga punya cerita lain dalam pembelian saham Citibank dengan 7,5 Milyar USD atau 4,9 persen saham Citibank.

Cina, sebagai negara pembuat headline terbanyak beberapa tahun terakhir ini punya keunggulan lain. Kalau Singapore mengandalkan tabungan pensiun penduduknya dan UEA karena booming minyak. Dengan 1,2 triliun USD di cadangan devisa dan surplus perdagangan sekitar 100 milyar USD pertahun juga ikut bermain dengan pembelian terbesar di America Treasury Bonds.

Meskipun begitu, keberadaan SWF bukanlah barang baru. SWF pertama yang ter-register dibuat oleh pemerintah kolonial Inggris pada 1956 di Micronesia. Lima besar Negara dengan aset terbesar adalah Jepang (USD 975Bn), UAE (USD 724), Norway (USD 357), Singapore (USD 323), US (USD 299). Namun, dengan total estimasi aset sebesar 4,7 Trilyun USD, isu untuk SWF bukan lagi mengenai konflik kepentingan pemerintah bersangkutan dan keberadaan mereka yang membahayakan ekonomi global. Tapi lebih kepada isu transparansi dan akuntabilitas. Dengan kekuatan modal sebesar itu tanpa transparansi dan akuntabilitas, SWF hanya akan memunculkan kembali ketakutan terhadap dua isu diatas. Hasil studi dari Peterson Institute menunjukan Singapore dan UAE menjadi 2 negara paling buruk dalam masalah ini. Sedangkan Norway dan New Zealand bisa dijadikan barometer untuk hal yang sama.

Masalah transparansi dan akuntabilitas selain penting untuk sisi ekonomi, juga untuk sisi politik. Sebagai contoh, penduduk Singapore yang tidak bisa banyak mengakses data apa yang diperbuat oleh pemerintah terhadap tabungan pension mereka banyak menimbulkan keresahan. Apalagi mengingat dua SWF milik Singapore dipimpin oleh klan Lee Kuan Yew, dengan GIC dipimpin oleh MM LKY sendiri dan diperkuat oleh putranya, Perdana Mentri BG Lee sebagai wakil. Sedangkan Temasek dipimpin oleh Ho Ching, Istri dari BG Lee yang juga dinobatkan sebagai no 3 the most powerful woman in the world 2007 oleh majalah Forbes setelah Angela Merkel dan Wu Yi (Vice Premier China).

Dari sedikit lihat-lihat mengenai SWF, informasi resmi yang didapat terutama dari GIC, Abu Dhabi IC dan Dubai sangatlah minim. Sebagai contoh, Abu Dabhi Investment Authority (http://www.adia.ae) yang mengelola sekitar USD 500 Milyar hanya memiliki situs resmi yang tidak memadai. Begitu pula dengan GIC, yang hanya memberikan profile singkat dan terbatas. Bahkan ketika pembelian Citibank, GIC tidak banyak berkomentar mengenai hal tersebut.

Bagaimanapun, SWF terutama bagi Singapore dan UAE telah menjadi produk paling seksi dari keberhasilan pembangunan ekonomi mereka. Bagaimana dengan Indonesia?
Sudahkah kita berfikir 20 tahun kedepan sebagai kekuatan ekonomi baru?
Atau kita membiarkan defisit budget dan hutang-hutang baru sementara Singapore dan UAE setiap tahun terus mengembangkan investasi-investasinya?
Atau mungkin terminologi SWF memang harus diubah menjadi Single White Female agar kita mungkin melihatnya lebih seksi lagi.

Fauzan Zidni, Mahasiswa MPP di Lee Kuan Yew School of Public Policy, NUS.
Penulis salah satu pengunjung blog ini, dan ingin sekali ngopi-ngopi dengan dengan para kontributor blog ini.
Penulis bisa diakses di http://bukittimahschool.blogspot.com/

7 comments:

Chaikal said...

Single White Female belum tentu sexy jadi term yang lebih tepat untuk SWF: Sexy White Female!

dah pasti sexyy tuhh.. he3.

dendi said...

Fauzan,
Ulasan yang sangat menarik.

Saya ada pertanyaan: apakah sistem yang digunakan oleh Singapore atau UEA ini akan sustainable?.

Kedua, kalo disebut sistem yang dijelaskan ada lack of transparancy and accountability, kenapa di level makro Singapore selalu menempati urutan teratas sebagai negara terbersih, negara yang paling memberikan perlindungan investasi? Sepertinya, ada paradox.

Apakah sistem ini akan terus seperti sekarang? atau tidak bertarsnformasi? dan, bagaimana kaitannya dengan partisipati publik (atau prospek demokratisasi) di Singapore?

fauzan zidni said...

mas dendi, saya pikir selama sistem politik yang ada di Singapore dan UEA tidak berubah, keberlangsungan nya akan tetep terjaga...

menjawab pertanyaan kedua memang paradox, ketidakterbukaan tidak berarti ada korupsi disana...atau mungkin tidak terkuak, karena sulitnya mendapat akses informasi itu Peterson Institute (coba buka ini untk info lebih lanjut: http://www.petersoninstitute.org/publications/papers/truman1007swf.pdf) mengkatgorikan Sing (terutama GIC nya) dan Abu Dhabi Investment sebagai kategori buruk secara akuntabilitas dan transparansi.
mengenai singapore, coba buka http://singaporealternatives.blogspot.com/ anda akan melihat sisi lain singapore dari orang kritis yang amat jarang ditemui disini..

masalah partisipasi publik dan demokratisasi, kita jauh lebih unggul. dari 84 kursi parlemen, 82 milik PAP. tapi saya pikir konteks berbeda, SIngapore tentunya tidak mau sperti kita yang porak poranda karena terlalu demokratis... dan berhubung negara kecil yg g punya SDA apa2, sistem yang di kelola LKY menurut saya yang terbaik...

buat chaikal, iya betul, sexy white female lebih mantap kedengerannya... berhubung yang single dan yang udah kawin kadang2 lebih laku yang udah kawin, tapi klo sexy, semua mata pasti melirik. hihihihi....

dendi said...

Fauzan,
Trimakasih atas tanggapan & link internet-nya.

Buat saya kasus pembangunan di Singapore sangat menarik karena sistem ekonomi-politik yang mereka kembangkan, bisa dibilang, melawan arus utama pola pembangunan. Sistem politik Singapore sangat tidak demokratis. Tapi, governance pada tingkat negara sangat baik, dan sistem korporasi yang juga baik (good corporate governance).

SWF mungkin bisa menjadi exercise melihat paradox yang terjadi di Singapore. Saya ada pertanyaan lagi untuk melihat SWF ini lebih jauh.

Holding milik pemerintah atau BUMN, sangat rentan berjalan tanpa pengawasan atau check & balance. Check & balance di BUMN biasanya tergantung dari sistem politiknya. Kalau sistem politiknya tidak demokratis, besar memungkinkan tidak ada check & balance dan pengawasan di BUMN.

Nah, kasus di Singapore ini, apa mekanisme corporate governane yang mendukung sehingga perusahaan BUMN atau Holding Company bisa berjalan baik?

Selain itu, mekanisme governance apa yang membuat pemerintahan Singapore bisa berjalan baik?

Trimakasih,
dendi

fauzan zidni said...

mas dendi, ada tiga prinsip dalam governance di singapore yang papi lee selalu tekankan: kejujuran, meritrokasi, dan pragmatisme. dan ini punya impact yang luar biasa bukan cuma dalam pemerintahan tapi juga dalam dunia bisnis
1. kejujuran: bahkan seorang PNS pun g boleh menerima traktiran dari temannya. untuk kasus korupsi mereka punya CPIB (sejenis KPK) tapi dibawah kontrol PM, memang terlihat meragukan, meskipun faktanya, angka korupsi disini rendah banget. semua takut dan jadi jujur karena punishment nya luar biasa..klo di flashback, tahun 70an korupsi di sing masih parah banget, setipe lah sama di indo. tapi political will mereka memang luar biasa hebat.
2. meritrokasi: ini yang paling sulit kita pelajari, cuma orang2 yang memiliki kemampuan yang layak yang bisa dapet posisi di mana pun. meskipun terkesan nepotisme, tapi harus diakui klan LKY adalah salah satu orang2 terbaik di Singapore. untuk mendapatkan generasi2 "terbaik" LKY sampai membuat banyak kebijakan kontroversial seperti orang berpendidikan harus menikah dengan orang berpendidikan juga, kebijakan diskriminasi pendidikan yang mengklasifikasikan orang cerdas, biasa saja dan bodoh sejak SD sampe SMA, dll.
3. pragmatisme: segala macam masalah yang ada di singapore diyakini bukanlah masalah baru, mereka copy paste semuanya dari ahlinya dan yang sudah berpengalaman, di modif dan dijalankan jauh lebih baik dari negara2 lain. selain itu, inovasi2 di pemerintahan singapore bisa dibilang yang terbaik di dunia. kmrn orang dari KSG harvard mengisi ceramah, rata2 18 dari 100 mahasiswa KSG dari SIngapore, dan mereka selalu menghasilkan produk inovasi governance yang terbaik dan diimplementasikan.

untuk menghindari korupsi pun mereka pragmatis, tingkatkan gaji dan fasilitas PNS mereka. gaji PM di singapore 2 juta dollar per tahun (hanya kalah dari CEO2 MNC besar), belum lagi gaji nya dari GIC, dari ini dari itu. contoh lain, kemaren perwira menengah di militer singapore baru saja mendapat mobil dinas BMW seri 3 terbaru. perlu korupsi gak klo gini ceritanya?

masalah check and balance di BUMN mungkin beda cerita dengan di Indonesia, mereka memang menjalnkan korporasi sebagai korporat swasta pada umumnya, tidak seperti BUMN yang penuh intrik politik. selain itu pemerintahan pun dijalankan sebagai korporat juga. ingat kasus Port Singapore Authority (PSA) yang ikut bidding P&A tapi kalah sama dubai port? atau bagaimana orang dari swasta bisa pindah ke pemerintahan dan sebaliknya...

meskipun, pada akhirnya, segala macam kemajuan dan keberhasilan yang ada cuma bisa kita lihat dengan sinisme dan paradoks. bagaimana dengan koruptor kita yang ngumpet di singapore? bagaimana dengan masa depan ekstradisi? bagaimana dengan pasir kita? monopoli temasek? ini? itu?....

Anonymous said...

bung fauzan, anda ini antek singapur ya? sepertinya anda ini pro sekali dan mengagung-agungkan singapur??

jangan mentang2 anda sekolah disana dan lupa kalau negara itu penjahat! pelindung koruptor! pencuri pasir!

hati2 dengan idealisme anda bung!

Anonymous said...

namanya jug anak kemarin sore.

masih norak dia!

mungkin dia lupa kalo Singapur itu dihuni oleh kaum2 yg beradab dan berpendidikan, dan juga cenderung homogen!
gak mungkinlah dibandingin sama Indonesia yg amat sangat homogen.

disini, tiap ada kebijakan sedikit aja, terutama menyangkut pertanahan, ada orang2 Batak yang pada nyari rente!
mengerahkan massa preman2 tenabang yang semakin mendistorsi kebijakan itu sendiri.

tiap ada kebijakan kemasyarakatan, orang2 Betawi minta diutamakan karena ngerasa yg punya kampung.

repot kan!!!