Sunday, February 3, 2008

Kredit Perbankan

Pengantar: artikel ini mungkin lebih tepat ditujukan ke Pakasa untuk ditindaklanjuti KPPU (he3). Laporan lebih lengkap akan saya buat untuk diskusi giliran saya berikutnya, tentu dengan analisis yang lebih lengkap mengenai rigiditas suku bunga dalam pasar kredit. Untuk semua, analisis ini juga masih sederhana oleh karena belum memasukkan pergerakan inflasi, SBI, CR, dll.)

Sebenarnya, saya sedang mencoba menjauh sebentar dari economics of love dan memberi ruang dalam kepala saya untuk ekonomi moneter. Deskripsi ini mungkin sedikit membuka alternatif pandangan terhadap permasalahan kredit perbankan di Indonesia. Sudah menjadi kesepakatan umum bahwa rendahnya penyaluran kredit perbankan diakibatkan sektor riil yang tersendat. Pernyataan ini mungkin benar tetapi tidak komprehensif.

Secara umum, struktur suku bunga kredit terdiri dari empat komponen berikut:
1. Cost of fund (suku bunga simpanan)
2. Biaya operasional (incl: monitoring cost)
3. Premi risiko
4. Margin pendapatan


A= suku bunga kredit investasi Bank Umum
B= suku bunga deposito 3-bulan Bank Umum
A-B= interest rate margin

Tabel di atas merepresentasikan suku bunga kredit yang semakin menurun namun penurunan suku bunga ini lebih rendah dari penurunan suku bunga deposito menyebabkan interest rate margin-nya semakin besar. Suku bunga kredit dalam hal ini lebih rigid perilakunya dibandingkan suku bunga deposito.

Lebih lanjut, komponen dari interest rate margin ini dalam struktur pembentukan suku bunga kredit adalah komponen 2, 3, dan 4. Yang harus menjadi pertanyaan adalah dari ketiga komponen ini komponen mana yang menyebabkan interest rate margin semakin besar apakah karena biaya operasional yang meningkat, risiko yang meningkat, atau margin pendapatan yang memang ingin ditingkatkan oleh perbankan.

Tahun 2006 dan 2007, menurut saya, tidak ada alasan kuat untuk merasionalisasi naiknya risiko kredit (sektor riil cukup stabil). Tidak ada alasan kuat juga bahwa biaya operasional meningkat (economies of scale donk harusnya) dan jikapun yang terjadi adalah kenaikan biaya maka dapat dikatakan perbankan nasional tidak efisien (jadi ada transfer ketidakefisienan ini ke debitor—lebih parah).

Jadi satu-satunya rasioning adalah perbankan meningkatkan margin pendapatan. Jika demikian, apakah bisa kita terima pernyataan oleh banyak bankers termasuk para chief economist-nya bahwa selama ini mereka bersedia menyalurkan kredit ke sektor riil dan menyalahkan sektor riil yang tidak mampu menyerap kredit tersebut.

Kredit yang tersendat (Q) tidak bisa dilepaskan dari permasalahan suku bunga (P). Penjual sepatu sangat bersedia menjual sepatu jika harga sepatu tinggi, begitu juga para bankers (kreditor) namun apakah debitor (sektor riil) akan tetap meminjam dengan suku bunga kredit yang tinggi itu.. (sebagian mungkin iya, karena sektor riil di Indonesia masih sangat bank-dependent i.e. inelastis, tetapi sebagian lagi tidak mampu)

Jadi pertanyaan berikutnya, mengapa bank dapat mempertahankan tingkat suku bunga kredit (meningkatkan margin)? Tidak lain tidak bukan disebabkan industri perbankan yang tidak kompetitif, bahkan sangat mungkin (kolusif ?) oligopoli.... dan parahnya lagi industri perbankan adalah industri dominan dalam sektor keuangan di Indonesia (perbankan tidak punya pesaing kompetitif dari sektor non-perbankan) dan lebih aneh lagi, adakah yang perduli?

3 comments:

Anonymous said...

Hmmm...saya pikir analisisnya tidak bisa sesederhana ini, perlu studi empiris yang lebih lanjut. Namun oligopoli adalah salah satu kemungkinan yang tidak bisa diabaikan, selain juga permasalahan di sektor riil. Mungkin menarik juga klo ada yang mau analisis impact dari single presence policy sama rigiditas suku bunga, karena SPP akan membuat struktur bank kita lebih terkonsentrasi.
Tapi sulit juga diingkari kalo perkembangan makro sama sektor riil memang tidak convergence.
Mungkin analisis untuk liat sektor riil, bisa dipertajam dengan melihat bagaimana pola kredit dari BRI. Klo dulu waktu saya kerja di investment management, sejujurnya agak kurang percaya dengan data2 yang diannounce sama government soal sektor riil. Lebih cocok liat bank itu. BRI punya market dan jaringan yang kuat dari seluruh indonesia, dan tentu saja mereka punya informasi yang lebih bagus tentang bagaimana kondisi riil sebenernya ekonomi indonesia. Bisa dilihat dari struktur kredit yang diberikan dan pergerakan tingkat suku bunganya.


Septian

Pakasa said...

Mmm.. sebelum berpikir ada tidaknya kolusi, mungkin harus memikirkan beberapa aspek:
Pertama, ada kebijakan obligasi pemerintah yang membuat perbankan jadi manja. aset yg risk-free aja bunganya udah segitu, buat apa nurunin suku bunga kredit?
Kedua, mungkin tren perbankan ke depan itu lebih ke micro-banking, soalnya BRI yang merupakan pelopor menjadi bank "wealth creator" nomor satu versi majalah Globe. Gw nggak tahu suku bunga kredit yg lu maksud itu memperhitungkan ini nggak. Yang jelas, suku bunga kredit microbank jauh lebih gede, mungkin 30-50% setahun, karena tanpa jaminan (resiko gede bgt).

Jadi kal, perlu ada analisis yang menghitung efek dari masing2 aspek-aspek tersebut. Jadi nanti bisa diprediksi apakah ini collusive equilibrium atau cournot-nash equilibrium.

Chaikal said...

Namanya juga laporan pakasa, ini cuma trigger, hanya indikasi-indikasi..

anw, tahun 2006-2007 obligasi dah ada dan bunga-nya cukup stabil, jadi seharusnya margin-nya sama aja donk.. nah yang ini margin-nya membesar..

bagaimana bisa mereka 'menurunkan' suku bunga deposito sedemikian dengan juga 'mempertahankan' suku bunga kredit sedemikian..

Terus, merupakan kewajibanmu untuk buktiin kolusi atau tidak.. sekali lagi, gw pengen banget yang ilmiah pembuktiannya, secara kemaren kasus temasek lepas begitu aja, he3. (lempar tanggung jawab)

untuk bung seto: sebenarnya saya hanya berharap bahwa artikel ini setidaknya memberikan gambaran tentang apa yang terjadi dengan industri perbankan di Indonesia..

dan saya juga berharap beberapa kesimpulan yang diambil dalam artikel ini mendapat masukan dari kawan-kawan untuk memperkuatnya (mungkin juga untuk dipertanyakan kembali)

demikian, terimakasih.