Friday, October 26, 2007

Antara Macet dan Dunia Politik

Baru saja saya mewawancari seorang ilmuwan politik Indonesia yang mungkin namanya belum terlalu terdengar di seantero negeri ini, tapi saya yakin dia akan menjadi salah tokoh kenamaan negeri ini kelak di masa depan.

Singkat cerita, sang ilmuwan memaparkan pada saya bagaimana dia dulu terlahir dalam keluarga akademisi. Ayahnya seorang guru besar, dan kini dia meneruskan karirnya di jalur akademisi pula. Pendidikan ilmu politik telah dia kecap sejak bangku kuliah di FISIP-UI pada tahun 1988, lalu dia melanjutkan kuliah S2 ke Tokyo University. Belum kelar dari program S2, Universitas Tokyo langsung menawarkannya untuk program S3 sembari tugas mengajar di akhir tahun program S3. Tak terasa 9 tahun masa hidupnya pun telah ia lalui di negeri matahari.

Kemudian sebuah panggilan untuk pulang kembali ke negeri tercinta diterimanya. Panggilan itu datang dari Keluarga dan Hati Nuraninya. Dia katakan bahwa panggilan untuk kembali ini bukanlah sebuah bentuk rasa nasionalisme tapi lebih pada bakti tertunda pada sang orang tua dan keluarga. Susah rasanya untuk berlagak Nasionalis di negeri yang pemerintahnya kurang memperjuangkan rakyat sendiri. Begitulah impresi yang dia lontarkan pada saya.

Dia bercerita bagaimana ada pertentangan batin ketika Ia hendak balik ke negeri ini. Sembilan dari sepuluh profesor di Department of Politics, Tokyo University membujuk dia agar tidak kembali ke Indonesia. Salah satunya adalah prof pembimbing disertasinya (Maaf saya lupa namanya). Sang profesor bercerita tentang jalan raya yang macet sebelum sebuah perempatan jalan. Dalam kondisi jalan macet, mobil yang berada dalam antrian macet tidak akan pernah tahu apa penyebab kemacetan. Perlu sebuah kamera dari ketinggian atau terbang ke udara untuk mengetahui bahwa ada keruwetan di perempatan jalan tersebut (andaikata sumber kemacetan ada di perempatan jalan). Mungkin akibat tidak tertib dan tidak mau mengalah atau ada mobil mogok/tabrakan tepat di tengah-tengah perempatan. Atau bahkan jalan sedang diblokir demi memberi peluang bagi rombongan VIP untuk lewat. Banyaklah kemungkinan alasan penyebab kemacetan lainnya.

Perumpamaan jalan macet adalah sebuah cerminan dunia politik di Indonesia. Sang profesor mengatakan bahwa dengan terjun langsung ke dunia politik Indonesia membuat kita tidak dapat melihatnya secara objektif dimana kesalahan itu berada. Ibarat mobil dalam antrian macet tadi. Jadi kalo ingin mengetahui kebenaran akan dunia politik Indonesia, kita perlu bertindak layaknya helikopter polisi yang memantau dari udara untuk mengetahui pusat kemacetan sehingga tahu apa yang harus dilakukan berikutnya.

Begitu hati-hatinya sang profesor bercerita demi menangguhkan keinginan hati anak bimbingannya untuk pulang kembali ke negeri halamannya. Tapi sang ilmuwan bersikukuh, dia berkata, “Profesor, Anda sangat benar sekali mengenai hal itu, namun ada alasan lebih kuat buat saya agar kembali ke Indonesia, yaitu keluarga saya meminta saya pulang”. Maka dalam kondisi pertentangan antara hati dan logika, kembalilah sang ilmuwan ke Indonesia.

Akhir kata, kesimpulan saya dari cerita ini Indonesia sudah begitu ruwet sehingga orang yang bekerja di dalamnya tidak mungkin bisa netral lagi. Piss.....

(Carlos)

4 comments:

Letjes said...

perumpamaan yg bagus dari sang profesor. kalo aku gk salah, dlm teori transportasi kondisi yg digambarkan sang profesor disebut dengan paradox wardrop.

dalam kasus kemacetan, dengan kemajuan teknologi saat ini, kita bisa tahu sumber kemacetan lewat radio, sms, atau teknologi tercanggih GPS (tanpa perlu kita sendiri yang terbang ke atas).dengan begitu pengemudi bisa mengambil keputusan dan intensitas kemacetan pun bisa berkurang.

cuma kalo dianalogikan dengan dunia politik, inovasi teknologi tsb diidentikkan dengan apa ya?

any idea?

Anonymous said...

Menurut gw,
Orang yang tau penyebab kemacetan dari alat bantu ibarat politisi yang membaca paper atau karya ilmiah para peneliti politik dari luar "kemacetan". Atau bisa juga dari orang yang berada tepat di pusat kemacetan.

Pertanyaannya adalah apa yang bisa diperbuat oleh mereka?? paling-paling informasi itu cuma bisa sedikit menenangkan hati mereka, tetapi tidak bisa mengubah keadaan.

(silahkan ditambahkan bila masih ada kekurangan)

-carlos-

Letjes said...

berarti dalam kasus yang carlos tulis, petunjuk dari profesor ke sang ilmuwan sebenarnya bisa diidentikkan dengan bantuan teknologi dalam kemacetan.

tp tampaknya sang ilmuwan dengan terpaksa bukannya menghindari kemacetan. dia pun masuk dalam kemacetan.

dalam pandanganku, untuk mengatasi kemacetan, harus ada setidaknya satu orang dalam kemacetan tersebut yang mau meminggirkan mobilnya. turun dari mobil, jalan ke sumber kemacetan, cari tahu, dan cari solusi.

tp adakah yg mau berkorban sebegitunya? memilih berpanas-panas di jalan ketimbang dinginnya AC mobil?

sepertinya tidak..

Gaffari said...

Untuk kasus Carlos:

Pertama, bagaimana dengan Akbar Tanjung yang merupakan pemain politik dan kemudian mencoba menyelsaikan disertasi doktornya dalam bidang politik. Di situ Ia membahas mengenai peran dan bagaimana kelompok-kelompok dalam tubuh golkar mewarnai kiprah di belakang partai itu. Di sini, Akbar Tanjung menempatkan sebagai akademisi yang harus bersikap objektif. Namun, pengalamannya sebagai politisi di Golkar tentu lebih memperkaya pemikiran dan lebih menjiwai ilmu politik itu seperti apa.

Kedua, tanpa pernah merasakan kemacetan, seperti halnya tidak merasakan politik praktis dan terus-menerus berada di garis luar, tentu saja bagaimana cara seseorang menjiwai apa politik itu dipertanyakan. Seperti halnya bagaimana kita berbicara bagaimana membuat kebijakan mengurangi kemacetan tanpa pernah merasakan kemacetan lalu lintas. Dalam politik, yang bermain tak cuma teori, namun juga seni memainkan segala kemungkinan. Jadi, yang mengerti betul politik sebagai ilmu, bukan jaminan akan mampu berkiprah lebih baik dalam praktiknya. Lihat saja dosen-dosen Ilmu Politik dalam lembaga KPU periode yang lalu. Bukankah mereka cukup lama di atas helikopter seperti apa yang Carlos analogikan?