Wednesday, October 24, 2007

ASEAN Community: Mau Ke Mana?


Menarik sekali mengikuti berita seputar keadaan negara-negara anggota ASEAN. Menyetuh usianya yang ke 40 ternyata belum banyak memberikan jaminan akan semakin matangnya organisasi ini dalam membangun kredibilitasnya.
Membicarakan hal ini saya teringat ketika mengikuti stadium general mengenai ASEAN Security Community yang diselenggarakan Departemen Hubungan Internasional FISIP UI waktu saya masih di tingkat dua FEUI. Waktu itu pembicaranya adalah juru bicara Departemen Luar Negeri RI saat itu, Marty Natalegawa, yang saat ini menjadi Duta Besar Indonesia untuk Inggris. Untuk mengenai bagaimana pilar-pilar menunju ASEAN Security Community bisa dilihat di sini.

Namun, yang menggelitik saat acara itu berlangsung adalah asumsi yang dikatakan oleh pembicara, di mana saya katakan mungkin terlalu simplistik. Menurut Marty, dengan mampu menjaga tidak terjadinya konflik—dalam hal ini perang—antar sesame negara ASEAN dalam kurun waktu 5-10 tahun, adalah asumsi yang mesti dipenuhi untuk mencapai ASEAN Security Community. Kemudian, saat itupun saya tergerak untuk mengajukan pertanyaan dan mungkin semacam ketidaksepakatan apa yang dikatakan oleh pembicara. Baiklah, mungkin bisa saja memang tidak terjadi adanya konflik antar sesama negara ASEAN. Namun, bagaimana dengan konflik yang terjadi di dalam masing-masing Negara ASEAN itu sendiri?
Mungkin masyarakat di ASEAN tidak sehampir homogen masyarakat di Eropa, dan secara ideologi pun negara-negara ASEAN lebih beragam.

Lihat saja apa yang terjadi saat ini di beberapa negara ASEAN. Pada tahun 2006, militer Thailand melakukan kudeta terhadap pemerintahan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra. Kemudian tahun 2007 ini, di mana titik kulminasi arogansi junta militer Myanmar semakin menunjukkan kedigdayaannya, dengan bermula dari penolakan hasil pemilihan umum yang menghasilkan Aung San Suu Kyi sebagai pemenang di tahun 1990 oleh junta militer. Selain itu, konflik atau problematika antar negara sesama anggota ASEAN yang terkait dengan seputar masalah ekonomi, perbatasan wilayah atau territorial, ketenagakerjaan, serta faktor-faktor non-ekonomi seperti sosial dan budaya masih saja berlangsung. Lihat saja mengenai apa yang terjadi antara Malayasia dan Indonesia saat ini, bahkan masih saja berputar-putar pada konflik mengenai hak cipta.

Mungkin benar seperti apa yang dikatakan Emil Salim saat mengomentari peran ASEAN selama 40 tahun ini. Ia mengatakan bahwa ASEAN hingga saat ini hanyalah melaksanakan fungsi-fungsi kehumasan. Layaknya hanya sebagai public relation negara-negara ASEAN, belum sebagai organisasi yang kredibel dalam melakukan perannya menciptakan iklim yang kondusif di kawasan ASEAN. Belum lagi, ASEAN seperti sedang mengalami krisis kepemimpinan, tak ada satupun negara ataupun tokoh di antara anggota-anggota ASEAN sendiri yang bisa me-leading dan menyatukan langkah mencapai apa yang dicita-citakan insitusi ini sendiri. Di sisi lain, Cina, India, dan Jepang mulai ingin memberikan pengaruh di wilayah ini, tentu saja untuk kepentingan market mereka yang lebih besar lagi. Selanjutnya, mau ke mana ASEAN ini?

No comments: