Tuesday, October 30, 2007

The Market for Oranges

Pada suatu waktu, kepuasan hidup hanya ditentukan oleh kepemilikan buah apel dan buah jeruk. Anggaplah ada seorang wanita yang hanya memiliki 5 buah apel dengan buah jeruk yang sangat banyak. Dengan keadaan seperti ini, hanya penambahan buah apel yang menyebabkan kepuasan hidupnya bertambah.

Kemudian datang seorang pria, dengan 40 buah apel dan 10 buah jeruk. Anggaplah bagi pria ini, sebuah jeruk akan sama nilainya dengan 4 buah apel.

Sang pria mengetahui bahwa wanita memiliki banyak buah jeruk. Dengan informasi ini, sang pria menawarkan wanita tersebut sebuah pertukaran antara 4 buah apel miliknya dengan 20 buah jeruk milik sang wanita.

Tentu saja, jika sang wanita menyetujui pertukaran ini maka kepuasan hidup masing-masing dari mereka akan meningkat.

Pertanyaannya, apakah sang wanita akan menyetujui pertukaran ini? Jawabannya: sebagai seorang wanita yang rasional dia pasti akan menyetujuinya!

Selain persetujuan itu, yang lain dan pasti lagi adalah cerita ini tidak berakhir disini.

Bagaimana jika buah jeruk tersebut saya analogikan sebagai perasaan manusiawi, yaitu bahwa wanita adalah mahluk yang berperasaan, bahwa perasaan melimpah dalam dirinya (relatif dibandingkan pria) begitu juga buah jeruk.

Maka dalam awal hubungannya dengan seorang pria, untuk meningkatkan kepuasan hidupnya, wanita akan sangat mungkin mengorbankan perasaannya (buah jeruk)—yang melimpah itu—demi buah apel (terlepas kepada apapun buah apel tersebut di-analogikan).

Sedemikian sehingga, pria tidak akan pernah meremehkan arti sebuah buah jeruk.

4 comments:

Gaffari said...

Chaikal...apel sm jeruk itu gak comparable..gak apple to apple...

Letjes said...

bung gaf, saya kira chaikal tidak memperbandingkan apel dan jeruk. tools yg digunakan oleh bung chaikal adalah fungsi utilitas, dengan pilihan apel dan jeruk.

bung chaikal, sy kira ada kesalahan teknis dlm analisis anda. klo gk slh, bila dispesifikkan, anda menggunakan analisis diminishing marginal return: "untuk meningkatkan kepuasan hidupnya, wanita akan sangat mungkin mengorbankan perasaannya (buah jeruk)—yang melimpah itu". pdhl ketika jeruk dikorbankan banyak untuk mendapatkan tambahan apel, bukan berarti kepuasan bertambah. dia tetap pada utilitas yg sama. bukan begitu bung chaikal?

Letjes said...

ralat comment di atas: analisis seharusnya diminishing marginal rate of substitution

Chaikal said...

dari kutipan tersebut memang sangat bisa ditafsirkan seperti itu, saya tidak bisa menyalahkan anda...

substitusi jika dilakukan seorang diri memang jatuhnya ke marginal rate of substitution, tetapi cerita ini sudah masuk ke dalam 'trade' maka secara implisit dan eksplisit:

1. pada setiap kasus trade, setiap pihak belum berada pada kepuasan (utilitas) maksimumnya. mereka tidak bisa merubah kombinasi kepemilikan dengan sendirinya. hanya dengan trade mereka bisa melakukan itu.

2. Penawaran pria sebesar 4 apel untuk 20 jeruk sebenarnya cuma bikinan gw aja atau pada kesimbangan trade: pria (36 apel, 30 jeruk) dan wanita (9 apel, sangatbanyak-20 jeruk)

Kalo gak salah, angka yang seharusnya (yang menjadi keseimbangan trade) adalah wanita akan menyerahkan seluruh perasaannya (nol jeruk) dan pria akan menyerahkan seluruh apelnya. tapi keseimbangan ini gak lucu aja karena kurang logis, masa wanita jadi gak punya perasaan??

3. Untuk membatasi keseimbangan yang tidak logis itu terjadi, maka wanita dalam kasus ini sebaiknya memiliki cukup banyak jeruk saja (tidak banyak-banyak banget). dan kepuasan hidupnya masih bisa meningkat dengan menambah jeruk.

4. semua modifikasi diatas akan membuat cerita lebih konsisten dengan teori, tapi kayaknya jadi kurang menarik (kehilangan unsur hiperbolis), he3..


ok, gitu aja dulu deh ya, sejujurnya gw juga jadi pusing sekarang.. dan gw sama bingungnya ma fajar kalo bikin grafik. Gw minta tolong ma lu tjes, anggap aja ujian mikro2, soalnya: a. cari dan gambarkan keseimbangan trade yang terjadi! b. posting di-blog!